Pesan dari Kuburan Lama Siantar: “Tidak Mau Rawat Makam, Diperabukan Saja”

  • Bagikan

Pematang Siantar, BatakToday-

Meski seluruh denominasi gereja di Kota Pematangsiantar sepakat tidak lagi menggelar ibadah Perayaan Paskah di lokasi pemakaman, namun tetap saja banyak warga yang berziarah pada Minggu (27/3/2016) dinihari di Pekuburan Kristen Jalan Laguboti (masyarakat memberi nama Kuburan Lama-red) maupun Pekuburan Kristen Jalan Parsoburan (Kuburan Baru-red), sebagaimana tradisi umat Kristiani Kota Pematangsiantar sejak puluhan tahun.

Amatan BatakToday, beberapa ruas jalan di sekitar Kuburan Lama mengalami kemacetan akibat deretan panjang kendaraan roda empat yang mencari lokasi parkir di sepanjang Jalan Laguboti, Jalan Parsoburan dan Jalan Narumonda Atas.

Para peziarah menyalakan lilin di makam keluarganya masing-masing di Kuburan Lama Pematangsiantar, Minggu (27/3/2016). (bataktoday/ajvg)
Para peziarah menyalakan lilin di makam keluarganya masing-masing di Kuburan Lama Pematangsiantar, Minggu (27/3/2016). (bataktoday/ajvg)

Terlihat pemuda setempat sibuk mengatur parkir kendaraan yang menjadi sumber penghasilan musiman mereka.

Demikan halnya para pembersih makam, warung-warung dadakan dan penjual lappet (lepat) tak ketinggalan mengais rezeki dinihari dengan menyediakan barang dagangan atau jasa untuk memenuhi kebutuhan para peziarah.

Menatap dari tepi pekuburan, terlihat tebaran cahaya lilin yang dinyalakan para peziarah di makam keluarganya masing-masing. Harmoni alunan musik dan tarikan suara penyanyi lokal dari panggung yang disediakan salah satu pasangan calon peserta Pilkada Siantar turut meramaikan suasana pagi di Kuburan Lama.

Herbet Nainggolan, yang bersama keluarganya sedang menziarahi makam Ompung (kakek atau nenek) mengatakan, Paskah adalah momen untuk berkumpul dengan keluarga.

“Biasanya Paskah jadi kesempatan kita kumpul sekaligus ziarah bersama, terutama dengan keluarga yang tinggal di luar kota. Cuma sekali ini, yang jauh-jauh tidak bisa datang,” ujarnya.

Menurut Herbet, tradisi ziarah dan berdoa bersama dengan keluarga besar sangat positif dalam membina silaturahmi diantara sesama anggota keluarga.

Penjual bunga di salah satu sudut Jalan Laguboti simpang Jalan Bahagia, Pematangsiantar, Minggu 27/3/2016 (bataktoday/ajvg)
Penjual bunga di salah satu sudut Jalan Laguboti simpang Jalan Bahagia, Pematangsiantar, Minggu 27/3/2016 (bataktoday/ajvg)

“Memang setiap saat kita bisa berdoa, tapi momen untuk berdoa bersama saat kumpul dengan keluarga besar seperti ini pasti beda lah, terutama untuk anak-anak kita. Sadar tidak sadar, kalau kita ingat dan ceritakan kembali hal-hal baik dari keluarga yang sudah pergi duluan (meninggal-red.), jadi satu motivasi yang berpengaruh positif untuk anak-anaknya atau cucu-cucunya. Jadi, ziarah seperti ini jangan diartikan lain, kita lihat sisi positipnya, anggaplah untuk melihat jejak kebaikan yang pantas ditiru dari keluarga yang sudah duluan meninggal. Orang yang sudah meninggal tak bisa ngomong lagi, kita yang masih hidup ini yang sempat dengar dan kenal lah yang menyampaikan hal-hal baik yang mereka miliki. Itu kan semacam jamita (khotbah-red) juga, bang,” terangnya disambung dengan tawa.

Namun Herbet menyayangkan kondisi Kuburan Lama yang semakin tidak tertata. Ketika BatakToday mengambil contoh bahwa sekitar 30 tahun lalu masih ada jalan yang bisa diakses mobil jenazah ke tengah areal pekuburan, Herbet menyebut kecewa dengan kurangnya perhatian Pemerintah Kota Siantar untuk mengurus pemakaman umum selama ini.

Burhanuddin Hutagaol dan Sinaga, sehari-hari bekerja serabutan untuk membersihkan, memperbaiki atau membangun makam sesuai permintaan di Kuburan Lama Pematangsiantar, Minggu 27/3/2016. (bataktoday/ajvg)
Burhanuddin Hutagaol dan Sinaga, sehari-hari bekerja serabutan untuk membersihkan, memperbaiki atau membangun makam sesuai permintaan di Kuburan Lama Pematangsiantar, Minggu 27/3/2016. (bataktoday/ajvg)

“Payah bang, mengurus orang mati saja pemerintah kota kita ini tidak pernah becus lagi, cemana lagi mereka mengurus orang hidup,” tukasnya sambil mengangkat bahu.

Beberapa hari sebelum Jumat Agung biasanya menjadi “panen raya” bagi para pembersih makam. Namun pada perayaan Paskah dini hari itu, mereka tetap hadir untuk melayani permintaan dari para peziarah yang belum membersihkan makam pada hari-hari sebelumnya.

Baharuddin Hutagaol dan Sinaga, yang sehari-hari bekerja serabutan di Kuburan Lama, mengeluhkan banyaknya makam yang tidak terawat dan yang tidak pernah dibersihkan.

Menurut Hutagaol, pergeseran pandangan warga tentang hubungan orang hidup dengan orang mati sanga mempengaruhi kondisi kebersihan Kuburan Lama beberapa tahun terakhir.

“Entah kenapa lah lae, banyak orang sekarang yang tak perduli lagi sama kuburan orangtuanya. Sebagian ada yang bilang karena orang mati itu sudah putus hubungan dengan orang hidup, jadi kuburannya pun tak penting lagi untuk diurus. Berarti orang itu pun nanti kalau mati tak perlulah diurus,” ketusnya.

Senada, Hutagaol, salah satu jonggol (penguasa informal-red) Kuburan Lama, juga mengkritisi ketidakperdulian warga untuk merawat dan membersihkan makam keluarganya.

“Kalau tidak mau mengurus atau membersihkan kuburan orangtuanya atau keluarganya, lebih baik seperti di India sana, diperabukan saja kalau ada yang meninggal,” pungkas Hutagaol.

Penjual lappet (lepat) pulang lebih awal dari biasanya. (bataktoday/ajvg)
Penjual lappet (lepat) pulang lebih awal dari biasanya. (bataktoday/ajvg)

Ketika diberi gambaran tentang jasa perawatan makam dengan sistem iuran bulanan atau tahunan sebagaimana dilaksanakan pada pemakaman di kota-kota besar seperti Jakarta, Hutagaol mengatakan cara tersebut layak dilakukan di Kuburan Lama.

“Bagus, bisa itu kita buat disini. Misalnya mereka bayar iuran setiap bulan, kita bersihkan. Kalau seratus orang (pekerja) ada kita di sini,” ujarnya antusias.

Hari beranjak terang, beberapa peziarah yang datang belakangan terlihat membeli bunga di sudut Jalan Laguboti simpang Jalan Bahagia.

Terlepas dari semakin menururunnya kunjungan peziarah dari tahun ke tahun, penanda Hari Raya Paskah masih tertinggal di Kuburan Lama: penjual lappet selalu pulang lebih awal karena barang dagangannya lebih cepat habis dibanding hari biasa. (ajvg)

Foto: Fajar menyingsing di langit Kuburan Lama, Kampung Kristen, Pematangsiantar, Minggu (27/3/2016). (bataktoday/ajvg)

  • Bagikan