Tidak Jelas, Hulu dan Hilir Drainase Pasar Porsea

  • Bagikan

Toba Samosir, BatakToday

Pasar Porsea di Kabupaten Toba Samosir jorok dan kumuh. Seluruh parit pasar tersumbat sampah sehingga tergenang air. Pedagang menduga ada kesalahan dalam konstruksi parit, karena tidak jelas hulu dan hilirnya.

“Selama ini air di parit ini tidak pernah kering, walaupun musim kemarau. Lihat aja, mana tahu kita mana hilir mana hulu parit ini,” kata salah seorang pedagang sayur-mayur yang setiap hari jualan di pasar tersebut, Sabtu (21/11).

Pedagang yang mengaku boru Sirait ini menyebutkan, luapan air parit yang berwarna hitam dan bau itu sudah hal biasa bagi mereka, dan terpaksa mereka terima.

“Apalagi musim hujan, pasar ini selalu tergenang dan becek membuat pembeli enggan datang ke sini. Mungkin karena itulah banyak pedagang pindah berjualan di sepanjang jalinsum itu. Kami sendiri yang tetap bertahan di sini menanggung rugi akibat pembeli sedikit,” kata boru Sirait, ditemui Sabtu (21/11).

Senada disampaikan boru Panjaitan, pedagang yang bersebelahan dengan boru Sirait ini, mengaku kecewa terhadap pembangunan Pasar Porsea yang saat ini sedang berjalan.

Soalnya, kata boru Panjaitan, pasar yang dibangun saat ini akan menutup akses ke ruang lapak dagangan mereka, karena akan dibangun tembok balairung pasar dengan ketinggian kurang lebih 6 meter.

“Sebelum dibangun pun balairung ini, parit pasar ini tidak berfungsi, apalagi setelah dibangun. Lihat saja sendiri, kemanalah nanti air parit ini mengalir. Ini saja sudah tersumbat,” ujar boru Panjaitan.

Salah seorang warga Uluan, J Sirait mengatakan, kondisi Pasar Porsea yang kumuh, jorok dan bau itu, karena lemahnya pengawasan dan perhatian Dinas Pasar Kabupaten Toba Samosir.

“Mereka tahunya meminta retribusi saja, sementara tanggung jawab mereka atas kebersihan dan keindahan pasar diabaikan,” gerutu Sirait.

Sirait juga menyesalkan ketakbecusan Dinas Perindagkop Toba Samosir selaku satuan kerja dan menangani pembangunan pasar-pasar tradisional di Tobasa.

“Dinas Perindagkop tahunya hanya meletakkan dan membangun pasar tanpa perencanaan yang baik,” tandasnya.

Dikatakannya, konsultan perencana pembangunan pasar tradisional Porsea tersebut dia pastikan adalah konsultan abal-abal.

“Mereka asal bangun saja itu pasar, tanpa memikirkan pengaturan pengaliran air parit Pasar Porsea,” ujar Sirait.

Sirait mengatakan, sampai kapan pun keadaan Pasar Porsea ini tetap akan kumuh dan jorok, karena air akan tetap tergenang di dalam parit tersebut.

“Ke mana pembuangan air dari parit, sementara tidak ada hilir maupun hulunya,” katanya, seraya menyindir pemerintah telah berhasil memelihara dan membudidayakan nyamuk di sekitar Pasar Porsea.

Lurah Porsea, Eduard Sidabutar ketika dikonfirmasi di sekitar Pasar Porsea, mengaku sangat prihatin melihat kondisi Pasar Porsea yang terlihat kumuh, jorok dan penuh dengan genangan air dalam parit.

Dia juga menyesalkan para pedagang yang selalu membuang sampah sembarangan ke dalam parit.

“Kesadaran para pedagang dan pembeli juga sangat berpengaruh untuk menjaga kebersihan dan keindahan pasar ini,” kata Eduard.

Terkait kebersihan dan tumpatnya parit di sepanjang Pasar Porsea, Eduard mengaku sudah sering mengeluhkannya kepada petugas Dinas Pasar dan Kebersihan Kabupaten Toba Samosir.

Eduard mengatakan, untuk membersihkan sampah dan tumpatnya parit di pasar, pihaknya bersama Dinas Pasar dan Kebersihan beserta pemuda setempat pada awal Desember ini atau menunggu selesai pembangunan pasar, berencana melakukan gotong royong massal.

“Gotong royong massal ini sudah kita koordinasikan dan sudah kita agendakan. Mudah-mudahan dengan aksi gotong royong massal ini, para pedagang maupun pembeli sadar akan pentingnya kebersihan,” tandas Eduard. (AP)

Foto: Parit Pasar Porsea tampak tergenang air dan dipenuhi sampah, dan menjadi sarang nyamuk.  (bataktoday/ap).

  • Bagikan