Damai Itu Alamiah dan Cuma-cuma

  • Bagikan

Oleh: Arif JV Girsang*

Entah kapan bermula istilah ‘uang perdamaian’. Di buku sejarah yang terlengkap pun itu tidak dituliskan.

Perdamaian, di sini, diperoleh dengan syarat terjadi penyerahan sejumlah uang dari pihak yang ingin berdamai kepada yang sebelumnya tidak bersedia berdamai. Atau boleh juga dibalikkan, bersedia berdamai jika menerima sejumlah uang.

Menurut (teori) seorang teman yang sering jadi ‘juru damai’, uang perdamaian dikenal tidak lama semenjak uang ada. Katanya, sebelum uang ada, perdamaian bersyarat kadang dilakukan dengan cara barter. Sepihak memberi benda hidup atau benda mati, bahkan orang, kepada pihak lain yang dimintai persetujuannya untuk sebuah perdamaian.

Keinginan berdamai timbul setelah ada penetapan sejumlah uang atau benda/materi sebagai syarat. Bisa juga alakadarnya dan ‘ketahuan’ setelah diterima pihak yang ‘mau’ berdamai.

Kerap terjadi, perdamaian gagal karena uang perdamaian yang ditawarkan oleh pihak yang menginginkan perdamaian terlalu kecil jumlahnya. Oleh sepihak, menggagalkan perdamaian, atau meminta tambahan jumlah uang sebagai syarat.

Yang sedikit lebih dahsyat lagi, ketika dalam proses perdamaian ada kalimat, ”berapalah yang kau minta untuk perdamaian ini?”

Harga sebuah perdamaian bisa tawar-menawar. Berapa harga perdamaian yang sebenarnya, tergantung kesepakatan para pihak.

Adakalanya perdamaian membutuhkan proses yang rumit. Sejumlah utusan diplomatik berangkat kesana kemari menjumpai para pihak yang ingin-tak-ingin berdamai.

Proses perdamaian macet! Bah, disini perdamaian itu harus diproses panjang, dan bisa macet. Kenapa macet, karena tak cocok harga, mungkin sarat dengan syarat.

Sampai disini, perdamaian itu sesuatu yang bersyarat. Perdamaian berbau kepentingan, bahkan mengandung konflik kepentingan.

Tetapi, dalam arti positip, perdamaian itu tetap ‘baik’ adanya. Perdamaian adalah upaya mengembalikan keadaan kembali kepada kondisi sebelum perdamaian itu menjadi suatu keinginan, walau dengan alasan apa pun itu.

Kamus bilang, damai itu tidak ada perang, tidak ada kerusuhan, tidak ada permusuhan. Dan perdamaian itu diartikan sebagai suatu penghentian permusuhan, perselisihan, perang, termasuk kerusuhan atau sejenisnya. Membandingkan perdamaian dan damai, menunjukkan bahwa perdamaian adalah upaya untuk ‘menemukan’ damai.

Damai lebih dulu ada, sebelum terjadi permusuhan, kerusuhan atau perang. Damai adalah harmoni di dalam suatu kondisi awal yang alamiah, kondisi yang tidak membutuhkan sebuah upaya, selain menjaga jangan ada perang, permusuhan, perselisihan atau sejenisnya.

Pada awalnya damai itu tidak membutuhkan perlakuan apa-apa. Damai itu natural, alamiah…

Dari arti dalam kamus, maupun dengan dengan memperhatikan gejala-gejala yang ada di alam ini, damai itu syaratnya adalah ketiadaan. Damai itu tidak memerlukan materi, benda hidup atau mati, atau seseorang, apalagi sekelompok orang. Damai itu tidak membutuhkan apa-apa, atau sesuatu. Tidak perlu ada barter, apalagi uang.

Damai itu cuma-cuma…

Sayangnya, manusia mau ‘mencemari’ damai, bahkan dengan mengeluarkan tenaga, pikiran dan strategi, biaya, pengorbanan, bahkan pertaruhan nyawa, melalui permusuhan, kerusuhan, dan perang.

Sebenarnya di zaman orang-orang getol dengan gerakan ‘kembali ke alam’ (back to nature), cocok sekali kita pelihara damai dalam kehidupan ini.

Dan di zaman orang-orang juga mendengungkan efisiensi, damai jangan direkayasa, sehingga ujungnya harus dilakukan perdamaian, yang dibarengi dengan pemborosan waktu, tenaga, pikiran dan materi.

Sayangnya, di negeri ini sedang berkeliaran orang atau kelompok yang lebih menginginkan adanya perdamaian daripada menjaga damai agar tidak tercemar dan direkayasa.

Mereka itu menciptakan kerusuhan atau permusuhan, atau juga mungkin menginginkan adanya perang, untuk mendapatkan “uang perdamaian” tadi, atau keuntungan materil dari pencemaran dan perekayasaan damai yang semula orisinil.

Damai itu adalah suatu ketiadaan, tetapi selalu ada dan tidak bakal ada habisnya…

Namun, jangan pernah (lagi) mencoba untuk ‘tiada damai diantara kita’, diantara sesama Anak Bangsa.

*) Penulis pernah tinggal di Kampung Damai, Kutai Barat, Kalimantan Timur

Foto: Ilustrasi

  • Bagikan