Pengawasan Lemah, Elpiji Bersubsidi Langka di Humbahas

  • Bagikan

Pengawasan Lemah, Elpiji Bersubsidi Langka di Humbahas

Doloksanggul, BatakToday –

Kelangkaan pasokan elpiji bersubsidi tabung 3 kg kembali terjadi di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Kondisi itu memicu harga di pasaran meningkat jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Dermawati Lumbantoruan (35), seorang ibu rumahtangga kepada BatakToday Rabu,(6/4/2016) di Doloksanggul, mengeluh sulit mendapatkan elpiji tabung 3 kg. Kalaupun ada, keluh Dermawati, harganya mencapai Rp 25.000 per tabung, jauh diatas HET yang ditetapkan pemerintah.

“Kita kurang paham dikemanakan elpiji 3 kg. Kalaupun ada dijual di tingkat pengecer, harganya jauh melebihi HET. Mengapa pemerintah tidak melakukan pengawasan yang serius, padahal ini kerap sekali terjadi,” tukasnya.

Salahsatu pengecer, Marlin Simamora kepada wartawan mengaku, pihaknya sulit mendapatkan elpiji 3 kg.

“Tadi kita sudah mengantri lama di salahsatu agen LPG di Humbahas, namun karena pasokan yang kurang, mau tidak mau kita pulang dengan tangan kosong,” keluhnya.

Sementara, salah satu manajemen CV Gopas Masa Jaya selaku agen penyalur elpiji 3 kg, Parningotan Situmorang, kepada BatakToday mengatakan, terjadinya kelangkaan akibat minimnya kuota yang dialokasikan ke kabupaten Humbahas.

“Kuota dengan jumlah pemakai elpiji 3 kg tidak sebanding di Humbahas. Untuk kita saja hanya diberikan 2 DO per hari. Satu DO 560 tabung,” jelasnya.

Terkait harga jual di tingkat pengecer (pangkalan) yang jauh melampaui HET, Parningotan menjelaskan harga jual kepada pengecer Rp 15.500 per tabung. Pengakuannya, pihaknya selalu mengimbau pangkalan atapun pengecer untuk tidak menjual diatas HET yang ditetapkan pemerintah.

“Disamping menyalurkan gas, kita juga melakukan himbauan dan pembinaan kepada pangkalan kita. Kalau ada kita temukan menjual diatas HET, kita lakukan tindakan tegas dengan pencabutan sub pangkalan,” bebernya.

Senada, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Humbahas, Jhoni Waslin Purba, kepada BatakToday Rabu (6/4/2016) diruang kerjanya mengatakan, kecilnya kuota elpiji 3 kg menjadi pemicu kelangkaan maupun penyimpangan harga.

Mantan Kepala Bappeda Humbahas itu menjelaskan, kuota untuk Humbahas tahun 2015 lalu sebanyak 737.000 tabung, dan meningkat menjadi 897.000 tabung untuk tahun 2016. Namun menurutnya, berdasarkan hasil pantauan di lapangan, kuota tersebut masih tetap kurang. Hal itu dipengaruhi oleh peningkatan jumlah penduduk dan perkembangan Usaha Kecil Menengah (UKM).

“Kouta elpiji tabung 3 kg masih sangat jauh berbeda dengan kebutuhan masyarakat. Hal itu sudah kita surati kepada Pertamina agar dilakukan penambahan. Sehingga kedepan kebutuhan elpiji dapat terselesaikan. Kemudian pengecer atau pangkalan yang menjual di atas HET perlu dipidana,” tandasnya

Purba menjelaskan, pihaknya berencana mengusulkan kenaikan kuota menjadi 1.744.200 tabung untuk tahun 2017, yang diperkirakan akan dapat memenuhi kebutuhan 43.798 KK dan 1.052 unit usaha kecil dan menengah (UKM) yang menjadi sasaran penyaluran.

Ditanya tentang pengawasan yang dilakukan Diskoperindagkop, Purba mengeluhkan kurangnya personil sehingga pihaknya tidak dapat melakukan pengawasan secara maksimal.

Namun ia berjanji, dalam waktu dekat akan menggelar monitoring selama satu minggu penuh ke seluruh pangkalan yang ada di 10 kecamatan.

Amatan BatakToday di lapangan, kelangkaan juga dipicu masifnya konsumsi elpiji 3 kg oleh kelompok masyarakat mampu yang bukan sasaran penyaluran. Tidak ada pengawasan maupun himbauan dari pemerintah setempat kepada kelompok masyarakat mampu untuk tidak mengkonsumsi elpiji 3 kg. (FT)

Foto: Kepala Dinas Perindagkop Kabupaten Humbang Hasundutan, Jhon Waslin Purba. (bataktoday/ft)

  • Bagikan