Prof Jimly Asshiddiqie: Pandangan Pdt Saut Sirait Sangat Reformis

  • Bagikan

Medan, BatakToday –

Keberadaan gereja di tengah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus memberikan bimbingan moral etik bagi kehidupan yang lebih luas. Pemikiran itu dituangkan penulis berdasarkan pengalaman pelayanannya di tengah gereja dan pengabdiannya di negara. Pandangan yang dituangkan penulis sangat reformis, sebagaimana ide-ide yang sama juga kini berkembang di kalangan Islam di Indonesia.

Demikian tanggapan yang disampaikan Ketua Umum ICMI yang juga Ketua DKPP RI, Prof Dr Jimly Asshiddiqie saat menjadi narasumber dalam Bedah Buku ‘Negara dalam Rancangan Tuhan’ karya Pdt Saut Hamonangan Sirait MTh di Sopo Godang Lt 2 HKBP Sudirman, Medan, Rabu (1/6/2016).

Menurutnya, buku setebal 150 halaman ini menarik karena tidak lazim topiknya.

“Topik yang tidak lazim ditulis, meskipun judulnya itu menimbulkan interpretasi seperti yang muncul dalam bedah buku ini. Tapi substansinya sangat inklusif yang menyampaikan agar gereja itu inklusif dan menyebar pelayanan,  memberikan bimbingan moral etik bagi kehidupan yang lebih luas dimana saja berada, sehingga gereja tidak menutup diri,” ujarnya.

Selain Prof Jimly, bedah buku yang dipandu moderator Dr Marlan Hutahaean MSi itu juga menghadirkan narasumber Pdt Dr Alberttus Patty (Ketua Majelis Pekerja Harian PGI), dan Pdt Debora Purada Sinaga MTh (Praeses HKBP Distrik VII Samosir).

Bedah buku dihadiri sejumlah tokoh, diantaranya Ephorus Emeritus HKBP Pdt SAE Nababan, Pdt Langsung Sitorus, Praeses HKBP Distrik X Medan Aceh Pdt Kardi Simanjuntak, Ketua PGI Wilayah Sumut Pdt Jamilin Sirait, Sekum PGI Wilayah Sumut Pdt Enida Girsang, Pendeta Resort HKBP Medan Sudirman Pdt Plashton Simanjuntak, RAY Sinambela, Gelmok Samosir, Ketua Tahun Keluarga Distrik X Medan Aceh JB Siringoringo, sejumlah komisioner KPU Sumut dan Kota Medan, tokoh masyarakat Washington Pane, Sabam Manalu, Romein Manalu, Sanggam Bakara, Pastor Rantinus Manalu, Buntora Situmorang, dan undangan lainnya.

Menurut Prof Jimly, pandangan yang dituangkan penulis sangat reformis. Ide-ide yang sama juga kini berkembang di kalangan Islam di Indonesia.

“Masjid jangan hanya sibuk dengan diri sendiri, tapi tentu tidak juga tanpa batas. Jadi agama itu bukan mengatasi negara, namun memberikan bimbingan moral tentang bagaimana penyelenggaraan kekuasaan negara, baik itu dinamika ekonomi, dinamika kebudayaan dan yang lainnya,” jelasnya.

Era pasca reformasi ini menurut Prof Jimly sangat pragmatis dan hanya mengandalkan sikap hidup hedonis dan berorientasi pada materi. Maka peranan agama sangat diperlukan saat seperti ini.

“Maka munculnya tokoh seperti Pdt Saut mampu memberi warna bagi peranan gereja dalam kehidupan berbangsa ke depan,” ujarnya.

Ia berharap, buku ini akan memperluas kesadaran para tokoh gereja, bahkan bukan hanya Kristen, supaya ada kesadaran bersama dalam satu front menghadapi globalisasi.

“Makna dari kehadiran buku ini, kiranya menjadi bacaan siapa saja,” katanya.

Pada kesempatan itu, Ompui Pdt SAE Nababan menyampaikan bahwa saat ini rakyat menginginkan pemimpin yang jujur, pintar dan bijaksana.

“Catatan saya terhadap buku ini, dalam setiap zaman gereja mempunyai tiga pilihan. Pertama ialah tidak memperdulikan apa yang terjadi, akibatnya gereja akan tercecer lenyap dan hilang dari muka bumi. Kemudian ikut-ikutan dengan penguasa dan negara dan terus mencari keuntungan. Saya takut, juga bisa timbul sebagaimana dialami gereja di Jerman pada masa lalu. Baru-baru ini pendeta yang saya kagumi mengatakan gereja harus turut menandatangani Badan Otorita Danau Toba, itu tidak beres. Ketiga, pemimpin yang bersifat kreatif, positif, kritis. Saya rindu melihat pendeta yang bisa melayani seluruh warganya,” ujarnya.

SAE Nababan menegaskan, tanggungjawab para pendeta agar semakin ditingkatkan. Sebab, jika ada seorang warga HKBP yang ditahan KPK,  itu merupakan kegagalan gereja.

“Seharusnya pendeta tidak bisa tidur karena dia ikut berdosa disitu. Sebab jika digembalakan dengan baik, ini tidak akan terjadi,” katanya, seraya menambahkan bahwa gereja pun harus kritis dan realistis.

Penulis, Pdt Saut Hamonangan Sirait MTh mengatakan, negara dan gereja harus berjalan di arah yang sama. Karena menurutnya, negara membutuhkan gereja dan gereja membutuhkan negara. Keduanya harus saling mendukung. Gereja membangun spiritualitas, sementara negara membangun fisik.

“Negara dan gereja tidak bisa saling menafikan,” ujarnya.

Dan di dalam konteks ‘Negara dalam Rancangan Tuhan’, dijelaskan Pdt Saut, bahwa tidak ada dua jalan, demikian halnya dengan sejarah. Jika ada yang menyatakan dua sejarah antara sejarah gereja dengan sejarah negara, itu tidak benar.

“Jika umat Kristen, umat Islam dicubit, sama sakitnya. Ketidakadilan sama pahitnya,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Lembaga Keumatan Kristen (PIKI, Kespekri, Parkindo, PWKI, Gamki, GMKI, Pemuda Gereja) mangulosi Pdt Saut Halomoan Sirait bersama istri.

Acara bedah buku diawali dengan ibadah yang dipimpin Pdt Jamilin Sirait, dan paragenda Pdt Ligat Simbolon, dan diselingi lagu-lagu persembahan dari Buntora Situmorang. (AFR)

Foto: Praeses HKBP Distrik X Medan Aceh Pdt Kardi Simanjuntak (kanan) disaksikan Ephorus emeritus HKBP Pdt SAE Nababan saat akan mangulosi Prof Dr Jimly Asshiddiqie (kanan) saat acara Bedah Buku ‘Negara dalam Rancangan Tuhan’ di Sopo Godang HKBP Sudirman, Rabu (1/6/2016). (bataktoday/afr)

  • Bagikan