Polentyno Tuduh dr Petrus Gelapkan Dividen Rp 14 Miliar

  • Bagikan

Pematang Siantar, BatakToday

Setelah bebas dari penjara sebulan lalu, mantan direktur Rumah Sakit Horas Insani (RSHI) dr Polentyno Girsang, menuduh Direktur RSHI Siantar dr Petrus telah menggelapkan dividen (laba yang dibagikan kepada pemegang saham, red) Rp 14 miliar yang seharusnya dibagikan padanya.

Hal itu diutarakan Polentyno saat mendatangi Mapolres Pematang Siantar, Selasa (1/12), untuk mempertanyakan perkembangan kasus yang telah diadukannya itu, karena sampai saat ini polisi belum memproses pelaku.

Menurut Polentyno, dia telah membuat pengaduan atas kasus penggelapan dan penipuan saham RSHI yang dilakukan oleh dr Petrus dkk pada 27 Februari 2015 lalu. Polisi bahkan sudah melakukan penyelidikan pada 30 Maret 2015.

Ditambahkannya, dia mengaku cuma sekali mendapatkan dividen pada tahun 2010 sebesar Rp 139 juta, sedang sisanya belum dibayarkan pihak RSHI.

“Cuma sekali saja saya mendapat dividen tahun 2010, yang dibagi awal bulan tahun 2011. Itupun hanya Rp 139 juta. Selain yang 139 juta itu, Mahkamah Agung juga telah memutuskan agar dr Petrus membayar dividen Rp 26 juta pada saya, tapi dr Petrus tak memberikannya waktu itu,” kata Polentyno.

Dia menyebut, jumlah pajak yang dibayarkan dr Petrus terhitung tahun 2007 hingga tahun 2010 mencapai Rp 7 miliar.

“Dengan perhitungan pajak 10 persen, maka kalau dia bayar pajak Rp 6,9 miliar berarti pendapatan rumah sakit mencapai Rp 69 miliar,” bebernya.

Dengan perhitungan itu, dia mengaku memiliki 21 persen saham di rumah sakit itu dan harusnya mendapatkan dividen Rp 14 miliar berdasarkan persentasi saham yang dia miliki.

“Tetapi itu tidak pernah diberikan. Dividen dari tahun 2011-2015 juga tidak pernah diberikan dengan alasan rugi. Bolak balik aku tagih. Terakhir sebelum aku masuk penjara lah. Tapi saat ditagih, dr Petrus bilang RSHI merugi,” terangnya.

Selain mengadukan dugaan penggelapan dividen, Polentyno juga mengadu dengan tuduhan penipuan. Soalnya, sejak tahun 2007 hingga tahun 2015, ditemukan ketidakbenaran dalam laporan pertanggungjawaban yang dibuat manajemen rumah sakit.

“Sekali setahun selalu ada rapat umum pemegang saham (RUPS), dan sesuai hasil audit yang dilakukan kantor akuntan publik, disimpulkan ada ketidakbenaran. Contohnya, pembelian obat, pembayaran panjar dokter sekian ratus juta, tapi semuanya tidak ada bukti,” terangnya.

Temuan ini, jelas Polentyno berdasarkan hasil audit yang dilakukan kantor akuntan publik Robinson Sulaiman.

“Robinson Sulaiman ini merupakan konsultan tetap Mabes Polri, dan yang memperkenalkannya pada saya adalah  Direktur Reskirm di Mabes Polri, Kombes Pratikno, dan audit dilakukan tahun 2012,” terangnya.

Dikatakannya, dugaan penipuan dan penggelapan ini sudah dilaporkannya ke Mapolres Pematang Siantar pada  27 Februari 2015 lalu.

“Tapi tadi pas kutanyakan perkembangannya, penyidik mengatakan bahwa perkara itu belum bisa ditingkatkan ke tingkat penyidikan karena kurangnya alat bukti,” kata Polentyno.

Sebab itu, Polentyno mengaku akan mempertanyakan hal itu langsung kepada Kapolres Pematang Siantar, AKBP Dodi Darjanto.

“Saya mau menghadap kapolres, mempertanyakan kenapa nggak jalan pengaduan itu,” tandasnya seraya mengaku Rabu (2/12) akan datang kembali ke Polres Pematang Siantar.

Terpisah ketika dihubungi melalui telepon seluler, dr Petrus enggan menanggapi pengaduan Polentyno.

“Sudah pusing saya menghadapinya. Sudah ada 50 kali dia mengadu,” katanya. (AB)

Foto:  Polentyno Girsang saat berada di Polres Pematang Siantar, Selasa (1/12). (bataktoday/ab).

  • Bagikan