Natascha “Tasha” Koch, in A Long Way to Samosir Island

  • Bagikan

…-

Natascha Koch, dipanggil Tasha, lahir dan dibesarkan di Lermoos, sebuah desa kecil yang terletak di Austria Barat (Tirol). Keindahan alam dan daya tarik pegunungan di daerah ini menciptakan kehidupan begitu bervariasi, dan memberi kemakmuran melalui kehidupan pariwisatanya.

Orang tua Natascha adalah pemilik sebuah hotel kecil, yang menjadi awal baginya untuk dapat berhubungan dengan banyak orang dari berbagai belahan dunia dan berbagai latarbelakang budaya. Sejak kecil dia sangat tertarik pada bahasa asing dan ingin tahu tentang negara-negara asing.

Dalam tulisannya yang dikirimkan untuk BatakToday, Tasha menceritakan, pada usia 5 tahun ia sudah mulai berkenalan dengan musik, dengan memainkan piano. Kemudian sang ayah mulai mengajarkannya untuk bermain gitar dan menyanyi. Ia telah berduet dengan ayahnya, yang juga seorang musisi, sejak lebih dari 10 tahun yang lalu.

Natascha Koch dengan Hermann Delago dan ketika bergabung dalam band T-NG
Natascha Koch dengan Hermann Delago dan ketika bergabung dalam band T-NG (ist)

Tahun 2007, Tasha mengikuti dan memenangkan kontes musik yang disebut “Austria Superstar”. Di situlah ia bertemu pertama kali dengan Hermann Delago, yang kemudian kerap memanggilnya untuk bergabung sebagai bintang tamu dalam berbagai konser.

Setelah lulus SMA, Tasha memutuskan untuk menggeluti profesi sebagai seorang musisi profesional, dengan tampil di lebih dari 200 pertunjukan per tahun. Selama 8 tahun dia sebagai frontsinger perempuan coverband paling populer di Austria, bernama “T-NG”. Namun ia tetap menjaga impiannya untuk bisa tampil di panggung dengan membawakan lagu ciptaannya sendiri.

The Tasha Band, nama band yang diambil dari nama Natascha (ist)
Tasha Band, nama band yang diambil dari nama Natascha (ist)

Dan pada tahun 2013, Tasah merekam Album pertama, yang di dalamnya termasuk lagu ciptaannya sendiri “A Long Way”, dengan musik bergaya PopRock. Kemudian Tasha merilis single-nya “Can’t Rewind”, yang berhasil memasuki puncak tangga lagu, dan seminggu lebih bertengger di peringkat pertama.

The Tasha Band lahir, sebagai band pendatang baru mereka mulai bermain di atas panggung besar musik di Austria dan seluruh Eropah.

Kelima anggota band yang mengiringi Tasha sebagai lead vocal dalam band ini, merupakan musisi paling dicari di Austria.

Pada tahun 2016. Tasha Band menjadi bagian dari kompetisi Eurovision Song Contest, dengan single mereka “Not in My Name”.

Di samping menyanyi untuk band-nya sendiri, Tasha juga tampil bersama band symphonic metal bernama “Serenity”. Dengan band Serenity, Tasha meraih sukses dengan tampil dalam tour yang dilakukan ke seluruh dunia.

Natscha Koch bersama band Serenity (ist)
Natscha Koch bersama band Serenity (ist)

Kemudian pada tahun 2014, Tasha dan gitaris-nya Stefan Neuner (Tasha Band), mendapat kesempatan untuk bergabung dengan Hermann Delago dalam tour dengan judul Tobatak Orchestra Austria di Indonesia. Saat itu mereka tampil dalam dua kali konser, di Tiara Convention Hall, Medan dan Open Stage Tuktuk, Samosir.

Oleh respon positif yang luar biasa pada konser yang diselenggarakan pada tahun 2014, Henry Manik yang menghabiskan lebih dari satu tahun untuk mempersiapkan konser itu, kembali mengundang Tasha dan band-nya untuk bekerjasama dengan Hermann Delago, untuk melakukan tour ke Indonesia, tahun 2016 ini.

Tasha dan Band-nya, juga Hermann Delago, tidak perlu berpikir dua kali untuk mengkonfirmasi kesediaannya untuk mengikuti tour ini. Dengan rasa bangga mereka menerima permintaan untuk tampil di Open Stage Tuktuk, Samosir, pada tanggal 27 Agustus 2016, bulan depan.

Mereka akan membawa lagu-lagu Tasha yang tampil dengan para musisi dari Eropah, serta akan menyajikan musik tradisional Batak dalam rocky-style. (rel/ajvg)

Foto: Natscha Koch, saat pembuatan video klip Can’t Rewind, 2012 (ist)

  • Bagikan