Instalasi ‘Sawan Pangurasion’ Mangatas di Jong Bataks Arts Festival

  • Bagikan
1. Mangatas Pasaribu saat menjelaskan instalasi Sawan Pangurasion yang ditampilkannya di Jong Bataks Arts Festival 2015 di Taman Budaya Sumatera Utara, Rabu (28/10).

Medan, BatakToday-

Selain menyajikan karya seni budaya, hari kedua Jong Bataks Arts Festival 2015 yang digelar Rumah Karya Indonesia di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU) Medan juga menjadi ajang menyampaikan pesan kegalauan tentang masa depan bangsa ini. Hilangnya rasa malu dinilai menjadi penyebab banyaknya pejabat publik yang masuk penjara.

1.Mangatas Pasaribu saat menjelaskan instalasi Sawan Pangurasion yang ditampilkannya di Jong Bataks Arts Festival 2015 di Taman Budaya Sumatera Utara, Rabu (28/10).
1. Mangatas Pasaribu saat menjelaskan instalasi Sawan Pangurasion yang ditampilkannya di Jong Bataks Arts Festival 2015 di Taman Budaya Sumatera Utara, Rabu (28/10).

Untuk mengekspresikan keprihatinannya, budayawan Mangatas Pasaribu menampilkan instalasi Sawan Pangurasion (Ruwat). “Bangsa kita saat ini butuh ini (manguras), supaya tidak banyak lagi yang masuk ke penjara,” ujarnya.

Manusia, lanjutnya, adalah ciptaan Tuhan yang paling mulia. Tapi manusia justru kerap melakukan kesewenangan, keserakahan bahkan menjadi budak hawa nafsunya.

Mangatas menggelar kreasi instalasinya di atas hamparan kain hitam sekitar 9 meter persegi, di atasnya disusun masing-masing 9 cermin dan cawan berisi jeruk purut yang ditata sedemikian rupa. Di atas masing-masing cermin diletakkan daun beringin berikut tangkainya. Di barisan berikutnya diletakkan tiga piring dengan warna berbeda. Dari kiri ke kanan, pada piring warna putih ditaruh pistol, warna merah ditaruh pisang, dan warna hitam ditaruh uang pecahan logam.

“Sementara di sana ada kurungan bebek, melambangkan penjara. Jadi saya letakkan ulos disana, agar jangan lagi kita masuk ke kurungan itu,” terangnya.

Piring warna putih berisi pistol disebutkannya, agar kiranya pemegang kekuasaan di negara ini tidak lagi sewenang-wenang. Kemudian piring warna merah dengan pisang melambangkan hawa nafsu, kiranya pejabat bahkan siapapun tidak mau lagi diperhamba hawa nafsu birahinya. Dan piring hitam berisi uang koin, dengan harapan kekayaan yang diberikan Tuhan agar digunakan sebaik-baiknya, bukan untuk keserakahan.

2.Instalasi Sawan Pangurasion Mangatas Pasaribu.
2. Instalasi Sawan Pangurasion Mangatas Pasaribu.

“Kini hutan dirusak, dibakar. Kita semua merasakannya, itu bentuk keserakahan dan salah menggunakan wewenang. Jadi kita perlu diuras,” ujarnya.

Sangat disayangkan, kata Mangatas, kini manusia tidak lagi memiliki rasa malu. “Tak ada rasa malu. Kesewenang-wenangan terjadi dimana-mana,” ujar Mangatas.

Kemudian dijelaskannya, cermin merupakan bentuk refleksi kehidupan. Bagaimana seseorang saat bercermin, jika dia jauh dari cermin maka bayangannya akan semakin jauh. “Demikian halnya antara manusia dengan Tuhan. Jika semakin menjauh dari Tuhan, maka akan semakin jauh dari kodratnya sebagai manusia,” terang Mangatas.

Sembilan cawan juga memiliki arti tersendiri. Masyarakat Batak khususnya tidak pernah memandang angka genap. Pada zaman dahulu, jumlah anak tangga rumah yang selalu ganjil menunjukkan status sosial penghuni rumah tersebut.

Juga ditekankannya, instalasi yang dibuatnya merupakan wujud pemikiran dan harapannya terhadap bangsa ini. Makna sembilan jeruk purut adalah untuk mamangir atau membersihkan tubuh dari berbagai jenis ketidakpantasan. “Ini bukan penyembahan berhala, tetapi sebagai lambang saja,” tegas Mangatas. (AFR)

 

  • Bagikan