Bakorpakem Tebing Minta Pertemuan Akbar Wahidiyah Dibatalkan

  • Bagikan

Tebing Tinggi, Batak Today –

Rencana pertemuan akbar aliran ajaran Mujahadah Nispusanah atau Wahidiyah yang akan digelar di  Lapangan Merdeka Tebing Tinggi tanggal 27 Februari 2016 mendatang, memicu polemik di kalangan masyarakat Kota Tebing Tinggi. Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) Kota Tebing Tinggi setelah menggelar rapat, Rabu (24/2/2016), akhirnya meminta  agar pihak ulama membatalkan pertemuan tersebut, dan merekomendasikan kepada Walikota serta Kapolres Tebing Tinggi untuk tidak menerima audiensi Wahidiyah.

Rapat yang dipimpin Ketua Bakorpakem  H Fajar Rudy Manurung yang juga menjabat Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Tebing Tinggi, dihadiri Kakan Kesbangpol Linmas Amas Muda, Kakan Kemenag HM Hasbie, Ketua MUI H Ahmad Dalil Harahap, Ketua FKUB Abu Hasyim Siregar, Danramil Tebingtinggi Kapten Inf Salehan, Pasi Intel Kodim 0204 DS, Kasi Intel Kejaksaan, Kabag Hukum Pemko serta camat se Kota Tebing Tinggi.

Ketua MUI Tebingtinggi H Ahmad Dalil Harahap mengatakan, atas keberadaan ajaran Wahidiyah di Kota Tebingtinggi, MUI Kota Tebingtinggi telah meminta fatwa kepada MUI Sumut. Namun sampai saat ini MUI Sumut belum mengeluarkan fatwa, karena MUI Sumut masih disibukkan dengan proses penyusunan kepengurusan.

“Informasinya masih dalam proses”, terang Ahmad Dalil.

Akhirnya dengan menggunakan referensi keputusan MUI Tasikmalaya yang menyatakan ajaran Wahidiyah telah menyimpang dari ajaran Qur’an dan Hadist, rapat memutuskan untuk menyampaikan rekomendasi kepada Walikota dan Kapolres agar tidak menerima audiensi Wahidiyah, sehingga kegiatan yang akan dilaksanakan tanggal 27 Pebruari 2015 itu tidak jadi dilaksanakan di Kota Tebingtinggi.

Selain itu rapat memutuskan, menunggu turunnya Fatwa MUI Sumut, kegiatan yang dilaksanakan oleh Aliran Wahidiyah tetap akan di pantau, dan kepada Ustadz yang sudah bergabung dengan Wahidiyah agar diberikan pembinaan oleh MUI Tebingtinggi dan Kemenag Kota Tebingtinggi.

Alirah Wahidiyah dianggap menyimpang karena ‘Ghauts Hadza Zaman’ mempunyai kewenangan Jallab dan Sallab (menanamkan dan mencabut iman seseorang), mendoktrin umat untuk meyakini mualip sholawat Wahidiyah yang bernama Mbah H Abdul Majid RA sebagai Ghauts Hadza Zaman. Bahwa kalau tidak ada Ghauts Hadza Zaman (Mbah H Abdul Majid-red), maka Allah akan menghancurkan dunia sekarang. Mbah H Abdul Majid dianggap sebagai juru selamat bagi umat zaman sekarang.(iss)

Foto: Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) Kota Tebing Tinggi menggelar rapat untuk menyikapi rencana pertemuan akbar Wahidiyah, Rabu (24/2/2016). (bataktoday/iss)

  • Bagikan