Komunitas Pecinta dan Pelestari Ulos Terbentuk

  • Bagikan

Medan, BatakToday –

Sejumlah penggiat dan pemerhati kebudayaan dari berbagai lembaga yang ada di Sumut membentuk sebuah komunitas, ‘Pecinta dan Pelestari Ulos’. Komunitas dibentuk dalam agenda menyukseskan usulan penetapan 17 Oktober menjadi hari ulos nasional.

Dalam rapat pembentukan komunitas, Kamis (9/6/2016) di Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen (UHN), terpilih Enni Martalena Pasaribu sebagai ketua, Bendahara Betty Simanjuntak. Struktur kepengurusan akan terus dirampungkan sembari mempersiapkan sejumlah agenda yang akan dilaksanakan untuk memperingati hari ulos ke-2 di Medan.

Kesepakatan dalam pertemuan yang dihadiri Manguji Nababan selaku Direktur Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak UHN, Efendy Naibaho (Ketua Yayasan Pusuk Buhit), Jimmy Siahaan (Forum Parserahan), Johnny Siahaan (Toba Fotografer Club), perwakilan media BatakToday.com, serta Komunitas Boru Batak Sedunia.

Dijelaskan Enni, rencana kegiatan diantaranya seminar tentang ulos pada 10 Oktober 2016, dan pameran ulos dirangkai dengan sejumlah kegiatan kebudayaan yang akan digelar di Lapangan Merdeka Medan pada 15-17 Oktober 2016.

“Khusus 17 Oktober akan diadakan acara puncak, akan ada sejumlah kegiatan dalam upaya membawa citra ulos sebagai hasil karya cipta dan seni Bangso Batak ke publik, ulos yang memiliki jiwa di dalamnya sebagai karya seni dan kebudayaan yang luhur,” ujar Enni.

Pada kegiatan tersebut juga akan digelar fashion show ulos dan pemilihan duta ulos.

“Selain mengangkat nilai budaya dan seni dalam ulos, khususnya seminar bertujuan untuk mendorong pemerintah segera menetapkan 17 Oktober sebagai hari ulos. Kemudian meminta persetujuan UNESCO agar ulos juga diakui menjadi warisan budaya dunia,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, pemerintah telah menetapkan ulos sebagai kain tenun tradisional Batak menjadi Warisan Budaya Takbenda Nasional pada 17 Oktober 2014. Dan pada 17 Oktober 2015, telah diadakan acara perayaan hari ulos pertama di Medan, Sumut merespon apresiasi pemerintah terhadap ornamen budaya Bangso Batak tersebut.

Pasca perayaan tersebut, panitia dan Yayasan Pusuk Buhit telah menyurati Presiden Joko Widodo memohon 17 Oktober sebagai hari ulos. Pemerintah melalui Direktorat Sejarah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah membalas surat tersebut dengan surat nomor 5418/E5/11/2015 tertanggal 5 November 2015.

Dalam surat yang ditandatangani Plt Direktur Sejarah Nono Adya Supriyatno  itu, pemerintah meminta panitia melalui Yayasan Pusuk Buhit sebagai pengusul untuk menyiapkan kajian akademik tentang pentingnya ulos dalam kehidupan berbangsa. (AFR)

Foto: Sejumlah penggiat dan pemerhati kebudayaan Batak berpose bersama usia rapat pembentukan Komunitas Pecinta dan Pelestari Ulos, Kamis (9/6/2016), di Pusat Dokumentasi dan Pengkajian Kebudayaan Batak Universitas HKBP Nommensen (UHN)

  • Bagikan