Energi Migas Belum Merata Dirasakan Rakyat

  • Bagikan

Medan, BatakToday –

Hingga kini rakyat Indonesia belum semua menikmati energi minyak dan gas secara merata. Meskipun tingkat konsumsi minyak per kapita Indonesia relatif rendah, namun sekelompok populasi di kota-kota besar justru memiliki tingkat konsumsi yang jauh lebih tinggi dari rata-rata negara maju.

Hal itu diungkapkan Prof Daniel Mohammad Rasyid PhD, guru besar Universitas 10 November Surabaya yang ditanggap menjadi salah satu narasumber pada pada Workshop Kedaulatan Energi yang mengambil tema “Penyelamatan Kedaulatan Energi Nasional Melalui Regulasi Migas yang Merah Putih” di Medan, Jumat (5/2).

“Kemacetan Jakarta merupakan kesenjangan energi. Keadilan energi kita sangat buruk. Di tingkat global, konsumsi minyak Amerika 7.000 liter per tahun, Indonesia cuma 700 liter. Tapi angka ini adalah rata-rata, kondisi riilnya bisa sangat jomplang,” ujarnya. Namun diakuinya, sebagai negara maritim, letak geografis tidak terlepas menjadi salah satu penyebabnya.

Sementara menurut Faisal Yusra, Ketua Serikat Pekerja Pertamina Pusat, hingga 2025 minyak bumi dan gas masih memegang peranan penting secara nasional.

“Artinya, bahwa sampai generasi ini (peserta seminar,red) tua, migas menjadi hal strategis di Indonesia,” katanya.

Faisal mengungkapkan, kondisi saat ini, sektor hulu migas bisa menghasilkan
800 ribu barel per hari, sementara kebutuhan 1,6 juta barel per hari. Bisa dibayangkan betapa besarnya impor minyak Indonesian. Pda kebijakan ke depan, agar industri hulu dan hilir terintegrasi dalam satu perusahaan, dengan harapan adanya keseimbangan hulu dan hilirnya.

Di dalam negeri sendiri, regulasi yang ada sesuai UU Migas dinilai cacat sejak lahir.

“Meski demikian, masih saja relevan sampai saat ini, meski tidak heran ada 17 pasal sudah dibatalkan. UU ini harus direvisi, atau bahkan digantikan dengan hal-hal yang lebih baik dalam rangka ketahanan energi nasional,” katanya.

Turut hadir sejumlah narasumber, diantaranya aktivis migas Agung Marsudi, Marwan Batubara dari Indonesian Resources Studies, dan dipandu moderator Maslatif Dwi Purnomo dan Mutasor, anggota Dewan Energi Nasional tahun 2009-2014.

Ketua Panitia Indra Sakti Nasution mengatakan, energi adalah masalah yang sangat kompleks di negara manapun di dunia, termasuk Indonesia. Perumusan bagaimana masalah ini selesai terus dilakukan dan seolah-olah tidak menemukan titik cerah sebagai solusi.

Dari hulu dimana dimulainya siklus pemanfaatan energi ini misalnya, ditemukan banyaknya pelanggaran. Sebagai contoh, masih rendahnya komitmen perusahaan pemain energi bangsa dalam melakukan eksplorasi, menyebabkan sumur yang digunakan untuk eksploitasi sudah tua dan terus dipaksa diambil isinya. Tercatat hanya 30 persen perusahaan yang memiliki komitmen melakukan eksplorasi jika mengacu pada data Kementerian ESDM.

“Untuk menyelamatkan energi, tidak adil jika dibebankan semua kepada pemerintah, melainkan harus melibatkan seluruh elemen bangsa. Kita punya PR besar bersama untuk bergotong-royong secara militan dalam menyelesaikan masalah ini, dan menyelamatkan nasib anak cucu kita di kemudian hari,” katanya.

Maka dalam aliansi ini, terangnya, mahasiswa ingin bergerak sebagai bentuk inovasi dalam dedikasi  kepada Indonesia, mencoba melaksanakan beberapa program kerja yang bersifat edukatif dan persuasif dalam penyadaran masyarakat akan kedaulatan energi.

Ditegaskannya, pihaknya menolak penguasaan asing atas migas di Indonesia, serta meminta nasionalisasi pengelolaan migas kepada anak Bangsa Indonesia.

“Kita minta segera revisi Undang-Undang Migas sehingga pro terhadap rakyat Indonesia. Kami siap menjadi garda terdepan untuk penyelamatan kedaulatan energi nasional,” ujarnya. (AFR)

Foto: Suasana Workshop Kedaulatan Energi yang mengambil tema “Penyelamatan Kedaulatan Energi Nasional Melalui Regulasi Migas yang Merah Putih” di Medan, Jumat (5/2). (bataktoday/afr)

  • Bagikan