Harlan Silitonga: Siapa Bilang Parmalim Sipele Begu?

  • Bagikan

Pematang Siantar, BatakToday

“Banyak anak kecil yang turut dalam acara Sipaha Sada itu, tapi hampir tidak terdengar suara tangisan, seperti yang sering terdengar kalau kita ikut acara-acara pesta atau peribadahan. Ada anak kecil yang menangis, tapi paling dua orang lah, itu pun tidak heboh atau stress gitu,” demikian Harlan Silitonga (53) mengawali perbincangan dengan BatakToday, Siantar Sabtu (12/3), tentang pengalamannya menghadiri acara Sipaha Sada, Tahun Baru Batak, di Desa Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir.

Harlan, warga asal Siantar yang berdomisili di Jakarta, puluhan tahun lamanya menyimpan rasa “penasaran” dengan keberadaan agama Malim, yang penganutnya disebut Parmalim.  Yang dia dengar pada masa kanak-kanaknya, kerap dikatakan orang-orang yang “agamais”, di lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan gereja tempatnya beribadah, menyebutkan seolah Parmalim itu adalah sipele begu (penyembah arwah, pemberi sesajen kepada arwah).

Di kemudian hari, pada masa Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nias-Aceh pasca tsunami 2004, ketika bekerja di Aceh, Harlan punya seorang anak buah beragama Malim. Pengakuan Harlan, sikap anak buahnya itu menggambarkan suatu tingkat peradaban yang sudah matang. Sederhana tetapi rasional dan bijaksana, jauh dari gambaran sipele begu yang menurut dia tidak rasional.

sembahyang 2
Dengan hening mengikuti acara doa bersama di awal tahun (harlan’s)

“Saya jadi heran, kenapa dulu dibilang orang agama Malim atau Parmalim itu sipele begu. Pernah punya anak buah yang beragama Malim, sewaktu kerja di Aceh. Begitu matang, rasional dan sangat dewasa. Orangnya tenang, memancarkan kedamaian, dan bijaksana. Seolah proses pencarian dan pematangan diri sudah selesai untuknya. Malah beda dengan yang lain, terutama dalam hal untuk mendapatkan materi. Kita berikan upah lebih saat kerjanya lebih, malah dia menolak. Dia bilang apa yang dia dapat sudah cukup. Sehari-hari juga tidak pernah mau berselisih dengan siapa pun, selalu mengalah. Pembawaannya damai, semacam ada sesuatu yang jernih mengalir di jiwanya,” demikian Harlan menggambarkan.

Rumah Parsattian, tempat perayaan Sipaha Sada (harlan's)
Rumah Parsattian, tempat perayaan Sipaha Sada (harlan’s)

Di kesempatan lain, Harlan kemudian mencari tahu, dari literatur yang ada, apa sebenarnya agama Malim atau Parmalim itu.

Kemudian seperti terobsesi, bahwa satu saat akan menyaksikan langsung kehidupan seperti apa sebenarnya yang berlangsung di lingkungan masyarakat penganut agama Parmalim, maupun pelaksanaan acara peribadahan agama Malim.

Demikianlah, bersamaan dengan kegiatannya berapa bulan terakhir ini di Tapanuli Utara, Harlan akhirnya mendapat kesempatan untuk melihat secara langsung acara peribadahan atau ritual perayaan Sipaha Sada di Hutatinggi.

Harlan memilih untuk datang pada hari kedua, dengan alasan bahwa hari pertama didominasi puasa seharian.

Melihat dari dekat suasana perayaan Sipaha Sada, Tahun Baru Batak, pada hari ke-2, Kamis (10/3) bagi Harlan jauh dari gambaran acara-acara adat orang Batak seperti yang biasa dia ikuti sebelumnya.

“Tidak ada hiruk pikuk sebagaimana kita temukan dalam pesta-pesta adat Batak masa kini,” begitu penilaiannya.

Suasana tenang, teratur dan hikmat, bahkan Harlan mengatakan ini “bukan” acara orang Batak, seperti yang dia bayangkan sebelumnya.

Menurut Harlan lagi, pada perayaan Sipaha Sada tercermin tingkat peradaban orang Batak yang sesungguhnya, dan ini hanya dapat dia temukan di Hutatinggi.

Bagaimana muda-mudi menyiapkan makanan untuk perayaan dengan “senyap”, tidak dipenuhi suara-suara “berisik” seperti pada pesta-pesta orang Batak sebagaimana lazim ditemukan hari-hari terakhir ini.

Santap bersama yang didahului kaum wanita dan anak-anak, disusul kaum pria secara bergantian, dan sangat tertib.

Saat menuju Rumah Parsattian, yang muda sabar mendahulukan orangtua. Dengan tenang memasuki tempat acara, dan tidak riuh saat mengambil tempat.

Kain / sorban putih dikepala menandakan pria yang sudah berkeluarga
Kain / sorban putih dikepala menandakan pria yang sudah berkeluarga (harlan’s)

Semua orang terlihat serius, bahkan anak-anak kecil, dengan khusuk mengikuti acara acara doa bersama mengawali Tahun Baru Penanggalan Batak. Bermohon kepada Debata Mula Jadi Nabolon, untuk memohon berkat dan keselamatan dalam menjalani tahun yang baru.

Ekspresi dari setiap orang yang turut dalam acara peribadahan sekaligus perayaan ini, menunjukkan keseriusan yang bermuara pada kekhusukan.

“Jangan berharap untuk menemukan orang-orang yang berbisik-bisik satu dengan yang lain. Bahkan sewaktu manortor (menari), tidak bakal kita lihat ada gerakan yang sembarangan. Anak-anak kecil yang ikut dengan ibunya, gerakannya saat manortor, sama saja dengan orang-orang dewasa dalam acara itu,” tutur Harlan.

Dan Harlan menyebut, kesimpulan dapat diambilnya tanpa perlu menunggu seluruh rangkaian acara selesai, bahwa Parmalim itu bukan sipele begu.

“Bagaimana kita mau bilang agama Malim atau Parmalim itu sipele begu. Mereka punya Tuhan yang mereka sembah dan muliakan, punya Debata Mula Jadi Nabolon,” tegas Harlan.

Setelah rangkaian acara, ulaon, pada hari itu berakhir, Harlan berkesempatan bertemu dan berbincang dengan Monang Naipospos, salah satu tetua Parmalim.

Dari pembicaraan itu diketahui bagaimana Parmalim sangat menghormati keberadaan manusia lain, dan sangat peduli untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan alam sekitarnya.

Sebagai contoh, Parmalim tidak sembarangan menebang pohon. Jika harus menebang pohon, harus menanam pohon baru sebagai pengganti pohon tersebut.

Juga tentang eksploitasi alam, Parmalim punya pandangan bahwa dari usahanya, manusia akan selalu dicukupkan, asalkan dalam upayanya manusia juga meminta dengan sepenuh hati kepada Debata Mula Jadi Nabolon. Sehingga tidak perlu cemas, dan kemudian mengambil secara berlebihan.

Hal ini ditunjukkan saat hasil panen padi terlebih dahulu disimpan di lumbung, bukan dijual dari tengah sawah, untuk mendapatkan uang dalam jumlah banyak.

Ini menjadi satu bahan permenungan tentang tujuan dari suatu usaha atau pekerjaan. Arti kata, kekayaan duniawi juga ternyata bukan suatu keutamaan dalam pandangan agama Malim.

Harlan Silitonga berbincang tentang agama Malim dengan Monang Naipospos, salah satu tetua Parmalim (harlan's)
Harlan Silitonga berbincang tentang agama Malim dengan Monang Naipospos, salah satu tetua Parmalim (harlan’s)

Sebelum mengakhiri perbincangan dengan BatakToday, Harlan Silitonga, menyampaikan pesan-pesan tentang agama Malim atau Parmalim. Intinya, dalam kerangka NKRI, dan penghormatan terhadap nilai-nilai yang berlaku universal, agama Malim harus diterima setara dengan agama lainnya di Indonesia, bahkan di dunia.

“Ini bukan tentang dogma, tapi yang jelas agama Malim itu harus dipandang dan diterima sebagai sebuah agama sebagaimana utuhnya, baik dalam bingkai Indonesia sebagai sebuah Negara Kesatuan, maupun dari nilai-nilai universalisme,” tegas Harlan.

Dan yang terakhir, Harlan kembali mengulangi, agar tidak menghubungkan agama Malim dengan sipele begu.

“Sampaikan kepada orang-orang, terutama orang kita Batak, Parmalim itu bukan sipele begu,” pesan Harlan mengakhiri. (ajvg)

Foto:

Gadis kecil, ikut manortor di belakang kaum ibu dalam Perayaan Sipaha Sada, Tahun Baru Batak, Desa Hutatinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Kamis 10/3/2016 (harlan silitonga/fb)

  • Bagikan