Tekan Laju Inflasi, TPID Ajak Masyarakat Tanam Bawang dan Cabai Merah

  • Bagikan

Pematangsiantar, BatakToday

Salah satu pemicu laju inflasi adalah kenaikan harga kebutuhan pokok terutama jenis bumbu-bumbuan, khususnya bawang merah dan cabai merah. Apalagi menjelang perayaan hari-hari besar keagamaan, kedua komoditi yang sebenarnya mudah dibudidayakan ini cukup melejit. Ironisnya, kerap terjadi di banyak tempat di Indonesia dalam kurun waktu yang bersamaan. Demikian release Humas Pemko Pematangsiantar yang diterima redaksi BatakToday, Kamis (28/4)

Untuk itu, Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Pematangsiantar, Zainal Siahaan SE serta Kepala Badan Ketahanan Pangan Drs.Tuahman Saragih, mengusulkan upaya antisipatif dengan cara menggalakkan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Masyarakat sebagai konsumen juga harus dilatih dan diberdayakan untuk turut memikirkan lonjakan inflasi dengan cara menanam sendiri komoditi, minimal untuk dikonsumsi sendiri.

“Jika banyak warga melakukan upaya seperti ini, tentu lonjakan harga akibat minimnya pasokan bisa teratasi meski dalam jumlah terbatas,” ujar keduanya senada.

Keduanya sepakat untuk memberdayakan masyarakat agar tergerak membudidayakan sendiri bawang dan cabai maupun komoditi lainnya di pekarangan rumah. Diakui bahwa, masalah kebutuhan pokok kerap menjaci pemicu laju inflasi meskipun selama ini senantiasa bisa diantisipasi sehingga tidak sampai menimbulkan masalah terhadap perputaran ekonomi.

Hal tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Pematangsiantar yang dipimpin Wakil Ketua TPID, Elly Tjan (Pimpinan Cabang BI) didampingi Sekretaris TPID Drs.M.Akhir Harahap (Asisten Bidang Perekonomian) di Lantai 3 Bank Indonesia Cabang Pematangsiantar, Kamis pagi (28/4). Selain pihak BI, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Pematangsiantar, Sawaluddin Naibaho,M.Si juga turut menjadi narasumber.

“Untuk bulan Maret ini, inflasi kita dalam batas wajar sebesar 0,66 dan masih lebih kecil dari Sumatera Utara sebesar 0,84. Namun menjelang puasa dan lebaran bulan Juni mendatang, harus ada antisipasi sejak dini, terutama soal kebutuhan pokok pada komoditi bumbu-bumbuan,” ujar Kepala BPS.

Dalam cacatan BI, Elly Tjan mengakui, ada 5 jenis komoditi yang kerap menjadi pemicu dengan bobot inflasi masing-masing, yakni beras 4,49%, daging ayam ras 1,20%, cabai merah 0,88 %, ikan  68% dan bawang merah 0,49%. Beras, cabai dan bawang masalahnya kerap berkutat pada persoalan produksi yang tak maksimal akibat banyak faktor seperti cuaca, hama, pola tanam, konversi lahan dan sebagainya. Sedangkan daging dan ikan masalahnya dipicu minimnya pasokan akibat masalah teknis peternak dan nelayan.

Karena itulah, menurut M. Akhir Harahap, semua pihak terkait, baik lintas instansi Pemko maupun instansi vertikal seperti Badan Urusan Logistik (Bulog) dan Pertamina  yang mengurusi pasokan kebutuhan masyarakat senantiasa memetakan setiap kendala yang dihadapi, sehingga langkah-langkah antisipasi segera bisa dilakukan.

“Kita sebagai bagian dari pemerintah harus bertindak cepat, jangan sampai roda perekonomian di tengah masyarakat terganggu. Semua kebutuhan pokok harus dijamin ketersediaannya,” katanya.

Masalah lain yang menjadi fokus pembicaraan rapat bulanan TPID tersebut adalah tindak lanjut secara teknis, hasil Rapat TPID Kabupaten/Kota Sumatera Utara yang berlangsung di Parapat 21-22 April lalu. Ada sejumlah kesepakatan dalam Rapat yang dipimpin Sekda Provinsi Sumatera Utara Hasban Ritonga SH tersebut yang harus segera ditindaklanjuti masing-masing kabupaten/kota.

Masalah utama yang harus ditindaklanjuti adalah bagaimana pengembangan instrumen pengendalian harga yang terdiri dari sembilan item, diantaranya menstablikan harga komoditas di level petani dan kosumen serta menjamin ketersediaan pasokan kebutuhan sehingga tidak terjadi kelangkaan barang yang memicu lonjakan inflasi.

Selain BI, BPS dan Ketahanan Pangan, Rapat TPID ini juga dihadiri perwakilan Pertamina, Bulog, Bappeda, Dinas Pertanian, Bagian Perekonomian serta Bagian Humas Pemko Pematangsiantar.

Perlu Varietas Bawang Merah yang Sesuai

Terpisah, ketika BatakToday mendiskusikan isi release yang diterima dari Humas Pemko Pematangsiantar di atas dengan Ir. Rudy, alumnus Institut Pertanian Bogor yang sebelumnya mengikuti perkembangan tanaman hortikultura, menyebutkan daerah Siantar sekitarnya secara umum bukan tempat yang sesuai untuk penanaman bawang merah.

“Perlu dicari varietas bawang merah yang sesuai dengan jenis tanah dan iklim Kota Siantar dan sekitarnya. Kalau untuk cabe merah tidak ada masalah, banyak varietasnya, tidak terlalu rumit apalagi untuk skala tanaman pekarangan. Cabe merah lebih applicable,” jelas Rudy.

Rudy menambahkan, cabe rawit bisa menjadi penyeimbang untuk fluktuasi harga cabe merah.

“Untuk selera dan kebutuhan sehari-hari masyarakat di Siantar ini cabe rawit bisa jadi solusi alternatif. Cabe rawit bisa dijadikan sebagai substitusi sebagian kebutuhan cabe merah, sehingga kenaikan harga cabe merah di pasaran, dalam jangka pendek bisa tertekan dengan sendirinya. Hukum pasar kan berlaku, supply-demand, ketika timbul gejala kenaikan harga cabe merah, dengan adanya barang substitusi yaitu cabe rawit, itu akan menekan kenaikan harga cabe merah,” ujarnya.

Menurut Rudy lagi, perlu dilakukan sosialisasi tentang perlunya pengembangan tanaman pekarangan, baik cabe merah maupun cabe rawit.

“Itu masalah sosialisasi, masyarakat sadar atau tidak bahwa cabe merah itu salah satu komponen yang mempengaruhi inflasi. Harus ada yang menyampaikannya kepada masyarakat Siantar ini. Tanamlah juga cabe rawit, itu lebih gampang, umurnya lebih panjang dan perawatannya lebih sederhana,” ujarnya. (rel/ajvg).

Foto:

Rapat Koordinasi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Pematangsiantar, di Lantai 3 Bank Indonesia Cabang Pematangsiantar, Kamis 28/4/2016 (dok. humas pemko siantar)

  • Bagikan