Pemko Binjai Imbau Masyarakat Waspada Penyebaran Virus Zika

  • Bagikan

Binjai, BatakToday –

Hangatnya pemberitaan di media nasional tentang virus Zika belakangan ini membuat Pemerintah Kota (Pemko) Binjai waspada. Pasalnya Penularan virus Zika sama seperti virus demam berdarah, yakni melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang menjadi pembawa virus Dengue yang menyebabkan penyakit demam berdarah Dengue.

Kabag Humas Pemko Binjai Hendrik Tambunan saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, belum ada temuan penyebaran virus Zika di Kota Binjai.

“Sampai sekarang memang belum ada kabar tentang penyebaran virus Zika. Walaupun begitu, Pemko Binjai selalu waspada terhadap penyebaran semua penyakit. Kepada warga kami harapkan agar tetap menjaga kebersihan lingkungan,” ujarnya kepada wartwan, Senin 91/2/2016).

Seperti diketahui penyebaran wabah DBD di Binjai terbilang tinggi, dan tidak sedikit warga penderita penyakit DBD akhirnya meninggal dunia.

“Berdasarkan pengalaman siklus penyebaran DBD per lima tahun, maka kita dari Pemko Binjai terus waspada dengan mensiagakan rumah sakit, puskesmas induk dan puskesmas di kelurahan,” ternag Hendrik.

Ditempat terpisah, Anggota Komisi B DPRD Binjai dr. Edy Syahputra menjelaskan, penyebaran virus Zika sama dengan virus DBD.

“Cuma sampai saat ini saya belum tau bagaimana ciri-ciri orang yang terkena virus tersebut, karena belum pernah menangani langsung si korban. Yang saya tau hanya sebatas informasi dari surat kabar dan media elektronik,” terangnya.

Saat ditanya tentang langkah DPRD Binjai terhadap adanya informasi virus Zika, Edy mengatakan, DPRD melalui Komisi B akan meminta Pemko Binjai agar serius menanggapi informasi tersebut.

“Minimal memberikan informasi atau mensosialisasikan virus Zika dan cara penyebarannya kepada masyarakat. Dan saya pribadi menyarankan agar masyarakat terus meningkatkan kebersihan rumah dan lingkungan masing-masing,” pintanya.

Pertamakali ditemukan di Uganda

Merujuk catatan Dr Ari Fahrial Syam, virus Zika merupakan Flavivirus kelompok Arbovirus bagian dari virus RNA.  Pertama kali  diisolasi tahun 1948 dari monyet di Hutan Zika Uganda. Jadi sepertinya Zika sendiri merupakan nama hutan tempat dimana virus ini berhasil diisolasi. Selanjutnya beberapa negara Afrika, Asia khususnya Asia Tenggara,  Mikronesia, Amerika Latin, Karibia melaporkan  penemuan virus Zika ini.

Penularan virus ini sama seperti virus demam berdarah  yaitu oleh gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang menjadi pembawa virus Dengue yang menyebabkan penyakit demam berdarah Dengue (DBD).

Jumlah kasus infeksi demam berdarah Dengue sendiri saat ini meningkat di Indonesia, sejalan dengan tibanya musim hujan. Seperti diketahui, selain menjadi vektor atau pembawa virus Dengue dan virus Zika, nyamuk ini juga membawa virus Chikungunya.

Dari laporan beberapa kasus terdahulu dan adanya penemuan virus ini  tahun lalu oleh lembaga Eijkman, jelas bahwa virus Zika juga sudah ada di Indonesia.

Bagaimana gejala virus Zika? Seperti infeksi virus pada umumnya, pada  awal penyakit, pasien akan merasakan demam mendadak, lemas, kemerahan pada kulit badan, punggung dan kaki, serta nyeri otot dan sendi.

Berbeda dengan dengan infeksi virus Dengue, pada infeksi ini mata pasien akan merah karena mengalami radang konjungtiva atau konjungtivitis. Pasien juga akan merasakan sakit kepala.

Pemeriksaan laboratorium sederhana biasanya hanya menunjukkan penurunan kadar sel darah putih seperti umumnya infeksi virus lainnya. Berbeda dengan infeksi demam berdarah, infeksi virus Zika tidak menyebabkan penurunan kadar trombosit.

Masa inkubasi hampir mirip dengan infeksi virus Dengue, yaitu beberapa hari sampai satu minggu. Sekilas infeksi virus Zika hampir mirip dengan virus Dengue, sehingga infeksi ini sering kali tidak terdeteksi karena umumnya gejalanya ringan.

Dengan istirahat dan banyak minum, pasien dapat sembuh. Obat-obat yang diberikan hanya bertujuan untuk mengatasi gejala yang timbul, yaitu jika gatal diberikan obat gatal, dan jika demam diberikan obat demam.

Kenapa virus ini sekarang begitu banyak dibicarakan? Berbagai laporan di luar negeri khususnya di Brasil, penyakit infeksi virus Zika ini dihubungkan dengan bayi dengan kepala yang kecil (mikrosefali). Jadi ibu-ibu yang terinfeksi virus ini saat hamil, bisa melahirkan bayi dengan kelainan kepala, sehingga perkembangan otaknya menjadi terganggu.

Oleh karena itu, tanggal 15 Januari 2016 lalu, pemerintah Amerika melalui US Centers for Disease Control and prevention (CDC)  telah memberikan travel alert buat warganya yang sedang hamil atau sedang berencana untuk hamil untuk menunda melakukan perjalanan ke negara-negara yang sedang terjangkit,  virus Zika ini.

Sampai sejauh ini, sudah 18 negara Amerika Latin dan Karibia yang melaporkan adanya infeksi virus Zika, antara lain Brasil, Barbados, Kolombia, Ekuador, El Salvador, French Guiana, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Martinique, Meksiko, Panama, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Suriname, dan  Venezuela.

Saat ini vaksin untuk virus ini belum ada. Pengobatan lebih banyak bersifat suportif, istirahat cukup, banyak minum, jika demam minum obat penurun panas dan tetap mengonsumsi makanan yang bergizi.

Pencegahannya sama seperti pencegahan infeksi demam berdarah, yaitu pemberantasan sarang nyamuk. Penyakit virus Zika sama seperti infeksi virus demam berdarah, bisa kita tekan kasusnya jika kita dapat melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Slogan 3M (Mengubur, Mengurus, dan Menutup) dari Kementerian Kesehatan sangat layak dilakukan. (lud/health.kompas.com/ajvg)

Foto: Ilustrasi.

  • Bagikan