Satpol PP Siantar Robohkan Rumah yang Kembali Dibangun Penggarap di Bantaran Sungai Toge

  • Bagikan

Pematangsiantar, BatakToday

Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Pematangsiantar kembali merobohkan hunian yang coba dibangun kembali oleh para warga penggarap di bantaran Sungai Toge Jalan Nias Belakang, Kelurahan Toba, Kecamatan Siantar Selatan pada Senin (30/5/2016) sekitar pukul 10.00 WIB. Sebelumnya, bangunan liar di lokasi itu telah dirobohkan pada Kamis (26/5/2016) lalu.

Sesaat setelah tiba di lokasi, sekitar 30 personil Satpol PP dipimpin langsung Kepala Satpol PP Julham Situmorang langsung membongkar bangunan yang coba didirikan kembali. Pembongkaran disambut teriakan ibu-ibu yang menilai tidak adil karena pemko hanya berani kepada warga miskin, terbukti dengan masih banyaknya bangunan yang berdiri di atas bantaran sungai namun tidak ditertibkan.

Hotmaida Rumapea (24) seorang warga penggarap mengajukan protes dan  marah-marah karena kaca lemari  yang digunakan menjadi salah satu dinding hunian yang kembali didirikannya pecah akibat terjatuh saat eksekusi.

“Dari tadi aku tidak ada melawan kalian. Tapi kok gini  cara kalian membongkar?. Udah pecah kaca lemariku itu. Apalagi tempat barangku. Kalian gantilah itu,” teriaknya, namun tidak ditanggapi oleh personil Satpol PP.

Keributan kembali terjadi saat beberapa orang ibu mencoba naik ke atas mobil dalmas yang digunakan Satpol PP untuk mengangkut kayu dan seng bekas bongkaran.

Bantaran Sungai Toge Diperjualbelikan

Sementara itu, orangtua Hotmaida, N boru Lumbanraja kepada BatakToday mengatakan, mereka sudah 4 tahun tinggal di bantaran Sungai Toge, dengan  membayar uang sebesar Rp 3 juta kepada salah satu warga  yang mengaku telah  meratakan tanah di sekitar bantaran sungai sebagai uang ganti rugi.

“Temanku yang memberitahu  kepadaku tempat ini. Katanya dia yang meratakan tanah ini, jadi dia meminta uang ganti cangkul sebesar 3 juta,“ terang N boru Lumbanraja dengan wajah sedih sambil menunjuk kepada seorang ibu berbaju merah dan berkacamata, yang menurut informasi berinisial S boru T.

Terpisah, Lurah Toba Lamhot Parulian Gultom saat dikonfirmasi mengakui mendengar informasi adanya transaksi jual beli lahan bantaran Sungai Toge. Namun karena tidak ada bukti, Lamhot tidak bisa berkomentar lebih jauh.

“Saya juga ada dengar itu. Tapi sulit dibuktikan, karena itu saya dengar omongan dari warga dan saya tidak bisa lebih jauh menindaklanjutinya ” ujar Lamhot saat ditemui di ruang kerjanya.

Ditanya tentang solusi yang akan diberikan kepada warga yang terkena penggusuran, Lamhot mengaku tidak dapat menanggapi.

“Saya sebagai Lurah tidak mempunyai wewenang untuk memberi solusi. Sesuai aturan mereka itu memang salah mendirikan rumah disitu. Tapi dari sisi kemanusiaan sebagai tanggung jawab pemerintah, nggak mampu saya menjawab,” ucap Lamhot.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Tim Penegakan Perda Kota Pematangsiantar melakukan pembongkaran terhadap 22 unit rumah yang berada di daerah aliran sungai (DAS) Toge Jalan Nias Kelurahan Toba Kecamatan Siantar Selatan, Kamis (26/5/2016) pagi (baca juga: https://bataktoday.com/tim-penegak-perda-bongkar-22-rumah-di-das-sungai-toge-siantar) (AT)

Foto: Personil Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Pematangsiantar kembali merobohkan hunian yang coba dibangun kembali oleh para warga penggarap di bantaran Sungai Toge Jalan Nias Belakang, Kelurahan Toba,[youtube width=”100%” height=”300″ src=”fREwZ-Yks1g”][/youtube]

  • Bagikan