Perempuan Hamil Direkrut untuk Bebaskan Kapal Penyeludup

  • Bagikan

Tanjungbalai, BatakToday –

Insiden penembakan yang dilakukan aparat patroli gabungan TNI-AL dan Bea Cukai Teluk Nibung Tanjungbalai yang menyebabkan tewasnya Aidil Eka Syahputra (39) pada Jumat (22/1) lalu di perairan Kuala Bagan Asahan, menyisakan kisah tersendiri dari Fatma (28), perempuan yang sedang hamil empat bulan yang menjadi salah seorang korban kejadian itu.

Kepada BatakToday, Fatma yang tinggal di Jalan Pepaya Tanjungbalai ini mengaku, ia dan sejumlah warga lainnya sengaja direkrut kelompok penyeludup pakaian bekas asal luar negeri untuk membebaskan kapal motor berisi pakaian bekas yang sedang ditahan patroli gabungan TNI-AL dan Bea Cukai Teluk Nibung Tanjungbalai.

“Jumat malam, sekitar pukul tujuh aku lihat ada kerumanan warga di persimpangan jalan arah tempat tinggalku ini (Jalan Arteri, red)). Begitu kudekati mereka, semua menjawab akan pergi ke laut. Lalu akupun segera menyatakan siap untuk pergi bersama mereka. Sebelum berangkat ke laut, kami terlebih dahulu dibawa menuju jembatan penghubung Tanjungbalai-Sei Kepayang (Tebayang),” urainya.

Setiba di jembatan penghubung, dia melihat sebuah kapal motor dalam keadaan kosong sedang tertambat di tangkahan.

“Kapal motor itulah yang digunakan untuk membawa kami ke tengah  laut. Setibanya kami di perairan Kuala Bagan Asahan, aku melihat sebuah kapal motor yang di bagian tengah depannya (lambung kapal, red) ditutupi dengan tenda. Bersamaan itu pula kami pun berpindah dari kapal yang kami tumpangi sebelumnya, karena disuruh naik ke kapal itu,” ujarnya.

Tak lama kemudian, lanjut Fatma, mereka didatangi satu kapal patroli dilengkapi dengan personel berseragam warna hitam.

“Apakah kapal patroli yang datang itu dari TNI AL atau Bea Cukai, aku kurang jelas melihatnya, karena waktu itu keadaan di laut masih terang laras (antara gelap dan terang, red). Kapal patroli yang datang itu bertahap datangnya. Kedatangan yang kedua kali itulah kami ditembaki mereka lalu pergi,” katanya, seraya menambahkan bahwa dalam insiden itu dirinya mengalami luka di bagian pinggang samping kanan.

Fatma menegaskan, saat mereka pergi ke laut tidak membawa senjata tajam, bom atau senjata api. Mereka juga tidak melakukan perlawanan terhadap personel gabungan TNI AL dan Bea Cukai.

“Tak ada kami melakukan perlawanan kepada aparat. Aku ikut bersama warga lainnya ke laut untuk melepaskan kapal motor serta bal press itu. Karena sebelumnya telah dijanjikan akan diberikan uang sebesar Rp 150 ribu apabila kapal motor yang berisikan bal press itu tiba di daratan,” ungkapnya.

Namun, sejak peristiwa berdarah yang menewaskan satu rekannya itu, uang yang dijanjikan kelompok penyeludup tak kunjung datang.

“Ke depannya tak mau lagi aku ikut pergi ke laut. Luka di bagian pinggang sebelah kananku ini akibat percikan tembakan,” katanya. (eko )

Foto: Fatma, salah seorang korban yang mengalami luka percikan tembakan saat ditemui di kediamannya, Senin (25/1). (bataktoday/eko) 

  • Bagikan