Pj Walikota Siantar: Bangunan Liar di Jalan Vihara & RSUD Segera Ditertibkan

  • Bagikan

Pematang Siantar, BatakToday –

Penjabat Walikota Pematang Siantar, Jumsadi Damanik, mengimbau seluruh pemilik kios maupun bangunan lainnya di areal Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Djasamen Saragih dan Jalan Vihara yang tak memiliki izin, untuk segera membongkar sendiri bangunannya. Jumsadi memastikan, penertiban secara tegas akan dilaksanakan dalam waktu dekat.

Penegasan tersebut disampaikannya usai penyerahan Surat Keputusan (SK) Pengelola Badan Layanan Umum (BLUD) RSUD dr Djasamen Saragih, Jumat siang (29/1/2016) di kantor rumah sakit milik Pemerintah Kota pematang Siantar itu.

02 bangunan liar_edited“Kita mengimbau masyarakat yang berjualan di lokasi yang tak diizinkan agar dengan kesadaran sendiri mau mematuhi aturan. Karena tak ada dasarnya siapapun untuk mencaplok lahan RSUD yang nota bene milik negara tanpa izin, karena pada akhirnya pasti akan ditertibkan juga. Apalagi, sudah banyak masyarakat yang protes kepada Pemko Pematang Siantar karena keberadaan bangunan-bangunan tersebut mengganggu kenyamanan publik,”ujarnya.

Manajemen RSUD dr Djasamen mengeluhkan, kehadiran kios-kios tanpa izin yang sangat mengganggu jalur keluar masuk ambulance. Selain itu, saat akan mengebumikan jenazah Mr X  di areal RSUD, juga terganggu karena adanya bangunan-bangunan liar di sekitar lokasi.

Kembali ke Model Pasar Kaget

Direktur Eksekutif Institute for Regional Development (InReD) Lambok Sitanggang menyambut baik rencana Pemko Pematang Siantar menertibkan bangunan liar di Jalan Vihara.

“Fungsi Jalan Vihara harus dioptimalkan untuk mengurangi kemacetan di pusat kota. Setahu saya, itulah tujuan pembukaan Jalan Vihara delapan tahun yang lalu,” terang Lambok kepada BatakToday, Senin (1/2/2016).

Ditanya tentang lokasi baru pedagang Jalan Vihara, Lambok menyarankan untuk kembali ke konsep pasar kaget seperti dilakukan di kota lain.

03 bangunan liar_edited“Dulu Siantar sudah melakukannya dengan Sutomo Square, dan sudah berjalan dengan baik. Entah kenapa tidak dilanjutkan,” tukas alumnus Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara itu.

Lambok juga menyarankan agar pasar kaget kuliner jangan terkonsentrasi di satu lokasi, tetapi dibagi dalam beberapa kluster sesuai konsentrasi penduduk kota. Menurutnya, hal itu dapat mendekatkan penduduk ke lokasi kuliner, demikian juga bisa mengurangi jarak mobilisasi dan demobilisasi peralatan pedagang.

“Pemko juga harusnya mengedukasi para pedagang tentang kebersihan dan keindahan, sehingga pengembangan wisata kuliner benar-benar menjadi kenyataan. Harusnya kita bisa mencontoh pasar kaget di Malioboro Yogyakarta. Menjelang pulang, masing-masing pedagang membersihkan lokasi berjualan, bahkan mencuci trotoar dengan bersih,” paparnya.

Lambok mengingatkan, jika Kota Pematang Siantar tidak segera berbenah diri, maka pelintas akan memilih singgah di Tebing Tinggi, karena pemerintah dan masyarakat kota lemang itu saat ini benar-benar serius berbenah, terutama menjelang beroperasinya jalan tol Medan-Tebing Tinggi tahun 2017 mendatang. (rel/ajvg)

Foto: Deretan bangunan liar di kiri-kanan Jalan Vihara Pematang Siantar, bukan hanya di atas trotoar dan parit, tetapi juga memakan badan jalan.

  • Bagikan