Pria Mengaku Teroris, Tusuk Mantan Istri Delapan Liang

  • Bagikan

Pematang Siantar, BatakToday-

Suyatno (38) tusuk berulang kali mantan istrinya, Kartini (34) dengan menggunakan sebilah keris di Huta Gajing, Nagori Serapuh, Kecamatan Gunung Malela, Kabupaten Simalungun, Rabu (20/1) malam.

Suyatno menghunjamkan keris sebanyak delapan kali ke sejumlah bagian tubuh perempuan itu, di depan dua anaknya, Syarial (15) dan Dila (10).

Namun Tuhan masih melindungi Kartini. Kendati dalam keadaan sekarat dan bersimbah darah, nyawa Kartini selamat dari maut setelah anggota keluarga melarikannya ke RSUD dr Djasamen Saragih Kota Pematang Siantar.

Kepada BatakToday, Kartini saat ditemui di ruangan rawat inap Paviliun C RSUD dr Djasamen Saragih, Kamis (21/1) mengatakan, saat malam kejadian tiba-tiba saja mantan suaminya itu sudah masuk ke dalam rumah.

“Usai makan malam kuantar piring ke dapur. Trus aku menuju ke ruangan tamu untuk mengunci pintu. Di situ sudah ada suamiku. Dia langsung menusukku pakai keris,” beber Kartini dengan suara terbata.

Kartini mengaku, berusaha memberikan perlawanan dibarengi jeritan kedua anaknya. Namun karena kalah tenaga, Suyatno leluasa menusuknya ke arah lengan kiri, pinggang, di bawah payudara dan perut.

Pasca kejadian, Kartini tersungkur bersimbah darah di ruangan tamu. Warga yang mendengar jeritan minta tolong dari kedua anaknya, berhamburan menuju kediaman Kartini. Sementara Suyatno usai menikami mantan istrinya langsung kabur.

Kartini mengaku tak mengetahui penyebab pasti sampai mantan suami nekad mau membunuhnya.

“Kurang tahu aku apa masalahnya. Tapi sudah tujuh tahun kami pisah tak pernah jumpa lagi,” ungkap Kartini.

Suyatno yang lama menghilang, mendadak rajin bertandang ke rumah Kartini dengan alasan rindu kedua anaknya. Dan pada Senin (18/1/2016) lalu dia datang saat acara sunatan anak sulungnya.

“Dia datang ke rumah habis acara menyunatkan anak pertamaku, Syarial. Dia bilang rindu dan ingin jumpa kedua anaknya. Walaupun kami tak suami istri lagi, tetapi anak-anakku tetap anaknya juga. Maka waktu diminta jumpa sama anak-anak, tak kularang,” terang Kartini.

Meski demikian, Kartini enggan berbicara akrab dengan Suyatno setelah mereka resmi bercerai di Pengadilan Agama tahun 2015 lalu.

“Selesai ketemu anakku, aku tak meladeni dia berbicara. Dia tersinggung dan mengancam. Dia bilang jangan macam-macam nanti kuhabisi. Aku ini seorang teroris,” kata Kartini, menirukan ucapan Suyatno.

Merasa tak nyaman, keesokan hari, Selasa (19/1) Kartini mengadu ke Polsek Bangun, bahwa mantan suaminya mengaku seorang teroris dan mengancam membunuhnya.

Petugas Polsek Bangun pun turun melakukan pencarian, namun Suyatno tak berhasil ditemukan sampai berujung penikaman Kartini.

Kapolsek Bangun AKP H Silitonga saat dimintai keterangan atas kejadian itu mengatakan, sejauh ini pelaku sedang diburu.

“Kita sudah menerima laporan korban dan pelaku sedang kita buru,” ujar Silitonga.

Pernah Membunuh Rekan Kerja

Diperoleh informasi, ternyata Suyatno seorang mantan narapidana kasus pembunuhan pada tahun 2008 lalu. Waktu itu Suyatno bekerja sebagai buruh kebun sawit di Bandar Betsy, Kabupaten Simalungun membantai teman kerjanya Mariadi dengan menggunakan alat pengegrek sawit.

Suyatno divonis kurungan badan selama tujuh tahun oleh Pengadilan Negeri Simalungun.

“Mantan suamiku pernah membunuh teman kerjanya pake egrek sawit. Leher kawannya dipotongnya. Dipenjara lah tujuh tahun. Tapi yang dijalaninya tiga tahun penjara saja,” beber Kartini.

Saat Suyatno di penjara, Kartini mengaku sering berkunjung ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pematang Siantar Jalan Asahan.

“Kalau dihubunginya aku, baru lah aku datang menjenguknya. Soalnya, aku malu juga karena yang dibunuhnya itu tinggal di Huta Gajing. Sedangkan aku dan keluargaku yang lain asli kampung Gajing,” terang Kartini.

Ditanya apakah selama Suyatno dipenjara, Kartini pernah menjalin hubungan asmara dengan pria lain, Kartini membantah.

“Nggak ada itu. Yang kupikirkan hanya untuk membesarkan dan menyekolahkan anak-anakku,” tegas Kartini.

Kartini menambahkan, selama Suyatno bebas dari penjara tak pernah lagi komunikasi dengan dia. Lalu untuk menghidupi dan membesarkan kedua anaknya, Kartini mengaku bekerja sebagai buruh harian lepas di PTPN III Kebun Bangun.

“Karena tak peduli dia sama keluarga. Tanpa permisi kugugat cerai dia dan kami sudah resmi cerai habis lebaran tahun lalu,” jelas Kartini. (AB)

Foto: Kartini terbaring lemah di ruangan rawat inap RSUD dr Djasamen Saragih, Pematang Siantar. (bataktoday/ab)

  • Bagikan