Harga BBM Turun, Biaya Hidup Buruh Tetap Mahal

  • Bagikan

Medan, BatakToday

Kebijakan pemerintah untuk menetapkan penurunan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sejak 1 April 2016 tetap saja tidak bisa mendorong penurunan harga kebutuhan hidup kaum buruh dan keluarganya.

Demikian dikatakan Willy Agus Utomo, Sekretaris DPW Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Sumut kepada wartawan di Medan, Sabtu (2/4), menyikapi penurunan harga BBM.

Menurut Willy, turunnya harga BBM sebesar Rp500 per liter itu tidak berarti apa-apa bagi kehidupan buruh.

“Toh biaya kebutuhan hidup kaum buruh dan masyarakat tetap saja mahal,” kata Willy.

Willy juga mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai justru memperburuk kondisi buruh dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Diantaranya, sebut Willy, kebijakan pemerintah yang membatasi kenaikan upah buruh dengan diterbitkannya PP Nomor 78 tahun 2015.

“Justru sebelum turun harga BBM, buruh sudah banyak tertekan akan kebijakan pemerintah sendiri. Dampaknya sudah upah murah, bayar listrik naik tinggi dan pastinya harga sembako sudah terus naik. Jadi tak sebanding dengan penurunan harga BBM ini,” ujar Willy.

Untuk itu , tegas Willy, kalangan buruh menuntut pemerintah selayaknya dapat menurunkan harga BBM secara signifikan.

“Yakni  menjadi Rp5.000 per liter untuk premium dan Rp4.500 untuk solar, sehingga dapat meningkatkan daya beli buruh yang selama ini terus tertekan,” kata Willy.

Kalau penurunan harga BBM tersebut signifikan, kata Willy, maka biaya transportasi, sewa rumah dan harga kebutuhan bahan pokok juga akan turun secara signifikan sekitar 15%-20%.

“Ini berarti akan meningkatkan daya beli buruh dan masyarakat serta dapat meningkatkan konsumsi domestik,  sehingga secara bersamaan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan akhirnya bisa mencegah gelombang PHK lanjutan yang sedang mengancam,” tegas Willy. (AFR)

Foto:

Sekretaris DPW Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Sumut, Willy Agus Utomo,

  • Bagikan