Seruan Penghentian Pelecehan terhadap Adat dan Budaya Batak

  • Bagikan

Pematangsiantar, BatakToday

Redaksi BatakToday menerima press release yang dikirim oleh Roganda Simanjuntak dari Aliansi Masyarakat Adat Nasional Tano Batak (AMAN Tano Batak) yang menyatakan diri sebagai perwakilan Masyarakat Adat Batak, dengan judul “Seruan Penghentian Pelecehan terhadap Adat dan Budaya Batak”, Minggu (15/5) pukul 16.22 WIB.

Gambar tindakan pembakaran Ulos Batak oleh Bahyu Gunawan Pardede (facebook/pecinta budaya Batak)
Gambar tindakan pembakaran Ulos Batak oleh Bahyu Gunawan Pardede (facebook/pecinta budaya Batak)

Press release ini sebagai reaksi terhadap postingan di salah satu media sosial yang menampilkan pembakaran Ulos Batak, yang sebelumnya dimuat pada dinding akun Facebook atas nama Bahyu Gunawan Pardede.

Saat BatakToday mencoba menelusuri di media sosial, ternyata postingan tersebut telah hilang dari dinding akun Facebook milik Bahyu Gunawan. Yang dapat ditemukan di akun tersebut adalah permintaan maaf atas tindakan pembakaran Ulos Batak yang dilakukan Bahyu.

Komentar sebagai reaksi atas postingan yang berisikan pembakaran ulos pada laman Pecinta Budaya BATAK, saat berita ini diturunkan, terdapat 352 komentar, dan dan dibagikan sebanyak 52 kali. Terdapat berbagai jenis komentar, mulai dari pro kontra hingga komentar yang sifatnya menghujat.

Berikut ini dimuat press release yang mengatasnamakan Masyarakat Adat Batak:

Seruan Penghentian Pelecehan terhadap Adat dan Budaya Batak

(Pembakaran Ulos, dll)

Masyarakat Adat Batak yang hidup secara turun temurun dan mendiami wilayah adat, dianugerahi kekayaan sumber daya alam dan khasanah budaya  hasil karya leluhur yang adi luhung serta diwariskan kepada anak cucu.

Salah satunya adalah Ulos Batak yang memiliki ragam dan corak, yang tentunya merupakan hasil peradaban leluhur suku bangsa Batak. Sehingga Negara dan Dunia mengakui serta menetapkan keberadaan Ulos Batak sebagai warisan budaya yang dilindungi.

Ulos Batak juga telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda oleh Kementerian Parawisata dan Kebudayaan pada tahun 2014 yang lalu. Tanggal 17 Oktober ditetapkan sebagai Hari Ulos Nasional.

Seiring perkembangan zaman, ulos telah mengambil hati masyarakat internasional. Telah dimuliakan dan dikreasikan menjadi produk tekstil yang tidak kalah mutunya dengan bahan–bahan kain tradisional lainnya.

Namun akhir–akhir ini, khususnya 16 tahun terakhir, telah terjadi keresahan ditengah tengah Masyarakat Adat Batak. Dimana pembakaran ulos kembali merebak, setelah seorang pendeta dari Balige mempublikasikan aksi bakar ulos di media sosial. Tentunya aksi membakar ulos tersebut merupakan bentuk pelecehan terhadap identitas Budaya Batak dan telah melukai hati masyarakat adat serta menimbulkan polemik yang meresahkan.

Oleh karena itu, kami mewakili Masyarakat Adat Batak menyerukan :

1.

Mendesak kepada pihak pembakar ulos (pendeta Gereja Zaitun Balige) untuk segera meminta maaf kepada seluruh Masyarakat Adat Batak,

2.

Menyerukan kepada seluruh sekte–sekte agama lainnya untuk tidak turut serta melecehkan atau merendahkan Adat dan Budaya Batak,

3.

Agar Pemerintah Daerah di Kawasan Tanah Batak menyusun dan mensyahkan Peraturan Daerah yang melindungi dan mengakui Hak–Hak Masyarakat Adat Batak,

4.

Segera menyatukan hati dan pikiran untuk segera merealisasikan pembentukan Dewan Adat Batak dan Pengadilan Adat Batak untuk menangani hal–hal yang yang berkenaan dengan Adat Budaya, Ugari, Patik dan Uhum Batak,

5.

Dihimbau kepada seluruh Masyarakat Adat Batak, agar menjungjung tinggi, melestarikan dan mempertahankan serta menghempang perbuatan–perbuatan yang melecehkan Budaya dan Adat Batak.

Demikian seruan ini kami sampaikan kepada seluruh masyarakat untuk dipahami dan diketahui maksudnya.

“Horas diparompa Uhum, Gabe ditea–tea Adat”

Horas…Horas…Horas…

Balige, 15 Mei 2016

Mewakili Masyarakat Adat Batak:

  1. Bonar Siahaan (Ompu Tumitang)
  2. Roganda Simanjuntak (AMAN Tano Batak)
  3. Hotpangidoan Panjaitan
  4. Nando Pangaribuan
  5. Reinhart Sinaga (Nagoes Puratus)

(ajvg)

Foto:

Dinding akun Bahyu Gunawan Pardede, yang berisikan pernyataan maaf atas postingan pembakaran Ulos Batak (facebook/bahyu gunawan pardede)

  • Bagikan