Pengusaha Mie di Siantar Gunakan Bahan Pengawet Tanpa Izin BPOM

  • Bagikan

Pematang Siantar, BatakToday –

Tim Monitoring Pemerintah Kota Pematang Siantar melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke tiga lokasi industri pengolahan mie basah (mie kuning), Sabtu (30/1/2016).

Sidak kali ini menyertakan petugas teknis pemeriksaan Formalin Dinas Kesehatan Kota Pematang Siantar yang dipimpin Rasta Elia Ginting, dan pemeriksaan mie yang baru diproduksi langsung dilaksanakan di tempat.

Dari hasil sidak, ketiga industri tidak terindikasi penggunaan bahan pengawet formalin, namun salah satu pengusaha menggunakan bahan pengawet Asap Cair A-10 MF dan Chitosan, yang belum mendapat izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Usaha kami ini paling-paling hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja, belum sampai di pasaran luar kota. Jadi untuk apa kami pakai formalin segala karena produksi kami juga sesuai pesanan pelanggan,” ujar Bahrum, pengusaha mie basah di Jalan Bola Kaki Gang Langgar, Kelurahan Banjar Kecamatan Siantar Barat kepada Tim Monitoring yang dipimpin Asisten II Sekda Bidang Perekonomian Pembangunan, Akhir Harahap, saat melakukan sidak.

Selain milik Bahrum, dua lokasi lainnya adalah milik Idris juga di Jalan Bola Kaki dan milik Toni Ali Agus di Jalan Siatas Barita, Kelurahan Tomuan, Kecamatan Siantar Timur.

Sedang pabrik mie yang berada di Jalan Pattimura ujung, Kelurahan Tomuan dan di Jalan Madura, Kelurahan Bantan tampak sedang tutup.

Kepada tim monitoring, Toni Ali Agus yang telah dua tahun mengoperasikan pabrik mie, mengaku menggunakan bahan pengawet yang sudah umum dipakai yakni Asap Cair A-10 MF dan Chitosan yang dipesan dari Malang, Jawa Timur.

“Kami mengetahuinya dari internet, meski hasilnya juga tak begitu memuaskan, karena daya tahan mie nya juga tak sampai 2 hari,” ujarnya.

Tim Dinas Kesehatan, Rasta Elia Ginting yang rutin memeriksa sejumlah pabrik mie mengakui kedua jenis pengawet ini memang sudah banyak digunakan.

“Meski kadar pengawetnya masih dalam batas yang dapat ditoleransi, tetapi karena belum ada izin penggunaan kedua cairan tersebut dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), kita juga belum berani merekomendasikannya untuk digunakan,” ujarnya kepada Asisten II yang mempertanyakan kelayakan kedua cairan tersebut.

Kepada para pengusaha mie, Asisten II dan Kadis Perindag mengimbau agar menjaga kebersihan lokasi usaha sehingga benar-benar layak memproduksi jenis bahan makanan. Apalagi, ketiga lokasi yang dikunjungi, dari aspek kelayakan, menurut Dinas Kesehatan, semuanya belum memenuhi syarat teknis kesehatan.

Ketiga lokasi usaha pembuatan mie tersebut berada di samping dan belakang rumah. Di sana-sini tampak banyak barang-barang bekas dan rongsokan, kipas angin yang tampak kumal, kayu bakar yang berserakan, bahkan sisa-sisa pembuatan mie yang tidak dibersihkan.

“Kami minta bapak-ibu sekalian agar senantiasa menjaga kebersihan dan kelayakan tempat-tempat pembuatan mie-nya, agar terjamin kesehatannya. Jangan hanya memikirkan keuntungan semata tetapi mengabaikan kesehatan konsumen,” ujar Asisten II. (rel)

Foto: Asisten II Setdako M Akhir Harahap pimpin tim monitoring yang terdiri dari Kadis Perindag Zainal Siahaan, Kakan Satpol PP, Julham Situmorang, Plt.Kabag Humas Jalatua Hasugian, Sabtu (30/1/2016).  (bataktoday/rel)

  • Bagikan