Polres Langkat Diduga Petieskan Kasus Mafia Mangrove

  • Bagikan

Langkat, BatakToday-

Kinerja Kepolisian di Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara, saat ini mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak, karena sejumlah kasus yang dilakukan para mafia perambah hutan mangrove diduga sengaja dipetieskan institusi tersebut.

“Kasus tindak pidana oleh para mafia mangrove yang dengan leluasa merambah hutan lindung di pesisir pantai Kabupaten Langkat tersebut hingga kini tidak jelas penanganannya,” ujar Abu, pemerhati mangrove di Desa Pekan Sawah, Minggu (11/10).

Menurutnya tindak pidana berupa perusakan lingkungan yang dilakukan Aling, seorang warga turunan yang telah merubah sekitar 100 hektar hutan mangrove menjadi lahan perkebunan sawit di Desa Pasar Rawa, Kecamatan Gebang, sudah tidak bisa ditolerir lagi dan perlu dilakukan upaya pencegahan agar perambahan tidak meluas lagi.

Memang sebelumnya, kasus perambahan hutan bakau itu sempat terendus aparat kepolisian Polres Langkat, bahkan mereka sempat mengamankan alat berat excavator sebagai barang bukti.

“Sangat disayangkan, kenapa aparat kepolisian menghentikan kasus terebut, padahal sudah jelas-jelas melanggar hukum,” keluh Abu.

Dijelaskannya, salah satu penyebab rusaknya habitat mangrove di pesisir pantai Kabupaten langkat akibat ketidakseriusan pemerintah dalam mengatasinya, termasuk lemahnya aparat kepolisian dalam proses penegakan hukum.

Abu menambahkan, kasus pelanggaran yang dilakukan para mafia mangrove tersebut seolah tidak digubris dan tidak ditindak lanjuti, karena sepertinya mengendap di Unit Reserse Kriminal saat itu dijabat AKP Rosid.

“Kuat dugaan, kasus ini sengaja dipetieskan oleh petugas untuk meraup keuntungan. Jangankan ditahan, alat berat milik pelaku Aling juga dilepas dengan alasan yang tidak jelas,” katanya.

Sementara itu, sejumlah masyarakat yang mengaku merasa resah mengingatkan aparat Polres Langkat agar segera menindak lanjuti laporan yang mereka buat sebelumnya.

Ida beserta Acin, warga Alur Berayun, Gang Sepakat, perwakilan nelayan yang melaporkan mafia perusak lingkungan itu menyebutkan, pihaknya akan terus menyuarakan hingga para mafia mangrove dihukum seberat-beratnya.

Sebab, mereka yang menetap di pesisir pantai dan kebanyakan berprofesi sebagai nelayan itu merasa takut, jika sewaktu-waktu terjadi bencana alam yang menimpa akibat adanya abrasi. “Jika hal tersebut dibiarkan terus, kami bisa mati kelaparan karena susah mencari ikan. Karena umumnya ikan dan biota alam berkembang biak di hutan mangrove,” kata Ibu Ida diamini para nelayan, saat mendatangi Polres Langkat, Sabtu (26/9). (lud)

Keterangan foto:

Aksi penanaman pohon mangrove oleh masyarakat pesisir Kabupaten Langkat di Lubuk Kertang, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, Kamis (8/10).

  • Bagikan