Tank Thailand Hancurkan Terumbu Karang di Perairan Asahan & Batubara

  • Bagikan

Tanjungbalai, BatakToday-

Nelayan tradisional mengeluh dengan keberadaan alat tangkap kerang jenis penggaruk dasar laut (Tank Thailand) yang bebas beroperasi di perairan Asahan dan Batubara. Alat tersebut merusak terumbu karang, akibatnya hasil tangkapan nelayan jauh menurun.

Salah seorang nelayan kerang tradisional, Syahrudi (35) warga SS Dengki, Kelurahan Keramat Kubah, Kecamatan Sei Tualang Raso Kota Tanjungbalai menuturkan, kebaradaan Tank Thailand atau yang biasa disebut Tengkrang telah melanggar zona penangkapan dan telah menjarah daerah tangkapan nelayan tradisional.

“Kami mencari kerang dengan cara langsung terjun ke dasar laut dekat pantai. Alat tangkapnya pun ukuran kecil. Tapi kalau Tank Thailand ini semacam kerengkeng yang terbuat dari besi. Bila dihunjamkan ke dasar laut, kemudian ditarik pakai boat 10GT keatas, maka tersapulah  ke permukaan dan hancurlah terumbu karang di dasar laut tempat tinggal kerang itu,” terang Syahrudi kepada BatakToday, Senin (18/1/2016).   .

Syahrudi, nelayan kerang tradisional (tojok), saat menuturkan nasib para nelayan kerang beberapa tahun terakhir .(bataktoday/eko)
Syahrudi, nelayan kerang tradisional (tojok), saat menuturkan nasib para nelayan kerang beberapa tahun terakhir .(bataktoday/eko)

Rudi menerangkan, tiga hari ke depan saat air laut surut, akan terlihat bekas garukan Tengkrang, tampak seperti rel kereta api.

“Bila lumpurnya dipegang, menghitam. Sebab tanahnya sudah mati dan kerang tidak akan hidup lagi disana,” pungkasnya.

Hal senada dikatakan Darwin Panjaitan (40) dan Jimmy (37)..Menurut kedua nelayan kerang tradisional ini, hasil tangkapan mereka menurun drastis sejak Tank Thailand bebas beroperasi beberapa tahun terakhir ini .

 “Biasanya nelayan tradisional bisa membawa pulang sekitar dua ratus kilogram kerang dari hasil  melaut. Namun saat ini, untuk mencari lima puluh kilo saja sangat sulit .Hal itu diakibatkan habitat kerang telah rusak oleh keganasan tengkrang,” kata Darwin.

Darwin menerangkan, cara tengkrang beroperasi hampir sama dengan dengan pukat harimau yang dapat mengurus dasar laut hingga kerang terkecil pun turut digaruk .

“Asal sudah ditinggalkan tengkrang, busuk terus tanah itu. Ya beginilah dampaknya, penghasilan nelayan tradisional nyaris tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan,” keluhnya..

Jimmy berharap, pengusaha tengkrang mentaati perjanjian dengan nelayan tojok (tradisional, red). Nelayan tengkarng diharapkan  tidak beroperasi di wilayah dekat pantai, karena itu merusak zona nelayan tradisional .

“Mereka menangkap kerang menggunakan tali bisa di air dalam. Kalau kami cuma pakai galah, paling bisa di kedalaman empat meter. Jadi mohon perjanjian ditaatu supaya tidak terjadi bentrok,” ujar Jimmy mengingtakan. (eko)

Foto: Nelayan kerang tradisional (tojok) tampak pulang dari laut dengan membawa hasil yang tidak sebanding dengan pengeluaran. (bataktoday/eko)

  • Bagikan