Era Jokowi, Pembangunan di Sumut Menuju Lebih Baik

  • Bagikan

Parapat, BatakToday

Besarnya perhatian pemerintahan di era Presiden Joko Widodo terhadap pembangunan di Sumut memberikan harapan yang besar akan terjadinya peningkatan taraf hidup dan perekonomian daerah. Sebagian bukti, bandar udara Silangit yang sejak lama sepi kini sudah ramai digunakan, sejumlah infrastruktur yang semakin diperbaiki, dan perhatian yang begitu besar untuk pembangunan kawasan Danau Toba.

“Bapak presiden, saat ini ada harapan yang semakin menggembirakan bagi kami, karena Bapak memberikan perhatian yang sungguh-sungguh bagi daerah ini,” kata Dr RE Nainggolan Founder RE Foundation di hadapan Presiden Joko Widodo, Menteri Maritim dan Sumber Daya Jend (purn) TNI Luhut B Panjaitan, Gubernur Sumut HT Erry Nuradi Msi dan masyarakat di Inna Hotel, Parapat, Kabupaten Simalungun, Sumut, dalam acara kunjungan kerja Presiden RI, Sabtu (20/8/2016).

Dr RE Nainggolan MM didaulat mewakili masyarakat Sumut dan 10 kepala daerah se kawasan DAS Asahan untuk menyampaikan hal itu langsung di hadapan presiden Jokowi.

Menurut RE Nainggolan, kecintaan Presiden Jokowi terhadap Sumut tidak sebanding dengan yang dapat diberikan daerah ini sendiri.

“Bapak begitu sungguh-sungguh mencintai kami, meskipun kami belum bisa memberikan kecintaan itu. Kami belum bisa bersungguh-sungguh bekerja keras seperti apa yang Bapak lakukan, yang begitu luar biasa. Dan belum pernah saya dengar ada seorang presiden di republik ini yang tinggal selama tiga malam di daerah kawasan Danau Toba. Terimakasih Bapak Presiden,” katanya.

Namun, demikian pun dengan jujur dan dengan memohon maaf, RE Nainggolan mengatakan bahwa di daerah ini masih banyak masyarakat yang miskin. Lingkungan yang masih mengalami kerusakan, pengangguran yang cukup banyak karena tidak adanya lapangan pekerjaan.

Kini, hal-hal endemik semakin mengalami kepunahan. Seperti kemenyan (haminjon) telah mengalami ambang kepunahan karena ulah orang-orang yang tidak bertanggungjawab, tanaman pinus merkusil, salah satu tanaman terbaik di dunia telah mulai habis. Demikian halnya dengan populasi ihan batak yang semakin punah di perairan Danau Toba.

“Kemenyan yang hanya ada di sejumlah daerah di Sumut kami yakini adalah juga yang dibawa orang-orang Majus ketika Yesus lahir, yang tertulis dalam Alkitab,” katanya.

Pada sisi lain, ketika PT Inalum yang sebelumnya merupakan proyek kerjasama pemerintah Jepang dengan pemerintah Indonesia, daerah masih memperoleh iuran tahunan atau annual fee. Dan ketika ada gambaran atau informasi bahwa PT Inalum itu akan dimiliki secara utuh oleh Indonesia, masyarakat sangat gembira,  bersukacita karena penerimaan mereka akan semakin besar.

“Tetapi apa yang terjadi, ketika dengan pemerintah Jepang, sepuluh pemerintah daerah memperoleh iuran tahunan, tetapi setelah PT Inalum milik pemerintah negara Indonesia, kami daerah ini tidak lagi memiliki apa-apa. Ada satu legenda di tanah Batak, Situan Nagundong yang menggambarkan naripe mattak tugo do amang nasosohot martuhohon, naripe mattak saong do nasodohot marsaonghon, yang artinya ialah bahwa dia yang membawa makanan tapi tidak ikut makan, dan dia yang membawa payung tidak ikut menikmati payung justru kehujanan,” ujarnya.

Itulah gambarannya. RE Nainggolan menyampaikan kiranya Presiden  memberikan kepada daerah, iuran tahunan air pemukaan, dana lingkungan, dan sejauh mungkin dapat memperoleh saham dari PT Inalum. Agar daerah ini dapat memperoleh dana untuk mendukung pengentasan kemiskinan, dan perbaikan lingkungan, serta pembukaan lapangan kerja. (AFR)

Foto:

RE Nainggolan saat berbicara di hadapan Presiden Joko Widodo, Menteri Maritim dan Sumber Daya Jend (purn) TNI Luhut B Panjaitan, Gubernur Sumut HT Erry Nuradi Msi dalam acara kunjungan kerja Presiden RI, di Inna Hotel, Parapat, Kabupaten Simalungun, Sabtu 20/8/2016 (bataktoday/afr)

  • Bagikan