Pinggan Sapa: Kisah Kebersamaan Keluarga Batak yang Nyaris Punah

  • Bagikan

Medan, BatakToday

Kemajuan teknologi  dan perkembangan zaman dalam menggunakan peralatan makan ternyata belum mampu menggeser eksistensi peralatan tradisional pinggan sapa, yakni  sejenis piring dari kayu nangka tempat nasi untuk makan bersama sekeluarga.

Kebiasaan  menggunakan peralatan makan tradisional pinggan sapa, hingga saat ini ternyata masih diminati penduduk kota besar seperti Torang MT Sitorus, pemilik Loom Galery di Jalan Sultan Hasanuddin Medan, Sumatera Utara, setiap kali menjamu tamunya.

“Saya ingin mengajak kita semua kembali ke masa lalu, tentang bagaimana kebiasaan nenek moyang pada zaman dulu kala ketika acara makan sekeluarga,” ujar Torang, mengajak sejumlah undangan untuk bersantap bersama dalam salah satu acara diskusi budaya  di Medan, Rabu (21/10).

Torang mengaku, pinggan sapa yang dimilikinya tidak lagi tergolong barang baru, melainkan merupakan koleksinya dari masa lalu, namun masih tetap dirawatnya sehingga bisa digunakan dengan baik sampai sekarang.

Istilah sapa, atau sapanganan adalah identifikasi dari keadaan makan bersama dari pinggan yang sama. Sapanganan sendiri memiliki makna yang lebih luas, sebutan yang lazim digunakan untuk menyebutkan kaum kerabat atau keluarga dekat.

Para peserta diskusi jamuan makan siang yang diundang Torang, tidak seperti lazimnya dengan hidangan masakan yang biasa ditemukan di restoran maupun hotel-hotel berkelas, disuguhi makanan khas orang Batak, seperti ikan mas arsik, bagot ni horbo (susu kerbau yang diolah menjadi makanan berbentuk tahu, red) yang dihidangkan di atas pinggan sapa.

Disainer ulos yang berasal dari kota Medan ini  menjelaskan, pinggan sapa merupakan wadah makanan yang akan disantap bersama seluruh anggota keluarga atau tamu kehormatan.

Ukuran pinggan itu relatif besar jika dibandingkan piring yang biasa digunakan sekarang. Uniknya, seluruh anggota keluarga menyantap makanan secara bersama-sama dari satu pinggan pasu.

Seorang peserta diskusi, Enni Martalena Pasaribu menyebutkan, bagi generasi muda sekarang, penggunaan pinggan sapa itu mungkin merupakan hal yang aneh dan lucu.

Namun, kata dia, sebagai pecinta budaya dan pegiat ulos, jamuan makan siang yang dihadirinya menjadi pengalaman yang memiliki kesan tersendiri, karena telah mengingatkan kenangan masa silamnya  di masa kanak-kanak puluhan tahun yang lalu.

Ia mengaku, pola makan menggunakan pinggan pasu, sangat baik dilestarikan dan diangkat kembali untuk mengajarkan pengamalan kebersamaan bagi generasi muda, sekaligus agar mereka mengenal jati dirinya sebagai orang Batak.

“Dulu, kami sekeluarga masih sempat mengalami makan bersama dari sapa, dan kenangan masa lalu itu jadi teringat kembali,” ujar Enni mengenang masa silamnya. (AFR)

Keterangan foto:

Disainer Torang MT Sitorus bersama undangan acara diskusi budaya, makan bersama dari pinggan sapa di Loom Galery Jalan Hasanuddin Medan, Rabu (21/10)

  • Bagikan