Labfor Polri Selidiki Penyebab Kebakaran Pasar TPO Tanjungbalai

  • Bagikan

Tanjungbalai, BatakToday –

Pasca terbakarnya Pasar TPO yang menjadi pusat transaksi pakaian bekas atau monza di Jalan DI Panjaitan Tanjungbalai, Minggu (24/1) lalu, Polresta Tanjungbalai menurunkan Tim Laboratorium Forensik (Labfor) Mabes Polri Cabang Medan, Senin (25/1/2016).

Kapolresta Tanjungbalai, AKBP Ayep Wahyu Gunawan melalui Kasat Reskrim  AKP Revi Nurvelani kepada BatakToday mengatakan, pihaknya hanya sebagai pendamping Tim Labfor Mabes Polri Cabang Medan.

“Sumber api berasal dari beberapa kios yang sudah dibatasi garis polisi. Hasilnya belum dapat diketahui karena kami masih menunggu hasil pemeriksaan yang nantinya akan diserahkan oleh Tim Labfor Mabes Polri Cabang Medan ke Polresta Tanjungbalai,” terang Revi.

Para pedagang pakaian bekas sedang membersihkan puing-puing pada lokasi kios yang terbakar. (bataktoday/eko)
Para pedagang pakaian bekas sedang membersihkan puing-puing pada lokasi kios yang terbakar. (bataktoday/eko)

Sementara itu, Ketua Tim Labfor Mabes Polri Cabang Medan, AKBP Junius Hutabarat didamping Kompol Binsaudin Siregar mengatakan, mereka turun ke lokasi berdasarkan permintaan Kapolresta Tanjungbalai.

“Kedatangan kami di lokasi ini untuk memastikan penyebab kebakaran. Hasil dari pemeriksaan di lokasi kebakaran ini terlebih dahulu kami bawa ke laboratorium. Belum dapat kita simpulkan penyebab kebakarannya,” kata Junius.

Terpisah, sejumlah pedagang, Tian Purba (37), Maringan (28) dan Biron (37) mengatakan, mereka mengalami kerugian puluhan juta akibat terbakarnya kios dagangan mereka.

Begitupun, mereka tetap berharap segera bisa kembali berdagang, meski dengan biaya sendiri untuk memperbaiki kios yang sudah terbakar.

“Kami berjualan di Pasar TPO ini dipungut retribusi setiap harinya oleh Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungbalai. Keinginan kami, agar tetap berjualan seperti biasanya. Meskipun untuk merehab kios yang terbakar ini dengan mengeluarkan biaya sendiri,” kata Biron, diamini Tian dan Maringan.

Maringan mengaku, dia sedikitnya mengalami kerugian Rp 20 juta, dan musibah tersebut sangat memukul perekonomian keluarganya yang mengandalkan berdagang pakaian bekas.

“Tidak ada sumber mata pencarian lagi bila Pasar TPO ini ditutup, pedagang menjadi pengangguran. Hal ini juga berdampak bagi warga sekitar yang telah mendapat manfaat dari usaha dagangan kami ini,” katanya.

Namun saat ditanya soal larangan, menurut Maringan larangan itu bukan kepada pedagang pakaian bekas.

“Larangan itu ditujukan kepada pemilik ball press. Bila kami dilarang berjualan, secara otomastis kami menjadi pengangguran. Sementara sumber mata pencarian kami hanya berjualan pakaian bekas. Artinya dalam hal ini, pemerintah hendaknya melihat dampak sosial ekonominya terhadap kami para pedangan pakaian bekas ini,” harapnya. (eko)

Foto: Tim Laboratorium Forensik Mabes Polri Cabang Medan sedang melakukan pemeriksaan di lokasi sumber api yang diberikan garis polisi, Senin (25/1). (batak today/eko) 

  • Bagikan