Novel “Mangalua”: Fiksi Budaya dan Perjuangan di Tanah Batak

  • Bagikan
Direktur Institut Sumatera, John Fawer Siahaan saat memberikan plakat sebagai cinderamata kepada para pembedah novel ‘Mangalua’ karya Idris Pasaribu, di Lt III Gedung FIS Unimed, Sabtu (20/2/2016). (bataktoday/afr)

Medan, BatakToday –

Meski dalam beberapa kasus, mangalua (kawin lari) lebih disebabkan masalah tunggal, sebut saja soal ekonomi, namun mainstream mangalua adalah peristiwa multidimensi yang kompleks, mulai dari masalah sosial, ekonomi, politik, budaya, keyakinan, bahkan ideologi. Selain itu, mangalua pada akhirnya adalah peristiwa diplomasi yang sangat elegan, yang menjadi ciri khas masyarakat Batak pada umumnya, ketika melalui proses mediasi oleh pihak ketiga, pihak paranak dan parboru akhirnya “berdamai”. Dan kelak pada waktu yang tepat, kedua pasangan suami-istri itu kemudian manggarar adat-nya.

Namun sejalan dengan waktu, terjadi degradasi bahkan negasi pemahaman mangalua, yang lebih diartikan sebagai marbagas roha-roha (menikah sesuka hati). Padahal sesungguhnya, peristiwa mangalua justru dapat menjadi cermin yang representatif dari adat dan budaya Bangso Batak yang luhur. Pada peristiwa mangalua terjadi pertarungan ide (konflik) yang dapat dikelola dengan baik, dan diakhiri dengan perdamaian. Selain itu, dalam seluruh rangkaian peristiwa mangalua,  nilai-nilai budaya dan kemanusiaan dilaksanakan secara utuh, konsisten, dan elegan.

Berangkat dari kenyataan itu, maka pilihan Idris Pasaribu untuk mengangkat topik ini pada novel terbarunya “Mangalua” menjadi sangat menarik sekaligus relevan bagi masyarakat Batak di bona pasogit maupun di pangarerakan.

Difasilitasi Institut Sumatera, novel Mangalua dibedah di Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Unimed, Sabtu (20/2/2016) kemarin.

Penulis, Idris Pasaribu mengungkapkan, selain menyimpan nilai budaya, buku ini juga mengangkat berbagai sejarah perjuangan bangsa, khususnya Bangso Batak ketika berjuang melawan para penjajah di masa lalu. Novel ini mengandung edukasi tentang tata cara mencari solusi untuk perbedaan pendapat lewat kearifan lokal.

“Mangalua itu adalah adat yang luhur, namun saat ini sudah berbeda artinya. Bahkan kini terkesan ecek-ecek saja. Hanya diucapkan saja, namun perlakuan dan kelakuannya tidak lagi seperti yang dilakukan dahulu,” kata Idris.

Idris menambahkan, dalam “Mangalua” ia juga berupaya menerjemahkan gagasan Geopark Toba dalam aspek budaya. Istilah-istilah yang terkandung didalamnya menggambarkan budaya sekitar kawasan Kaldera Toba itu sendiri.

“Seperti lumban, sosor, horja, bahkan banyak lagi. Inilah yang disebut geopark dalam aspek budaya,” katanya.

Pembedah Dra Flores Tanjung MA (PD II Fakultas Ilmu Sosial Unimed) berbicara tentang ‘Mangalua’ dipandang sebagai hal tongka (tabu) yang diperbolehkan. Sementara Dr Asmyta Surbakti MSi (dosen Fakultas Ilmu Budaya USU) melihat novel “Mangalua” dari sisi budaya postmo, orientalisme dan oksidentalisme.

Sangat menarik ketika Yulhasmi, anggota KPU Sumut yang juga dosen UMSU, mencoba membedah “Mangalua” dari sisi sastra dan faktor sejarah yang melatarbelakangi kisah dalam buku tersebut.

Yulhasmi mengatakan, novel tersebut dengan lugas mengandung nilai sastra dan nilai sejarah. Novel Mangalua, menurutnya, menggambarkan dengan sangat baik bagaimana masyarakat Batak Toba pada zamannya, memiliki tradisi yang kuat dan elegan. Meskipun tokoh dalam cerita diperankan tokoh fiksi, namun apa yang disampaikan adalah kondisi nyata pada masa lampau yang bernilai sejarah.

“Cerita novel juga menggambarkan bagaimana masyarakat pada masa itu menghadapi para penjajah, juga bagaimana menggunakan kearifan lokal untuk menemukan solusi bagi persoalan yang muncul di tengah masyarakat,” ujarnya.

Direktur Institut Sumatera, John Fawer Siahaan mengatakan, pihaknya juga melihat sisi positif dalam novel keempat Idris Pasaribu tersebut. Menurutnya, Mangalua  menawarkan gagasan dan gambaran untuk pembangunan moral di masa kini dan yang akan datang, dengan mengetahui makna yang terkandung di dalam cerita tersebut.

Bedah buku dihadiri Alimin Ginting, Gagarin Sembiring, dr Jhon Robert Simanjuntak SpOg, Prof Bungaran Antonius Simanjuntak, Ronald Naibaho, Thompson Hs, para budayawan, dan kalangan mahasiswa. (AFR)

  • Bagikan