Tradisi “Binda” Harimau di Pangaribuan, Warga Tidak Pernah Berburu

  • Bagikan

Tapanuli Utara, BatakToday

Langkah naas dialami seekor harimau sumatera (bahasa Latin: panthera tigris sumatrae), ketika dia masuk jerat babi hutan yang dipasang di sekitar areal perladangan Desa Silantom Julu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, pada hari Senin (7/3) lalu.

Ronal Simatupang yang menggeluti pekerjaan sebagai penjerat babi hutan di sekitar perladangan warga, tidak pernah bermaksud menyasar harimau untuk setiap jerat yang dipasangnya. Pekerjaan ini bagi Ronal bertujuan untuk memperoleh babi hutan, yang memiliki nilai ekonomis, sekaligus mengurangi gangguan babi hutan yang sering merusak tanaman di perladangan warga kampungnya, Silantom Julu.

Ketika menemukan seekor harimau terperangkap pada jerat yang dipasangnya, Ronal begitu terkejut, segera bergegas dan berlari menuju kampungnya untuk memberitahukan kejadian itu.

Berita tentang harimau yang terjerat menyebar begitu cepat ke desa-desa di sekitar Silantom Julu. Tersiarnya berita itu mengundang kehadiran warga dari 6 desa untuk berbondong-bondong mendatangi lokasi  kejadian.

Karena harimau masih  dalam keadaan hidup, warga akhirnya memberitahukan kejadian itu ke pihak Polsek Pangaribuan.

Oloi Simatupang, tokoh masyarakat Desa Silantom Julu, ketika dikonfirmasi BatakToday pada Kamis (10/3), menjelaskan bahwa harimau sumatera itu mati setelah ditembak oleh personil Polsek Pangaribuan.

“Harimau itu berupaya melepaskan diri, jeratnya hampir putus. Untuk mengantisipasi resiko terhadap warga yang ramai di tempat kejadian, maka personil Polsek Pangaribuan mengambil tindakan melumpuhkan harimau dengan 7 kali tembakan dibagian kepala harimau,” jelas Simatupang.

Setelah dipastkan mati, bangkai harimau sumatera itu pun dibawa ke Silantom Julu. Di daerah ini ternyata ada kebiasaan sejak jauh hari sebelumnya, untuk melakukan binda (membagikan daging hewan atau ternak, red.) untuk setiap harimau yang terjerat.

Hal ini dianggap sebagai “obat” untuk menghilangkan trauma atau rasa takut terhadap keberadaan harimau di hutan yang ada di sekitar pemukiman masyarakat.

Setelah warga melakukan pertemuan, yang juga dihadiri kepala desa Silantom Julu, dan beberapa kepala desa sekitar, tokoh masyarakat, serta aparat desa, akhirnya diajukan permohonan yang ditandatangani oleh pihak pemerintah desa dan tokoh masyarakat, untuk meminta kepada pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, melalui Polisi Kehutanan,. agar bangkai harimau diserahkan kepada masyarakat sekitar

Bangkai harimau sumatera yang terjerat di perladangan warga, setelah dibawa ke tengah kampung, Desa Silantom Julu, Senin 7/3/2016 (doc.warga-silantom-julu)
Bangkai harimau sumatera yang terjerat di perladangan warga, setelah dibawa ke tengah kampung, Desa Silantom Julu, Senin 7/3/2016 (doc.warga-silantom-julu)

Tokoh pemuda Silantom Julu, Oskar Pasaribu membenarkan bahwa masyarakat menginginkan bangkai harimau itu untuk diserahkan kepada masyarakat sekitar.

“Kami meminta dan memohonkan  kepada  pihak Kepala Seksi Perlindungan, Pengawetan dan Perpetaan BBKSDA-Sumut, agar bangkai harimau itu jangan dibawa. Karena sudah tradisi bagi kami, daging harimau ini dibagikan ke seluruh warga yang ada di 6 desa sekitar kampung kami. Permohonan itupun dikabulkan oleh pihak BBKSDA, dengan dilandasi surat permohonan resmi yang ditanda tangani oleh aparat desa, kepala desa dan tokoh masyarakat setempat,” ujarnya.

Akhirnya bangkai harimau, diperkirakan 65 kg, dibagi-bagikan kepada masyarakat yang tinggal di Silantom Julu, dan 5 desa lain di sekitarnya. Kulit gigi, kuku dan kumisnya diserahkan kepada aparat dari kepolisian dan polisi kehutanan.

Belakangan, kematian harimau sumatera yang dilindungi oleh  Undang-Undang ini menjadi polemik dan sorotan para pecinta satwa langka. Pemberitaan di beberapa media cetak dan elektronik, termasuk di media sosial seperti Facebook, membuat warga berapa desa ini merasa dipojokkan. Isi informasi yang tersebar seolah-olah warga tanpa suatu alasan tertentu, begitu saja memotong dan membagikan daging harimau kepada warga keenam desa di sekitar lokasi kejadian.

Oloi Simatupang, buka suara untuk menjelaskan, bahwa hal tersebut merupakan tradisi di daerah itu.

“Menurut sejarah dari para orang tua kami dulu, sudah ada 5 harimau yang mati akibat terkena jerat. Daging harimau selalu kami bagi-bagikan ke seluruh warga 6 desa, dan itu sudah menjadi  tradisi para leluhur kami. Warga Silantom Julu tidak rela bila kematian harimau itu disebut semata-mata suatu kesalahan yang disengaja. Bila harimau tidak ditembak oleh aparat kepolisian, mungkin korban akan berjatuhan di lokasi kejadian,” protes Simatupang.

Simatupang melanjutkan lagi, bahwa masyarakat keberatan dituding dengan sengaja membunuh harimau itu.

“Kami warga Silantom Julu, merasa keberatan bila kami dituding dengan sengaja membunuh harimau. Dan kami tidak terima bila kami dituding menembak harimau tersebut, karena kami tidak memiliki senjata api, dan tidak pernah berburu harimau,” tegas Simatupang.

Informasi lain yang diperoleh BatakToday, bahwa di sekitar Desa Raut Bosi, yang bertetangga dengan Desa Silantom Julu, beberapa bulan lalu terjadi pembukaan hutan.

Sebagian warga menduga harimau itu terdesak dari hutan tersebut, dan kemudian terperangkap di perladangan warga Silantom Julu. (JS)

Foto:

Warga Silantom Julu dan sekitarnya, mengadakan rapat sebelum mengajukan permohonan untuk memperoleh bangkai harimau sumatera yang terjerat di perladangan warga, Desa Silantom Julu, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, Senin 7/3/2016 (doc.warga-silantom-julu)[youtube width=”100%” height=”300″ src=”4U1K1gu3Qn8″][/youtube]

  • Bagikan