Marandus Lelang Piagam UGM Awards untuk Dana Konservasi Lingkungan

  • Bagikan

Medan, BatakToday

Penerima piagam UGM Awards kategori penyelamat lingkungan, Marandus Sirait, berhasil melelang penghargaan dengan komponen emas 20 gram itu senilai Rp 20.100.000 pada acara Inspirasi Pagelaran Seni Budaya dan Dinner Meeting untuk konservasi alam Kawasan Danau Toba, Marandus Sirait. Lelang dimenangkan dimenangkan mantan Ketua PWI Fauzi Usman.

Acara yang bertajuk ‘Hijaukan Emas, lebih baik menanam sebatang pohon di alam terbuka daripada menyimpan sebatang emas di lemari besi terkunci’ itu digelar di Restoran Kenanga Garden, Jl Jamin Ginting, Medan, Sabtu (21/11).

Fauzi Usman saat menerima medali UGM Awards milik Marandus Sirait setelah memenangkan lelang senilai Rp 20.100.000. (bataktoday/afr)
Fauzi Usman saat menerima medali UGM Awards milik Marandus Sirait setelah memenangkan lelang senilai Rp 20.100.000. (bataktoday/afr)

Pada acara tersebut, turut dilelang pin emas logo DPRD Sumut milik Sarma Hutajulu yang terjual dengan harga Rp 6 juta kepada Batara Sinaga, dan Ulos Gobar yang ditenun siswa/siswi SMA Negeri Silalahi senilai Rp 4,2 juta kepada Uli Marbun.

Dana yang terkumpul pada acara tersebut disumbangkan untuk konservasi lingkungan, khususnya Kawasan Geopark Nasional Kaldera Toba. Selain hasil lelang, panitia juga mendapat sumbangan dana spontan dari undangan, namun panitia masih menghitung jumlah dana tersebut.

Marandus mengungkapkan, medali miliknya itu selama dua tahun terakhir diagunkan di Pegadaian untuk pinjaman dana penghijauan yang dilakukannya. Untuk itulah, pihaknya mengajak siapapun yang perduli lingkungan agar memberikan perhatian, walau sekecil apapun akan bermanfaat.

Turut hadir, penerima kalpataru 2009 Hasoloan Manik, yang mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah, yang memiliki dana dan kekuatan besar untuk pengelolaan lingkungan tapi tidak melakukannya.

“Anak istri kami harus terlunta-lunta karena ancaman dari perusak lingkungan. Apabila ada orang yang melakukan penebangan pohon secara ilegal, kita selalu membuat mereka tidak nyaman. Tapi alangkah indahnya, kita tetap selamat jika kita tetap bergandengan dengan alam,” ujar Hasoloan.

Menurutnya, Danau Toba hanya akan menjadi kubangan jika tidak dilakukan pencegahan berlanjutnya perusakan lingkungan.

“Saat ini danau sudah menjadi peternakan. Bagi kehidupan masyarakat Batak, peternakan dibuat di belakang rumah. Apa pantas kita berharap kedatangan orang lain di bagian belakang rumah?” ujarnya.

Pada kesempatan itu Marandus mengatakan, lewat seni bisa bicara tanpa kata-kata dan menyampaikan pesan tanpa tulisan. “Kami mengajak siapapun untuk peduli lingkungan. Mari memperbaiki lingkungan,” ujarnya

Kegiatan seni yang digelar mulai dari Tortor Gotilon dari SMKN 1 Lumbanjulu, Koor yang dipersembahkan Boru Batak Sedunia, lantunan lagu dari Band Hepata Laguboti, Sanggar Seni Taman Eden 100, Sanggar Budaya Garpen, Pitta Rose Girsang, dan Sanggar Inspirasi The Giver Vision.

Sarma Hutajulu pada kesempatan itu mengatakan, saat ini banyak kelompok yang menyatakan dirinya pecinta Danau Toba dengan menggelar seminar di hotel-hotel mewah, namun tanpa ada tindakan nyata.

“Diskusi di hotel-hotel, wacana dijadikan Monaco, tapi pengrusakan lingkungan terus terjadi di Danau Toba,” ujarnya. Ia juga mengklaim, kegiatan yang didukungnya tidak bekerjasama dengan korporasi perusak lingkungan.

Terlihat hadir pada acara tersebut, penerima Kalpataru tahun 2002 Ngangkat Tarigan, wakil ketua DPRD Simalungun Rospita Sitorus, pegiat pariwisata dan lingkungan Murni Huber, pencinta ulos Enni Martalena Pasaribu, dan sejumlah tokoh lainnya. (AFR)

Foto: Siswa-siswi SMA Negeri 1 Lumbanjulu menggelar Tortor Gotilon pada acara Inspirasi Pagelaran Seni Budaya dan Dinner Meeting untuk Konservasi Alam Kawasan Danau Toba di Restoran Kenanga Garden, Jl Jamin Ginting, Medan, Sabtu (21/11). (bataktoday/afr)

  • Bagikan