Jubel Purba: Yesus “Disalibkan Lagi”, Refleksi Tentang Kekristenan

  • Bagikan

Pematang Siantar, BatakToday

Aksi teatrikal Jemaat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Jalan Sudirman Pematang Siantar untuk menapaktilasi Perjalanan Sengsara Yesus Kristus (Via Dolorosa), dalam rangkaian Perayaan Hari Jumat Agung yang mengambil tempat di sepanjang jalan Sutomo pusat kota Siantar, Jumat siang (25/3), berlangsung khidmat dan mengharukan.

Seperti sering terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, hujan pada perayaan Jumat Agung kali ini terjadi saat berita ini diturunkan. Cuaca Kota Siantar yang beberapa hari sebelumnya, dari pagi hingga siang sangat panas, seperti juga dialami berbagai daerah di Sumatera dalam minggu terakhir ini, seolah turut “merayakan” Jumat Agung kali ini. Cuaca dalam tempo singkat berubah mendung dan berpetir selewat tengah hari, dan pada pukul 15.55 WIB hujan mulai turun di sekitaran Jalan Sudirman tempat BatakToday melakukan peliputan.

Sebelumnya, dalam napaktilas Perjalanan Sengsara Yesus Kristus, yang diikuti ratusan jemaat GKPS Sudirman yang terletak di pusat Kota Siantar, yang juga disaksikan masyarakat yang tidak mengikuti ibadah Jumat Agung, terlihat banyak peserta napaktilas yang berurai airmata, tak mampu menahan tangis, menyaksikan “pengulangan” dari apa yang ditulis dalam Alkitab tentang penderitaan Yesus saat diarak menuju Bukit Golgota untuk disalibkan.

Gambaran tentang penederitaan Yesus Kristus dalam Via Dolorosa, Pematang Siantar 25/3/2016 (ajvg/bataktoday)
Gambaran tentang penederitaan Yesus Kristus dalam Via Dolorosa, Pematang Siantar 25/3/2016 (ajvg/bataktoday)

Makian, hinaan, “cambukan”, pukulan dan tendangan yang diperankan peserta yang terdiri dari jemaat tua muda, laki-laki perempuan membuat iring-iringan Via Dolorosa yang berakhir di gedung Gereja GKPS Sudirman dipenuh isak tangis.

Amatan BatakToday, meskipun “hanya” aksi teatrikal, Anto “Bara” yang “memanggul” salib Yesus dalam aksi ini, kerap terhuyung mendapat tendangan “terukur” dari peserta lainnya.

Setiap kali dipertunjukkan bagaimana Yesus tersungkur di aspal menuju “Golgota” yang berada di ruang peribadahan Gereja GKPS Sudirman, maka setiap kali juga jemaat yang ada dalam iring-iringan terlihat sesenggukan, tidak pandang laki perempuan, maupun tua muda.

Suasana mengharukan ini berlangsung hingga iring-iringan jemaat dalam napaktilas dan aksi teatrikal Via Dolorosa kemudian memasuki ruangan peribadahan.

Sejumlah jurnalis terlihat menahan diri untuk tidak memasuki ruangan peribadahan untuk melanjutkan peliputan.

Sesaat setelah iring-iringan memasuki ruang peribadahan, dimana akan dilanjutkan dengan penggambaran peristiwa penyaliban Yesus Kristus, sebagai bagian dari ibadah perayaan Jumat Agung, Hari Kematian Yesus Kristus, BatakToday berbincang sejenak dengan Jubel Purba, salah seorang jemaat GKPS Sudirman.

Jubel mengatakan aksi teatrikal Via Dolorosa adalah salah satu cara untuk mengingatkan jemaat tentang Karya Penebusan Yesus Kristus terhadap umat manusia.

“Yang saya mengerti dari peristiwa penyaliban dan kematian Yesus, di situlah awal dari lahirnya Kristen, bukan pada kelahiran Yesus. Tanpa kematian Yesus, Kristen tidak akan pernah ada,” ujar Jubel.

Dia melanjutkan, bahwa dengan melihat dan terlibat dalam Via Dolorosa, jemaat akan berefleksi tentang Kekristenan.

“Dengan melihat, apalagi mengikuti napaktilas Perjalanan Sengsara Yesus Kristus, itu menjadi introspeksi dan refleksi tentang Kekristenan dalam diri kita,” simpulnya. (ajvg)

Foto:

Jalan Sengsara Yesus Kristus, Via Dolorosa, yang dibawakan Jemaat GKPS Sudirman Siantar dalam rangkaian Perayaan Jumat Agung, Hari Kematian Yesus Kristus, pusat Kota Pematang Siantar, Jumat 25/3/2016 (ajvg/bataktoday)

  • Bagikan