Akademisi Medan Apresiasi Pendekatan BIN terhadap Din Minimi Cs

  • Bagikan

Medan, BatakToday-

Keberhasilan Badan Intelijen Negara (BIN) melakukan pendekatan terhadap kelompok sipil bersenjata Din Minimi Cs mendapat apresiasi. Tanpa kontak senjata, Nurdin alias Din Minimi berhasil diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Apresiasi disampaikan Dekan Fisipol Universitas Darma Agung Medan Soetarto, mengingat tugas BIN harus melakukan pencegahan dini terhadap suatu tindakan yang dianggap mengganggu keutuhan negara.

“Dalam menangani permasalahan di Aceh itu, pihak pemerintah lebih melakukan komunikasi yang konstruktif,” kata Soetarto di Medan, Rabu (30/12).

Warga Indonesia menurutnya, patut turut serta dalam menjaga keutuhan NKRI, berideologi Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika. ‪

“Atas dasar itu, tentunya secara konstitusional negara punya kewenangan untuk mengambil tindakan terhadap suatu tindakan yang dianggap mengganggu keutuhan NKRI,” kata Soetarto.

Dengan rasa nasionalisme, lanjut Soetarto, Negara Indonesia akan kuat ketika ada gerakan yang membahayakan keutuhan negara, maka negara memiliki kewenangan untuk menindak. Bisa dengan cara penumpasan yang dilakukan oleh aparat TNI/Polri dan bisa juga dengan cara diplomasi seperti dialog, lobi atau diskusi.

‪”Jalur diplomasi kepada kelompok sipil bersenjata juga bisa dilakukan, tidak harus dengan cara kekerasan yang dapat menimbulkan banyak korban jiwa,” katanya.

‪Apa yang telah dilakukan pemerintah terhadap kelompok bersenjata Din Minimi Cs itu, kata Soetarto, sah-sah saja, tapi negara harus tetap memposisikan dirinya sebagai negara yang kuat dan berdaulat.

“Meski berdialog dengan kelompok bersenjata Din Minimi Cs, tapi negara harus memposisikan dirinya sebagai negara yang kuat, berdaulat,” ujar Soetarto.

‪Soetarto menilai, jalur diplomasi yang dilakukan Kepala BIN Sutiyoso kepada kelompok bersenjata Din Minimi Cs wajar-wajar saja sepanjang komunikasi yang dijalin itu menguntungkan negara.

‪Terkait tuntutan yang diajukan oleh kelompok tersebut salah satunya mengenai amnesti, kata Soetarto, ikuti saja prosedurnya, dan Sutiyoso boleh saja memberikan atau menyampaikan informasi tersebut kepada presiden sebagai atasannya.

‪Hal senada disampaikan Rafdinal, Dosen Fisipol Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Menurut Rafdinal, kelompok sipil bersenjata Din Minimi Cs ini bukan kriminal.

‪”Kelompok ini hanyalah kelompok yang tidak puas terhadap Pemerintah Republik Indonesia dalam penanganan Aceh,” ujarnya.

Pendekatan yang dilakukan Kepala BIN Sutiyoso kepada kelompok sipil bersenjata tersebut, kata Rafdinal, sangat bagus dan positif, karena tidak ada kekerasan dan korban jiwa dalam menyelesaikan persoalan.

‪”Ini respon bagus yang dilakukan pemerintah dalam hal ini BIN, yang telah menyelesaikan permasalahan melalui cara pendekatan, tidak ada kekerasan,” ujar Rafdinal.

‪Terkait tuntutan yang diajukan kelompok sipil bersenjata tersebut, Rafdinal melihatnya sebagai hal yang wajar, karena mereka bukan kriminal.

“Mereka hanya sekelompok masyarakat yang kecewa kepada pemerintah dalam penanganani Aceh,” ujar Rafdinal.

‪Menurut Rafdinal, jika kelompok itu mengajukan amnesti kepada presiden, tentunya harus direspon agar tidak muncul lagi perlawanan-perlawanan baru. Meski untuk amnesti itu ada prosedurnya, kata Rafdinal.

‪”Sebagai Kepala BIN, Sutiyoso bisa saja menyampaikan usulan atau permintaan amnesti dari kelompok sipil bersenjata tersebut kepada Presiden Jokowi, namun prosedur amnesti tetap harus dilakukan,” kata Rafdinal. (AFR)

Foto: Nurdin alias Din Minimi diapit dua pengawalnya di suatu lokasi tersembunyi di kawasan Aceh Timur. (harianaceh.co)

  • Bagikan