Kota Cerdas Berkelanjutan, Respon terhadap Tingginya Pertumbuhan Penduduk

  • Bagikan

.

Bandung, BatakToday –

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Badan Pengembangan Infrastuktur Wilayah (BPIW) mengembangkan Konsep Kota Cerdas Berkelanjutan. Konsep tersebut mensyaratkan kota harus memiliki empat elemen dasar, yaitu kota itu harus aman, sehat dan berkeselamatan,  lalu kota itu harus estetik, bersih, berkarakter, nyaman, kemudian produktif dan efisien, serta berkelanjutan.

Hal tersebut diungkapkan Kepala BPIW Kementerian PUPR, Hermanto Dardak dalam seminar ”Dukungan Pemerintah: Smart Cities Planing and Implementation General Problems in Indonesia” pada Indonesia Smart City Forum di Bandung, Jumat (2/9/2016), seperti dilansir dari laman resmi Kementerian PUPR (www.pu.go.id).

Dardak mengatakan, pengembangan Kota Cerdas Berkelanjutan merupakan respon terhadap tingginya pertumbuhan penduduk. Terlebih, lanjutnya, peningkatan jumlah penduduk di perkotaan diprediksi akan terus berlanjut, sehingga kawasan perkotaan menjadi titik konsentrasi aktivitas penduduk, baik sosial dan budaya, dampak lingkungan dan kemanusiaan, termasuk kegiatan ekonomi.

“Terbukti, saat ini 74 persen kontribusi ekonomi Indonesia berasal dari perkotaan,” ujarnya.

Menurut Dardak, dengan tingginya pertumbuhan penduduk, maka wilayah perkotaan menjadi consumer yang sangat memerlukan pengembangan mulai dari infrastruktur, pelayanan dasar, kecukupan air, pangan dan energi, perumahan layak huni, kesehatan, pekerjaan yang layak, maupun ruang terbuka hijau.

“Dalam pembangunan berbasis Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) yang dikembangkan Kementerian PUPR, wilayah Indonesia terbagi menjadi 35 WPS dan di dalam WPS itu ada arah pengembangan untuk kawasan tertentu, seperti Kota Cerdas Berkelanjutan, kawasan pariwisata, kota baru publik, kawasan industri, dan lain sebagainya,” papar Dardak.

Dalam mewujudkan kota yang aman, sehat dan berkeselamatan, lanjutnya, pemerintah telah mendorong pemerintah daerah untuk memenuhi  keberadaan ruang terbuka hijau (RTH) publik lebih dari 20 persen, luas jalan lebih dari 20 persen.

Di sisi lain, BPIW juga mengembangkan perencanaan Anjungan Cerdas di jalan nasional. Sebab jalan tol rata-rata memilikirest area (tempat beristirahat) yang memadai, namun dari rentang 47.000 kilometer jalan nasional belum memiliki rest area secara formal.

“BPIW merencanakan pembangunan rest area di jalan nasional, kami mengistilahkan dengan nama Anjungan Cerdas. Tempat tersebut nantinya dapat sebagai tempai parkir untuk melepas kepenatan atau menjadi tempat peristirahatan pengguna jalan, sehingga diharapkan dapat mengurangi tingkat kecelakaan,” ujar Dardak.

Selain Dardak, hadir juga pembicara Hayu Parasati dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), M Ismail dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), dan Staf Kepresidenan Tim Satu Data, Robertus Theodore.

Hayu menyatakan, sebaik apapun perencanaan yang dilakukan, apabila kolaborasi lintas sektor tak terjadi secara baik akan banyak kendala dalam mewujudkannya. Untuk itu, forum semacam ini diharapkan semakin meningkatkan soliditas dan kerjasama. (ris/infoBPIW)

Foto: Kepala Badan Pengembangan Infrastuktur Wilayah (BPIW) Kementerian PUPR, Hermanto Dardak, saat tampil sebagai pembicara dalam seminar ”Dukungan Pemerintah: Smart Cities Planing and Implementation General Problems in Indonesia” pada Indonesia Smart City Forum di Bandung, Jumat (2/9/2016). (dok kemen pupr)

  • Bagikan