Tebing Tinggi Gelar Festival Jaran Kepang

  • Bagikan

Tebing Tinggi, BatakToday –

Komitmen Pemerintah Kota Tebing Tinggi untuk mengeksploitasi keberagaman masyarakat kota untuk pengembangan sektor pariwisata terus bergulir. Setelah beberapa waktu lalu Walikota Umar Zunaidi Hasibuan mendorong pengembangan wisata kuliner dengan konsep China Town (baca juga: https://bataktoday.com/wali-kota-resmikan-kawasan-chinatown-tebing-tinggi), kali ini Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporabudpar)  Kota Tebing Tinggi menggelar Festival Jaran Kepang, dipadukan dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk.

“Festival ini untuk melestarikan budaya bangsa, dimana di negara kita ini banyak suku, banyak kebudayaan dan adat istiadat. Banyak anak-anak kita yang sudah tak mengenal lagi budaya kita karena minimnya kegiatan budaya yang kita gelar. Oleh karena itu kita menyambut baik Festival Jaran Kepang ini untuk mengembalikan semangat kita dalam melestarikan kebudayaan bangsa yang beraneka ragam ini,” ujar Walikota Umar saat membuka festival, Jumat (11/3/2016) sore.

Festival Jaran Kepang memperebutkan piala tetap Walikota dan Kapolres yang akan berlangsung dua hari (11-12/3/2016) di Lapangan Merdeka Sri Mersing. Festival diikuti peserta dari Tebing Tinggi, Serdang Bedagai, Batu Bara dan Simalungun.

Tampak hadir dalam acara pembukaan, Kapolres. Wakil Walikota, Ketua Puja Kesuma Tebing Tinggi para kepala SKPD, dan masyarakat Tebing Tinggi yang terlihat sangat antusias menyaksikan pagelaran buadaya Jawa ini.

“Sudah lama saya tidak melihat pagelaran jaran kepang dan wayang kulit secara langsung. Apalagi di Kota Tebing Tinggi sagat jarang ini digelar. Saya bangga dan sangat senang acara ini diadakan”, ujar Sugito, seorang warga Tebing Tinggi.

Jaran Kepang, Refleksi Heroisme

Jaran kepang atau jathilan atau kuda lumping, adalah tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu atau bahan lainnya yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda, dan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau di kepang. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna.

Tarian jaran kepang biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia, Suriname, Hongkong, Jepang, dan Amerika.

Konon, tari jaran kepang menggambarkan kisah seorang prajurit pemuda cantik bergelar Jathil, penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas, serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran kerajaan Bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan Lodaya pada serial legenda reog abad ke-8.

Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari jaran kepang merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan. (iss)

Foto: Salah satu grup menunjukkan kebolehannya pada pembukaan Festival Jaran Kepang di Lapangan Merdeka Sri Mersing Tebing Tinggi, Jumat (11/3/2016) sore. (bataktoday/iss)

  • Bagikan