Menteri Yohana Yembise: Hilangkan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak

  • Bagikan

Pematang Siantar, BatakToday

Meski sudah ada regulasi yang mengatur dan memberi sanksi terhadap perlakuan diskriminatif terhadap perempuan dan anak, tetapi kekerasan terhadap keduanya tetap tinggi. Padahal, kampanye maupun sosialisasi dalam berbagai bentuk terus diupayakan pemerintah bersama lembaga-lembaga pemerhati, termasuk lembaga pendidikan maupun gereja.

Untuk itu, semua pihak harus bersepakat dan gencar memikirkan upaya strategis untuk menghilangkan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tidak boleh lagi ada kekerasan terhadap perempuan dan anak. Apalagi, jumlah anak di Indonesia mencapai 87 juta orang dari 250 juta penduduk yang merupakan pewaris masa depan bangsa.

Hal itu disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise, saat memberikan wejangan di hadapan sekitar 12 ribu jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) pada perayaan puncak Tahun Perempuan HKBP di Lapangan Sekolah Tinggi Theologia (STT) HKBP Jalan Sang Naualuh, Pematang Siantar, Minggu (29/11).

“Perempuan HKBP harus berperan menghilangkan kekerasan serta memberdayakan masa depan anak yang lebih cerah,” tegas Yohana.

Secara khusus, Menteri memberi apresiasi terhadap perempuan Batak yang dikenal gigih dan tanpa pamrih untuk mengedepankan pendidikan anak-anaknya.

“Saya banyak tahu tentang kiprah perempuan Batak di berbagai tempat dan lembaga, termasuk di tempat saya di Papua. Saya berharap, melalui momen perayaan ini, perempuan Batak semakin mampu mengembangkan potensinya dalam peran-peran strategis baik di eksekutif, yudikatif maupun legislatif,” ujarnya, disambut tepuk tangan meriah jemaat yang mayoritas adalah perempuan dan anak-anak.

Dalam rangka pemberdayaan perempuan, Ephorus HKBP Pdt Willem TP Simarmata, sepakat agar peranan kaum perempuan dapat terus ditingkatkan, termasuk dalam regenerasi kepemimpinan di HKBP.

“Untuk saat ini, di HKBP sudah ada perempuan yang jadi praeses maupun unit-unit lainnya. Ke depan, peran ini tentu akan semakin berkembang, mengingat saat ini di HKBP sudah banyak pendeta perempuan,” ujarnya di sela-sela penyampaian khotbah.

Pada bagian lain dari khotbahnya, Ephorus menekankan agar warga jemaat HKBP tidak terjebak terhadap “Illah Baru” yang belakangan kian mewabah, sebagai dampak perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi, ditambah lagi dengan mudahnya orang sekarang berputus asa serta memilih cara pintas untuk menyelesaikan masalahnya.

“Karena itu, saya berharap agar kita kembali kepada nilai kebenaran yang dari Tuhan, bukan dari kehendak manusia. Perubahan hanya bisa kita lakukan jika kita memulai dari diri kita sendiri,”ujarnya.

Ibadah Raya dihadiri Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Pdt Dr Henriette Lebang, perwakilan badan gereja luar negeri (Amerika, Korea Selatan, Filipina), Staf Ahli Gubernur Sumatera Utara Robertson Simatupang, Plh Walikota Pematangsiantar Donver Panggabean, para Praeses HKBP dari 28 Distrik se-Indonesia, serta perwakilan jemaat  yang datang dari seluruh Indonesia.

Ketua Panitia, Pdt Basaria Hutabarat mengatakan, rangkaian kegiatan dalam rangka tahun Perempuan HKBP telah dilakukan sejak awal tahun, dan puncaknya adalah ibadah raya yang berlangsung saat ini. Kegiatan tersebut di antaranya perlombaan paduan suara seluruh distrik, dan final perlombaan  digelar sehari sebelumnya (Sabtu, 28/11, red) di Aula FKIP Nommensen, dimenangkan Distrik Asahan Labuhanbatu.

Penampilan ‘Komitmen ber-HKBP’ dalam bentuk gerak dan liturgi oleh 4000 orang anak secara serentak di bawah asuhan Kepala Biro Zending, Pdt COR Silaban sangat memukau para jemaat, termasuk Menteri Yohana Yembise yang memberi apresiasi atas penampilan mereka. (rel)

Foto: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yembise, menyampaikan sambutan pada Perayaan Puncak Tahun Perempuan HKBP di Lapangan Sekolah Tinggi Theologia (STT) HKBP Jalan Sang Naualuh, Pematang Siantar, Minggu (29/11).

  • Bagikan