Gurasta Panjaitan, Srikandi Pendidik Idealis dan Pemberani

  • Bagikan

Toba Samosir, BatakToday –

Unjuk rasa seorang diri pasti menjadi pemandangan aneh dan unik, bahkan di negara maju sekalipun. Dan jika hal itu dilakukan seorang perempuan pendidiik bernama Gurasta boru Panjaitan di Balige Kabupaten Toba Samosir, menggugat kebobrokan pengelolaan pendidikan di daerah itu, maka dengan gampang dan arogan pihak yang didemo menuduhnya sebagai ‘orang sinting’, dan masyarakat langsung memercayainya.

Sesungguhnya Gurasta adalah sosok guru yang selama puluhan tahun galau terhadap praktik-praktik korup yang dipertontonkan otoritas pendidikan setempat, yang bukan saja menghancurkan idealisme guru sebagai pendidik, tetapi juga merusak anak-anak bangsa yang seharusnya menikmati pendidikan yang memanusiakan, bukan penghancuran moral secara sistemik  sejak usia dini.

Sejak pengangkatan dirinya menjadi PNS pada 1 Maret 1985 dan selanjutnya penempatan pertamanya di SD Negeri 173529 Kecamatan Tampahan, Gurasta sudah memulai pengalaman buruk, betapa bobroknya pengelolaan sektor pendidikan yang seyogianya memiliki tugas mulia untuk mencetak generasi muda yang kelak akan menerima estafet pengelolaan negeri satu-satunya ini.

Gurasta Panjaitan saat unjuk rasa sendirian sembari membawa tulisan dan poster ke Kantor Dinas Pendidikan Tobasa, 3 tahun lalu. (ist)
Gurasta Panjaitan saat unjuk rasa sendirian sembari membawa tulisan dan poster ke Kantor Dinas Pendidikan Tobasa, 3 tahun lalu. (ist)

Mengawali karir yang juga cita-citanya sejak masa kecil itu, Gurasta dikenal sebagai sosok guru yang idealis dan sangat perduli terhadap perkembangan intelektualitas dan moralitas anak-anak didiknya. Tidak jarang ia harus turun tangan ‘mengintervensi’ keluarga murid, agar keberlangsungan pendidikan sang anak tidak didistorsi remeh-temeh masalah keluarga.

Meski tidak mudah dan sering mendapat cibiran masyarakat bahkan rekan seprofesi, Gurasta teguh ‘memikul salib’-nya sebagai pendidik. Selama puluhan tahun Gurasta berjuang dalam kesendirian dan kesunyian. Di satu sisi ia teguh menegakkan standar nilai yang ditetapkan otoritas pendidikan, dan di sisi lain ia berjuang keras agar anak-anak didiknya mampu mencapai bahkan melampaui standar tersebut.

Namun masa keemasan itu berakhir, ketika dengan alasan yang dibuat-buat Gurasta dipindahkan ke SD No 173535 Siboruon pada tahun 2009 lalu.

“Alasan pemindahan saya ketika itu, disebut-sebut karena permintaan dari orang tua murid dan tidak bisa bekerjasama dengan guru-guru di SD Tampahan,” ujar ibu lima anak ini saat saat bertamu ke Graha Center LSM Jalan Sutomo Balige, Selasa (2/2/2016) lalu.

Ironisnya, sejak dipindahkan ke SD No 173535 Siboruon, kepala sekolah tidak memberikan tugas mengajar kepada Gurasta, dengan alasan yang tidak jelas. Sejak ditempatkan di Siboruan hingga pindah pada tahun 2012 lalu, praktis Gurasta makan gaji buta, dan itu sesuatu yang sangat menyakitkan baginya.

Sepuluh Tahun Berjuang untuk Kenaikan Golongan

Puluhan tahun berjuang dalam sunyi memanusiakan anak-anak bangsa, namun hingga hari ini penguasa negeri hanya memberinya pangkat/golongan Pengatur Muda III/a.

Gurasta mengungkapkan, kurang lebih sepuluh tahun ia berjuang menuntut kenaikan pangkat dari III/a ke III/b. Gurasta telah beberapa kali menghadap Kadis Pendidikan, bahkan telah menyampaikannya ke DPRD Toba Samosir, namun sejauh ini belum membuahkan hasil.

“Pernah pihak Dinas Pendidkan menjanjikan kenaikan pangkat saya, dengan syarat saya harus mengembalikan uang lauk-pauk yang sepantasnya menjadi hak saya. Dan itu dituangkan dalam berita acara pengembalian uang,” terangnya kepada Jorris Sirait dan Edu Sibuea, dua aktivis LSM yang menerima kehadirannya di Graha Center LSM.

Namun, keluhnya, hingga detik ini kenaikan pangkat yang diidamkannya belum juga terwujud.

Srikandi Pendidik yang Berani Menyuarakan Kebenaran

Perpindahan ke SD Negeri No. 173540 Matio Kecamatan Balige pada tahun 2012 dimanfaatkan Gurista untuk lebih aktif menyuarakan kritik terhadap pengelolaan dunia pendidikan yang menurutnya semakin melenceng. Lokasi sekolah yang tidak jauh dari pusat pemerintahan membuat Gurasta lebih leluasa untuk melakukan gerakannya.

Aksi spontan dan berani Gurasta sering dilakukannya dengan cara unjuk rasa seorang diri ke kantor Dinas Pendidikan Tobasa. Bahkan pada perayaan Hardiknas dua tahun lalu yang dipusatkan di Lapangan Sisingamangaraja XII Balige, dia unjuk rasa seorang diri sembari membentangkan poster, dengan pesan “Pejabat Tobasa diminta supaya perduli dengan Pendidikan. Jangan hanya tahu gonta ganti Kepala Sekolah. Siapa lagi yang peduli dan memperhatikan anak didik “.

Sikap kritis dan keperdulian Gurista sering disampaikan secara langsung kepada atasannya, mulai dari Kepala Sekolah hingga Kepala Dinas Pendidikan.

“Kemarin juga saya bertemu dengan Kadis Pendidkan Lalo Simanjuntak di kantornya, membicarakan bagamana komitmen dia dalam memajukan pendidikan di Tobasa,” ujar Gurasta.

Menanggapi keluhan dan sikap Gurasta Panjaitan, Jorris Sirait dan Edu Sibuea sangat menyayangkan perlakukan dan respon Dinas Pendidikan Tobasa terhadap seorang guru yang justru berjuang meluruskan substansi pengelolaan pendidikan ini.

“Sampai saat ini di Tobasa, siapa yang idealis dan berani menyuarakan kebenaran, akan diabaikan dan disingkirkan,” ketus Jorris Sirait.

Edu Sibuea sangat menyayangkan, keperdulian Gurasta dalam mengkritisi dunia pendidikan di Tobasa justru diabaikan oleh atasannya, bahkan memperlakukannya dengan tidak adil, diantaranya dengan menunda-nunda kenaikan pangkat tanpa alasan yang jelas. (AP)

Foto: Gurasta Panjaitan, Guru SD No. 173540 Matio Kecamatan Balige saat berkunjung ke Graha Center LSM Jalan Sutomo Balige, Selasa (2/2/2016). (bataktoday/ap)

  • Bagikan