Ketua DPRD Medan Henry Jhon Hutagalung Dukung Penetapan Hari Ulos Jadi Kalender Tahunan

  • Bagikan

Medan, BatakToday

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan Henry Jhon Hutagalung juga menyatakan dukungannya untuk penetapan hari ulos, 17 Oktober menjadi kalender tahunan secara nasional. Warisan budaya yang dimiliki bangsa ini, khususnya Sumatera Utara perlu mendapat pengakuan dan perlindungan serta pelestarian sehingga tidak akan hilang begitu saja atau diklaim bangsa lain.

Dukungan itu dinyatakan Henry saat menerima audiensi Panitia Hari Ulos Tahun 2016 di ruang kerjanya, Senin (18/7/2016). Dengan tegas ia menyatakan, bukan saja Ulos, tetapi juga warisan budaya lainnnya.

“Apalagi setelah adanya sertifikasi ulos sebagai warisan budaya tak benda dari pemerintah pada tahun 2014, ini menjadi hal yang penting untuk pelestarian ulos ke depan,” katanya dihadapan Ketua Panitia Hari Ulos Enni Martalena Pasaribu yang juga hadir Pembina Panitia RAY Sinambela, dan panitia lainnya.

Ulos, lanjut Henry, bukan saja mengandung nilai budaya. Melainkan dalam proses pembuatan ulos secara fisik melalui berbagai proses dan melibatkan berbagai pihak. Bisa juga ditinjau dari segi proses ekonomi sosial masyarakat. Sejak dahulu, pengrajin ulos (partonun) telah menggantungkan hidupnya dengan memproduksi ulos, sementara akhir-akhir ini kondisi ini semakin memprihatinkan.

Jadi sangat tepat menurut Henry, agar perlindungan terhadap ulos yang merupakan warisan budaya leluhur, juga mampu menjadi bagian kehidupan ekonomi sosial masyarakat pengrajin ulos. Dan ini juga menjadi tanggungjawab pemerintah untuk membinanya, sehingga ekonomi kerakyatan bisa berjalan dengan baik.

Sebelumnya dijelaskan Enni, adanya kerinduan untuk meminta kepada pemerintah menjadikan 17 Oktober sebagai Hari Ulos, berdasarkan penetapan ulos sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah pada 17 Oktober 2014. Informasi penetapan ulos sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh pemerintah awalnya diposting budayawan Manguji Nababan di media sosial melalui akun pribadinya.

“Kita langsung merespon dengan menyelenggarakan upacara peringatan hari ulos yang pertama pada 17 Oktober 2015 di Jl Sei Galang, Medan. Acara diadakan sederhana, karena memang masih spontanitas saat itu,” ujarnya.

Kemudian, seiring berjalannya waktu, pemikiran yang berkembang dan sumbangsih dari para pecinta ulos di Sumut khususnya, maka timbul kesepakatan untuk mengusulkan penetapan hari ulos nasional tersebut.

“Agenda selanjutnya, jika pemerintah menyetujuinya, ada harapan kami juga agar ulos bisa terdaftar sebagai warisan budaya dunia yang tercatat di UNESCO,” lanjutnya.

Untuk itulah, menurut Enni, perjuangan untuk melestarikan ulos ini dinilai sangat penting. Keterlibatan pemerintah dan para tokoh yang paham akan ulos juga akan menjadi faktor pendorong.

Dalam upaya itu, dalam waktu dekat akan digelar seminar tentang ulos dengan tema ‘Ulos Natuari, Ulos Sadarion, Ulos Haduan (Ulos Kemarin, Ulos Hari Ini, Ulos Masa Depan)’. Panitia sudah menjajaki untuk mendapatkan para pembicara yang berkompeten membicarakan ulos ini. Termasuk Prof Dr Robert Sibarani Direktur Sekolah Pascasarjana USU.

“Kami sudah bertemu Prof Robert, dan meminta saran dan masukan sehingga pelaksanaan seminar nantinya bisa menghasilkan gagasan yang tepat dan bermanfaat,” ujarnya. (AFR)

Foto:

Panitia Hari Ulos berpose bersama dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan Henry Jhon Hutagalung, Kantor DPRD Kota Medan, Senin 18/7/2016 (bataktoday/afr)

  • Bagikan