Bintang Tarigan Tewas Usai Mabuk Tuak di Panombean

  • Bagikan

Simalungun, BatakToday-

Bintang Tarigan (44) warga Huta Sipinggan, Nagori Panombean, Kecamatan Panombean Panei, Kabupaten Simalungun, tewas setelah sebelumnya mabuk tuak, Minggu (13/12) pukul 02.00 WIB dini hari.

Duda tiga anak ini awalnya ditemukan tergeletak dengan kondisi luka koyak sepanjang 3 sentimeter di bagian kepala belakang, berjarak sekitar 100 meter dari lokasi sebuah kedai tuak.

Besli Situmorang, warga yang pertama kali menemukan Bintang. Saat itu, Besli berjalan kaki untuk membeli rokok ke salah satu warung tak jauh dari kedai tuak miliknya..

Melihat pria yang dia kenal itu terkapar di tanah, Besli pun bergegas mengabari warga. Tak lama, lokasi kejadian dikerumuni dan dipadati warga.

Setelah memastikan Bintang masih hidup, keluarga dan warga setempat memboyongnya ke bidan terdekat guna mendapat pertolongan.

Namun naas, akibat pendarahan hebat di bagian kepala, nyawa Bintang tak bisa tertolong dan menghembuskan nafas terakhir.

Semula keluarga tak mempermasalahkan kematian Bintang. Namun setelah diperoleh keterangan dari petugas Polsek Panei Tongah, bahwa korban tewas tak wajar, keluarga pun mendesak kepolisian mengusut motif kematian Bintang.

Untuk kepentingan penyelidikan, petugas Polsek Panei Tongah membawa jasad Bintang ke instalasi forensik RSUD Djasamen Saragih Pematang Siantar untuk dilakukan otopsi.

Ipda Binsar Manik dari Polsek Panei Tongah ditemui di seputaran ruang forensik mengatakan, awalnya keluarga tak mempersoalkan kematian korban. Namun melihat ada yang tak beres, petugas melakukan pengusutan.

“Keluarga semula tak mempermasalahkan korban tewas. Tapi keluarga yang lain mencurigai korban tewas tak wajar. Kita pun mendatangi rumah duka. Semula korban sudah dibersihkan, dengan memakaikan baju diletakkan di dalam peti mati. Belakangan keluarga minta dilakukan otopsi,” terang Manik.

Sumber BatakToday mengatakan, sebelum kejadian, korban bersama rekannya, Pormer Marudut Nababan pada Sabtu (12/12) pukul 6 sore mendatangi kedai tuak milik marga Sembiring di Huta Sipinggan. Keduanya menenggak tuak hingga tiga teko atau tiga galon.

Karena tuak sudah habis, pada pukul 20.30 WIB, Pormer dan Bintang keluar bermaksud menyambung minum tuak ke kedai milik Ramli Situmorang, tak jauh dari kedai milik Sembiring.

Persis pukul 22.00 WIB, Pormer yang sudah dalam kondisi ‘berat’ pamit pulang meninggalkan Bintang. Saat itu, di kedai masih ada tiga peminum lainnya, selain Bintang, pemilik kedai Ramli Situmorang dan istrinya, Hotmaida boru Sihombing.

“Memang ada Bintang dan Pormer datang ke sini minum tuak. Dua jam lebih lah mereka di warungku. Lalu Pormer pulang duluan, tinggallah Bintang dan tiga warga lain di warungku. Dan nggak ada keributan terjadi sampai Bintang pergi,” ungkap Ramli, ditemui di seputaran ruang forensik.

Lalu sekitar pukul 23.30 WIB, Bintang meninggalkan kedai tuak milik Ramli. Selanjutnya dia menuju ke kedai tuak milik Besli Situmorang yang juga tak jauh dari kedai milik Ramli.

Bintang sempat memesan tuak, tetapi tidak dilayani Besli, melihat Bintang sudah dalam kondisi mabuk.

“Si Tarigan ada datang ke warungku, pada saat itu sudah dalam keadaan mabuk hingga aku tidak memberikan lagi minuman tuak kepadanya,” terang Besli.

Selanjutnya Besli berbincang-bincang dengan pengunjung di kedainya, yakni Dedi Manihuruk, Vindo Tarigan dan Oral Sihombing.

“Lepas itu aku pun cakap-cakap sama tamu lain, sampai aku tak tahu apa yang terjadi sama Bintang Tarigan,” terang Besli.

Hingga sekitar pukul 01.30 WIB, sewaktu Besli hendak membeli rokok ke simpang Pasar Baru Huta Sipinggan yang berjarak sekitar 100 meter dari kedainya, dia melihat Bintang dalam keadaan tergeletak di jalan. (AB)

Foto: Jenazah Bintang Tarigan yang sempat dimasukkan ke peti jenazah, sebelum kemudian diotopsi. (bataktoday/ab).

  • Bagikan