Jones Sirait: Sebelum Badan Otorita, Usut Dulu Dugaan Korupsi Laten di Ajibata

  • Bagikan

 

Jakarta, BatakToday –

Pembentukan Badan Otorita Danau Toba dinilai sia-sia jika pemerintah dan aparat hukum terkait tidak mau melakukan perubahan dengan menindak tegas oknum-oknum yang diduga terlibat korupsi laten, khususnya di Dinas Perhubungan dan Dinas Pasar Kabupaten Toba Samosir (Tobasa).

Menurut Direktur Pusat Analisis Informasi Pariwisata (PAIP) Jones Sirait melalui rilisnya kepada BatakToday, hari ini, Kamis (2/6/2016), korupsi dan sikap arogan penguasa di daerah akan menjadi kontraproduktif terhadap rencana apapun yang dilakukan pemerintah pusat.

Terutama di Ajibata, lokasi pusat  pelabuhan terpenting menuju Pulau Samosir, pintu gerbang ekonomi Tobasa di bagian barat, dan salah satu kawasan yang diusulkan menjadi salah satu dari areal 500 hektar yang akan dikelola secara otoritatif oleh Badan Otorita Danau Toba.

“Jadi saya minta Pemkab Tobasa mencermati hal ini, karena Ajibata sendiri sudah memiliki luka lama terkait pembangunan pariwisata. Masyarakat dibodohi atas nama pembangunan yang dulu dikenal dengan nama proyek perusahaan inti rakyat (PIR) tahun 1974. Karena itu, perubahan mentalitas pejabat perlu, termasuk upaya bersih-bersih di bawah,” kata Jones Sirait, yang juga putera daerah Ajibata ini.

Diantara permasalahan yang perlu diselesaikan secara tuntas adalah mengenai status tanah eks PIR A, B dan C yang ada di Ajibata saat ini. Menurut Jones Sirait, jika status tanah itu tidak jelas, maka sebaiknya dikembalikan lagi kepada rakyat.

“Kami tidak rela jika tanah rakyat itu yang dulu dijual murah kepada pemerintah demi pembangunan kemudian beralih kepemilikan. Kami juga berkepentingan untuk tahu posisi di eks PIR A atau di terminal Ajibata, karena itu dulu milik kami,” kata Jones Sirait, yang adalah cucu dari Oppu Asi Sirait alias Tokke Pinggir itu.

Wartawan senior itu  juga menuntut agar sejumlah persoalan yang tersisa diusut tuntas sehingga tidak menjadi penghalang lagi kedepan. Seperti penarikan retribusi sandar kapal, retribusi pedagang yang ditarik tanpa karcis resmi, status kepemilikan dan kontrak toko/warung di terminal milik pemda, pembangunan toko dan statusnya dimiliki oknum anggota DPRD Tobasa.

Lalu  proyek revitalisasi terminal dan proyek pembangunan dermaga yang menghabiskan anggaran puluhan miliar namun menurut Jones hingga saat ini belum berfungsi optimal,  kasus retribusi parkir hingga kasus terusirnya para pedagang dan kapal solu-solu akibat dermaga sudah ditimbun dan didirikan warung oleh oknum mandor kapal yang diduga kongkalikong dengan pejabat Dinas Perhubungan dan oknum DPRD Tobasa.

“Bayangkan dua dinas bisa memungut retribusi sekaligus. Satu pakai karcis resmi satu tidak. Padahal di daerah tetangga hanya ada satu tagihan. Ini bisa membuat pedagang berpindah ke daerah tetangga. Kemudian, kemana larinya uang retribusi sandar kapal dan parkir selama ini?” pungkasnya.

Dia pun mengaku heran dengan oknum Dinas Perhubungan yang membiarkan oknum mandor KM Tomok Tour menimbun dermaga dan membangun sendiri warung di dermaga milik pemda, dengan dalih ruang tunggu padahal untuk kepentingan pribadi. Selain membahayakan penumpang, dermaga itu juga telah membuat kapal-kapal yang lebih kecil tergusur dari lokasi sandarnya semula, dan menambah kesemrawutan yang berlawanan dengan semangat membangun kepariwisataan.

Lebih aneh lagi, imbuh Jones, ada dua orang oknum DPRD Tobasa yang mengambil keuntungan pribadi dengan sesukanya membangun toko di lahan pemda dengan menggusur gardu listrik.

“Saya dengar masyarakat Ajibata sedang mengusulkan dua anggota DPRD ini diganti saja karena pikirannya tidak untuk masyarakat banyak, tapi untuk kepentingan pribadi,” sambungnya.

Jones Sirait mengaku kuatir Badan Otorita Danau Toba tidak akan bermanfaat jika tidak ada upaya bersih-bersih oleh pemkab maupun aparat hukum.

“Saya kuatir pembentukan badan itu akan ditolak masyarakat jika aparatur kita masih bermental korup,” sambungnya. (rel/ajvg)

Foto: Direktur Pusat Analisis Informasi Pariwisata (PAIP), Jones Sirait. (ist)

  • Bagikan