Ulaon Bolon Parsahataan Huta Matio, Tetua Adat: “Satukan Tekad Melawan Perusahaan Perampas Tanah”

  • Bagikan
Manortor diiringi Gondang Simonang-monang (ist)

Huta Matio, BatakToday

Masyarakat Adat Huta Matio, Kecamatan Habinsaran, Toba Samosir, mengadakan ritual adat “Ulaon Bolon Parsahataan”, Sabtu (27/8).

“Ulaon Bolon Parsahataan” adalah sebuah ritus adat penyatuan tekad untuk menyikapi persoalan besar yang sedang dihadapi dalam tradisi Batak. Ritus ini diadakan berkaitan dengan konflik panjang yang dihadapi oleh masyarakat adat Matio akibat kehadiran perusahaan Toba Pulp Lestari di tanah adat mereka seluas lebih dari 1500 hektar.

Ulaon Parsahataan ini dihadiri oleh lebih dari 800 orang dewasa, Masyarakat Adat Huta Matio dan tujuh huta (kampung) tetangga seperti huta Ombur, Tanggabosi, Pagaran, Tukko Nisolu, Simenahenak, Tor Nagodang, dan Natumikka.

Acara tetua adat Matio ini juga dihadiri oleh undangan, seperti Seketaris Jenderal AMAN Abdon Nababan dari Jakarta, AMAN Wilayah Tano Batak, Hutan Rakyat Institut (HaRI), Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), perutusan Ugamo Parmalim, dan berbagai organisasi kemasyarakatan lainnya.

Salah seorang tetua adat, Parsaoran Siagian menyebutkan bahwa tujuan dilaksanakannya ritual adat Ulaon Parsahataan oleh Masyarakat Adat Huta Matio, khususnya keturunan Ompu Puntumpanan Siagian dalam rangka penyatuan gerak langkah dan tekad perjuangan untuk mempertahankan wilayah adat Huta Matio yang dititipkan oleh leluhur dari klaim sepihak penunjukan kawasan hutan negara dan konsesi Hutan Tanaman Industri PT Toba Pulp Lestari.

“Tanah dan hutan adat yang dititipkan oleh leluhur kami sudah porakporanda setelah PT TPL hadir di wilayah adat kami. Hutan kemenyan yang dititipkan leluhur sudah habis ditebang dan digantikan dengan tanaman eucalyptus. Demikian juga dengan sumber mata air yang sudah terkontaminasi dengan pupuk dan pestisida kimia yang digunakan oleh PT TPL untuk keperluan tanamannya. Bahkan kami saat ini kesulitan mendapatkan air bersih untuk air minum. Begitu juga dengan air untuk mengairi sawah kami,” lanjut Parsaoran Siagian.

Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Abdon Nababan (berkacamata) dan Koordinator AMAN Tano Batak Roganda Simanjuntak (di kirinya) turut manortor di baris depan, diiringi Gondang Simonang-monang, dalam “Ulaon Bolon Parsahataan”, di Huta Matio, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba Samosir, Sabtu 27/8/2016 (ist)
Manortor diiringi Gondang Simonang-monang (ist)

Dalam rangkaian ritual adat tersebut, masing-masing hombar huta (tetangga kampung) menegaskan bahwa Masyarakat Adat Huta Matio adalah pemilik wilayah adat yang dititipkan oleh leluhurnya.

Dirman Rajagukguk sebagai Raja huta dari huta Tukko Nisolu menyatakan bahwa leluhur mereka telah menitipkan sejarah bahwa huta Tukko Nisolu berbatasan langsung dengan huta Matio. Dibuktikan dengan batas alam dan tuho (patok). Oleh sebab itu, tidak pernah terjadi perselisihan batas dengan huta Matio.

Kemudian acara dilanjutkan dengan mendengar pernyataan dukungan dari undangan. Abdon Nababan menyampaikan bahwa Masyarakat Adat huta Matio sudah lebih dulu ada jauh sebelum NKRI terbentuk.

“Saya tadi sudah menyaksikan dan mendengar sejarah huta Matio dan kedatangan Raja Ompu Puntumpanan Siagian,” aku Abdon.

“Terus terang saya sangat bersyukur, bisa hadir di huta Matio. Kemudian, saya juga senang ketika diajak ke makam leluhur Ompu Puntumpanan Siagian. Bagi saya itu menandakan bahwa Matio adalah bahagian dari Masyarakat Adat, karena tidak dapat lepas dari leluhur. Yang perlu kita pahami bersama bahwa wilayah adat huta Matio merupakan titipan leluhur kepada keturunannya, jadi bukan warisan. Karena kalau kita sebut warisan bisa saja diperjualbelikan. Sedangkan isitilah titipan leluhur menegaskan bahwa pemilik wilayah adat huta Matio adalah Ompu Puntumpanan Siagian dan akan diteruskan sampai ke generasi selanjutnya,” tambah pria kelahiran huta Paniaran Siborongborong tersebut.

Pada kesempatan itu, perwakilan komunitas menyerahkan peta wilayah adat Matio yaitu peta yang dihasilkan melalui pemetaan partisipatif warga adat, dengan luas 1.493 hektar. Abdon berjanji untuk mendukung perjuangan tanah adat itu kepada para pihak di Jakarta.

Kemudian dilanjutkan pernyataan sikap tujuh huta yang membenarkan sejarah huta Matio dan tidak ada persoalan batas huta selama ini.

Tetua adat Matio dan para tetua dari tetangga yang hadir secara bersamaan menyampaikan tekad bersatu untuk memperjuangkan tanah dan hutan adat itu hingga tuntas. Mereka secara bersamaan mengucapkan tekad untuk turut bersatu.

“Talu maralohon dongan, Monang maralohon musu” ( mengalah kepada sesama teman, dan menang menghadapi musuh).

Kemudian dijawab oleh semua warga dengan, ”Emma tutu”, yang artinya, semoga tercapai.

Di penghujung acara dilanjutkan dengan acara manjalo Gondang Simonang-monang (meminta Gendang Kemenangan ditabuh) kepada pargonsi (pemain gendang), dimana dengan ditabuhnya Gondang Simonang-monang sebagai permohonan kepada Tuhan agar perjuangan mempertahankan titipan leluhur dimenangkan oleh Masyarakat Adat huta Matio. Setelah gondang dimainkan diikuti dengan manortor (menari) bersama. (rel/ajvg)

  • Bagikan