Kapolres Tobasa Perintahkan SPKT “Tolak” Laporan Warga Amborgang

  • Bagikan

Tobasa, BatakToday

Menganggap pihak lain melakukan pengrusakan atas tanaman jenis cengkeh, kemiri, pinus dan beberapa jenis tanaman keras lainnya di areal tanah ulayat yang secara turun-temurun dibawah penguasaan keluarga, keturunan Ompu Parimboho Sirait di Sibaja-baja, Dusun Aek Natio, Desa Amborgang, Kecamatan Porsea, melaporkan kejadian tersebut ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Toba Samosir di Porsea, Senin (28/3).

Keluarga keturunan Ompu Parimboho Sirait mengklaim lahan seluas 30 Ha ini sebagai lahan milik mereka, dengan alas hak Surat Keterangan Tanah yang diterbitkan pemerintah Kecamatan Porsea pada tahun 1980, ditandatangani camat Porsea saat itu, Drs Sahala Tampubolon.

Warga keturunan Op Parimboho Sirait, ahli waris lahan berdasarkan Surat Camat Porsea tahun 1980, di Sibaja-baja, Dusun Aek Natio, Desa Amborgang, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir 3/3/2016 (js/bataktoday)
Warga keturunan Op Parimboho Sirait, ahli waris lahan berdasarkan Surat Camat Porsea tahun 1980, di Sibaja-baja, Dusun Aek Natio, Desa Amborgang, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir 3/3/2016 (js/bataktoday)

Dalam surat itu dituangkan bahwa tanah adat yang terletak di Dusun Aek Natio tersebut diwarisi keturunan Op. Parimboho. Diterangkan juga bahwa keturunan Op. Parimboho belum membagi warisan tersebut, dan didalam surat disebut bahwa tanah itu tidak bisa diperjualbelikan oleh ahli waris .

Sebelumnya, ketika pihak lain yang diduga pengusaha dari Jakarta bernama Halasan Sirait memasuki lahan tersebut, keluarga keturunan Op Parimboho masih mengupayakan pendekatan untuk musyawarah. Mediasi coba dilakukan melalui para pengetua, kepala desa, camat dengan tembusan ke bupati Tobasa. Namun hingga berbulan lamanya mediasi tidak bisa terwujud, dan pekerjaan pembersihan tanaman di dalam areal tersebut berlangsung terus, bahkan dengan mendatangkan alat berat berupa backhoe excavator.

Hardiman Sirait, salah seorang ahli waris Op. Parimboho menjelaskan kepada Bataktoday bahwa situasi di lahan tersebut berubah mencekam oleh kehadiran 2 orang personil Brimob berseragam dan bersenjata senapan laras panjang. Selain itu disebutnya Halasan Sirait pernah mengeluarkan pistol saat mereka berada di lokasi itu.

“Kami pun pernah melihat Halasan Sirait yang katanya pengusaha sukses dan kaya raya dari Jakarta, yang mengaku sebagai pemilik lahan ini, menunjukkan pistol serta mengisi pelurunya. Saya dan keluarga lain yang ada di tempat saat itu pun jadi ketakutan,” tandasnya.

Untuk mengantisipasi terjadinya tindak kekerasan di lahan yang jadi objek permasalahan, akhirnya pihak keluarga keturunan Op Parimboho sepakat melapor ke Mapolres Toba Samosir di Porsea.

Namun warga keturunan Op Parimboho dari Desa Amborgang yang bermaksud melaporkan dugaan tindakan pengrusakan tanaman ke SPKT Polres Tobasa, harus kecewa dengan respon yang didapatkan dari petugas kepolisian yang menerima mereka.

Kapolres Tobasa AKBP Jidin Siagian mendatangi SPKT Polres Tobasa, kemudian memanggil dan memerintahkan personil yang sedang bertugas supaya menolak laporan warga tersebut.

“Kasus dari dusun Aek Natio Desa Amborgang tidak usah diterima laporannya, karena tidak memenuhi unsur pidana,” perintah Jidin.

Kapolres Tobasa AKBP Jidin Siagian, Porsea, Toba Samosir 10/12/2015 (js/bataktoday)
Kapolres Tobasa AKBP Jidin Siagian, Porsea, Toba Samosir 10/12/2015 (js/bataktoday)

Kemudian Jidin melanjutkan supaya pihak pelapor yang saat itu didampingi Kuasa Hukum agar berkoordinasi dengan pihak kejaksaan.

“Koordinasi dulu dengan pihak Kejaksaan Negeri Balige, apakah kasus ini layak dilaporkan atau tidak. Bila nanti ada petunjuk dari pihak kejaksaan untuk dilanjutkan, maka kami pihak Polres Tobasa akan menerima laporan atas pengrusakan itu,“ ujar Jidin.

Merasa tidak terima dengan pernyataan ini, warga dan kuasahukumnya mendebat Kapolres Tobasa. Donal Lubis SH dan Ramli Tambunan SH MH, kuasa hukum warga yang bermaksud melapor mengatakan akan menindaklanjuti penolakan pihak Pores Tobasa ini ke tingkat yang lebih tinggi.

“Kami akan menindaklanjuti pelaporan kami ini ke Poldasu, bahkan bila Poldasu juga menolak, pengrusakan ini akan kami laporkan ke Mabes Polri. Warga yang dirugikan harus mendapat perlindungan hukum dan kepastian hukum atas terjadinya pengrusakan ini. Menurut dugaan kami tindakan pengrusakan telah dilakukan oleh Halasan Sirait beserta 6 orang rekannya, yakni Mahadi Sirait, Pordin Sirait, Pargaulan Sirait, Jumari Sirait, Mampe Sirait dan Parmonangan Sirait “ tegas penasehat hukum warga ini. ( JS )

Foto:

Alat berat backhoe excavator dipergunakan untuk membersihkan lahan dari tanaman yang ada di dalamnya, di Sibaja-baja, Dusun Aek Natio, Desa Amborgang, Kecamatan Porsea, Kabupaten Toba Samosir 3/3/2016 (js/bataktoday)

  • Bagikan