Tambang Batu Hutagaol-Peatalun Resmi Ditutup

  • Bagikan

Tobasa, BatakToday –

Tambang batu ilegal Desa Hutagaol-Peatalun Kecamatan Balige yang telah beroperasi puluhan tahun akhirnya resmi ditutup Pemerintah Kabupaten Toba Samosir. Proses penutupan tambang batu ilegal itu melibatkan unsur pemerintah daerah, kepolisian, anggota DPRD, pejabat terkait, aktivis dan masyarakat Desa Hutagaol-Peatalun dan Simarmar.

Kesepakatan penutupan  tambang batu tersebut dilakukan  pada pertemuan Pemkab Tobasa dengan Kapolres Tobasa dengan agenda pembahasan kegiatan pertambangan tanpa ijin di Desa Hutagaol-Peatalun dan Desa Simarmar Kecamatan Balige,  di ruangan Staf Ahli Bupati Toba Samosir, Senin (7/9/2015).

Pertemuan antara lain diikuti oleh Pelaksana Harian Bupati Toba Samosir Audi Murphy Sitorus, Kapolres Tobasa AKBP Jidin Siagian, anggota DPRD Kabupaten Tobasa, para Asisten, Kepala SKPD terkait, Camat Balige Sahala Siahaan, Kepala Desa Hutagaol-Peatalun Edison Hutagaol, serta perwakilan masyarakat Desa Hutagaol-Peatalun dan Simarmar.

Anggota DPRD yang hadir diantaranya Sahala Tampubolon, Resman Marpaung, Binner Tambunan, dan Usden Sianipar.

Sedang pimpinan SKPD terkait yang menghadiri pertemuan antara lain Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Tobasa Alden Napitupulu, Kepala Badan Perijinan Terpadu dan Penanaman Modal Tito Siahaan, Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Pertambangan Parulian Siregar, dan Kepala Satpol PP Elisber Tambunan.

Inti kesepakatan, dengan adanya pro-kontra di antara sesama warga desa Hutagaol-Peatalun dan Simarmar Kecamatan Balige terkait penambangan batu, maka kegiatan penambangan dihentikan mulai hari Senin (7/9/2015). Jika ada pihak yang melakukan penambangan, akan ditangkap dan selanjutnya akan diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Selanjutnya apabila ada pihak yang ingin membuka kegiatan penambangan, agar dilakukan musyawarah secara damai untuk menghindari terjadinya perpecahan sesama warga. Untuk itu apabila ada minat masyarakat untuk membuka dan mengurus ijin usaha pertambangan, maka terlebih dahulu harus ada kesepakatan dari seluruh warga masyarakat Desa Hutagaol-Peatalun dan Simarmar. Jika belum ada surat resmi kesepakatan dari masyarakat kedua desa, maka ijin tidak akan dikeluarkan.

Dua srikandi Desa Hutagaol-Peatalun, Marli Sihombing dan Periana Hutagaol, yang selama bertahun-tahun memimpin perjuangan untuk penutupan tambang, mengaku sangat senang atas ditutupnya tambang batu ilegal yang telah beroperasi selama puluhan tahun dan telah banyak memakan korban itu.

“Kami merasa senang atas ditutupnya tambang batu itu. Perjuangan kami selama empat tahun ini ternyata tidak sia-sia. Selama perjuangan kami telah banyak mendapat tantangan dan  ancaman dari berbagai pihak. Namun karena perjuangan kami sangat beralasan, kami tetap berjuang tanpa rasa takut,” kata Marli Sihombing kepada Batak Today, Selasa (22/9) di Balige.

Marli Sihombing yang didampingi Periana Hutagaol menjelaskan, perjuangan yang mereka lakukan telah banyak mengorbankan materi maupun moril. Namun perjuangan itu tidak sia-sia karena tambang batu tersebut akhirnya resmi ditutup pemerintah.

Alasan perjuangan kedua srikandi bersama masyarakat kedua desa, selain karena telah banyak menelan korban nyawa, juga karena keberadaan tambang ilegal telah mengakibatkan degradasi lingkungan, kerusakan irigasi Sibongbong, infrastruktur jalan, bahkan pro-kontra atas keberadaan tambang telah mengganggu hubungan kekerabatan di antara sesama warga masyarakat Desa Hutagaol-Peatalun.

“Bukan hanya kerusakan lingkungan dan infrastruktur yang terjadi, tetapi tatanan kemasyarakatan maupun tatanan kekerabatan, dan adat istiadat di Desa Hutagaol-Peatalun juga telah rusak akibat adanya pro dan kontra,” tandas Marli Sihombing yang sehari-hari bekerja sebagai tukang jahit pakaian wanita itu.

“Sesungguhnya pemerintah jauh-jauh hari harus tanggap dalam mengatasi persoalan ini. Karena pemerintah selama ini terkesan kurang tegas untuk menutup tambang batu ini, akibatnya berdampak terhadap kehidupan warga,” ujar Periana Hutagaol menguatkan.

Namun kedua aktivis perempuan ini tetap mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Toba Samosir, Kapolres Tobasa, DPRD Tobasa dan pihak lainnya yang telah bersedia memberikan perhatian dalam upaya penutupan aktivitas tambang batu di Desa Hutagaol-Peatalun.

“Dengan ditutupnya tambang batu ilegal di desa kami itu, maka kami yakin desa kami dalam waktu dekat akan bangkit kembali seperti dahulu sebagai lumbung padi,” tandas Merli Sihombing dan diamini Periana Hutagaol.

Sebelum terjadinya kerusakan Irigasi Sibongbong akibat penambangan ilegal, persawahan Sipege seluas 250 hektar di Desa Hutagaol-Peatalun terkenal sebagai lumbung padi di Kabupaten Toba Samosir. (AP)

 

Keterangan Foto :

Lokasi tambang batu ilegal di Desa Hutagaol-Peatalun Kecamatan Balige saat ditinjau oleh pejabat Pemkab Tobasa.

  • Bagikan