Sang Maestro Bonar ‘Gorga’ Gultom Telah Pulang

  • Bagikan

Jakarta, BatakToday –

Sang maestro musik gerejawi Batak, Bonar ‘Gorga’ Gultom akhirnya kembali ke pangkuan Sang Khalik yang tak henti-henti dipujanya di sepanjang hidupnya, Senin (28/3/2016) pukul 22.56 WIB di Rumah Sakit Premier Jatinegara, Jakarta. Pria kelahiran 30 Juni 1934 di Siborongborong Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara ini disemayamkan di Rumah Duka Dharmais Ruang Gamet Slipi Jakarta Barat.

Perjalanan hidup pencipta lagu Arbab yang legendaris ini sangat berwarna dan cemerlang. Usai menjalani pendidikan SMA di Medan, Bonar muda yang sejak kecil gemar bersenandung ini memutuskan untuk bekerja karena kondisi keuangan orangtuanya tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan. Atas bantuan guru-guru yang sangat menyayanginya, Bonar memasukkan lamaran ke beberapa perusahaan di kota Medan.

Dan keberuntungan datang ketika sebuah perusahaan perkebunan NV Vereenigde Deli Maatschappijen memanggilnya untuk wawancara. Bukan hanya kepastian pekerjaan yang diperolehnya, tetapi perusahaan Belanda yang butuh ahli ekonomi itu justru menawarinya untuk melanjutkan pendidikan terlebih dahulu, sebelum mulai bekerja.

Akhirnya Bonar melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia atas tanggungan NV Vereenigde Deli Maatschappijen, dan meraih gelar sarjana ekonomi pada tahun 1963.

Selanjutnya, dengan kinerja dan loyalitas yang tinggi,  Bonar bekerja pada perusahaan yang menyekolahkannya itu, hingga perusahaan tersebut akhirnya dinasionalisasi menjadi perusahaan perkebunan negara.

Sebanding dengan kinerjanya yang baik, karirnya juga menanjak dengan cemerlang. Terakhir Bonar Gultom dipercaya menjabat Direktur Komersial dan Umum PT (Persero) Perkebunan XIII Bandung, Jawa Barat, dan pensiun pada tahun 1989.

Menggubah dengan Cinta

Terbilang sukses dalam pekerjaan, namun Bonar Gultom lebih dikenal dari kiprah dan karya-karya legendarisnya di bidang musik gerejawi dan opera Batak modern. Bonar adalah pelopor masuknya uning-uningan dan irama lagu Batak ke dalam gereja. Sebelumnya, lebih satu abad seni budaya Batak harus ‘berpisah’ dengan komunitasnya pada setiap prosesi dan ritual Kristiani.

Meski sejak belia bakat bernyanyi Bonar  sangat menonjol, dan selama kuliah di FE UI sempat menjadi asisten dedengkot paduan suara gereja EL Pohan,  kesibukannya di perusahaan membuatnya ragu untuk terlibat banyak di bidang seni tarik suara.

Namun berkat dorongan kuat Pdt Andar Lumbantobing dan Pdt Sutan Hutagalung (Bishop dan Sekjen GKPI kal itu-red), Bonar Gultom memberanikan diri menggarap dan menggelar drama musikal perdananya ‘Arga do Bona ni Pinasa’ yang mengangkat tema perbenturan budaya yang saat itu menjadi isu sosial yang hangat. Pagelaran itu menjadi momentum awal keterlibatan Bonar yang masif dalam pengembangan musik Batak secara umum, dan secara khusus musik gerejawi

Nama ‘Gorga’ yang diperankannya pada lakon itu akhirnya melekat menjadi ‘nama baru’ Bonar Gultom hingga akhir hidupnya.

“Pemuda bernama Gorga itu saya yang ciptakan, dan saya yang perankan sendiri. Saya harus mengarang ceritanya sendiri berikut lagu-lagunya. Leila Sitompul memerankan kekasih Gorga bernama Marlinang. Keterusanlah sampai sekarang si Marlinang itu menjadi istri saya,” kenang almarhum Bonar Gultom dengan jenaka kepada Job Palar, wartawan Sinar Harapan, beberapa tahun silam. Dan bukan hanya Bonar yang mendapat nama baru, istrinya Leila Sitompul juga akhirnya dipanggil ‘Bu Marlinang’ hingga saat ini.

Meski hanya belajar otodidak serta mengikuti beberapa seminar dan kursus, kecintaan putra pasangan Julianus F Gultom dan Marianna Naomas br Hutauruk ini pada musik menjadikannya sangat produktif dan kreatif. Tak kurang dari 150 komposisi diciptakannya selama hidupnya.

Komposisi ciptaan Gorga pada umumnya dinamis dengan loncatan-loncatan melodi khas Batak, digarap dengan apik dan detil, mulai intro, sopran, alto, tenor, bas, variasi, interlude, hingga coda. Selain paduan empat suara, Gorga juga menciptakan aransemen paduan suara untuk lagu-lagu Batak yang ada, seperti  Sitogol dan Ketabo.

“Lagu-lagu karyanya begitu bagus dan bisa dibawa masuk dalam situasi aransemen klasik, pop, atau apa pun. Loncatan-loncatan melodinya sangat khas, indah, dinamis, bahkan grande. Dan nuansa etnis Batak-nya sangat kental dan tidak pernah hilang,” puji penyanyi kondang Utha Likumahua pada suatu kesempatan.

Bonar ‘Gorga’ Gultom telah pulang ke rumah Sang Khalik, namun karyanya akan tetap berkumandang dari mulut, bahkan di relung-relung terdalam hati kita.

Nda tama endehonon ku

Pamujionku di Debata ku

O o nda tama halashononku

Denggan basaNa pangolu au.

 

Pujionku ma Jahowa

Marhite sordam manang tulila

O o pangkeon ku dohot arbab

Mambahen sangap di Tuhan i.

  • Bagikan