Karyawan PD PAUS Akhirnya Tuntut Hak, Sebut Mantan Walikota Tak Bertanggungjawab

  • Bagikan
Aksi Massa, Karyawan dan GEBRAK PD PAUS, saat menuju Kejari Siantar (bataktoday/em)

Pematangsiantar, BatakToday

Setelah sekian lama tidak terdengar tuntutan atas perlakuan buruk oleh pihak manajemen, akhirnya sejumlah karyawan Perusahaan Daerah Pembangunan dan Aneka Usaha (PD PAUS) bergerak menuntut haknya yang selama ini diabaikan oleh perusahaan itu.

Sekitar 20 orang karyawannya, didampingi ratusan massa dari beberapa organisasi yang bergabung dalam Gerakan Bela Karyawan Perusahaan Daerah Pembangunan dan Aneka  Usaha (GEBRAK PD PAUS) melakukan unjuk rasa ke kantor Walikota Pematangsiantar, Selasa (11/10).

GEBRAK PD PAUS yang terdiri dari Sumut Watch, Eltrans, Gampar, Perkasa, Gemapsi, TMP dan GMKI, mendampingi karyawan PD PAUS, menuntut Penjabat (Pj) Walikota Pematangsiantar, Jumsadi Damanik, untuk turun tangan menuntaskan pembayaran gaji karyawan yang belum dibayar selama 15 bulan.

Salah seorang karyawan PD PAUS, Dewi Sihombing saat membacakan pernyataan sikap, menyebutkan bahwa rekrutmen ratusan karyawan PD PAUS dilakukan dengan modus pemerasan, meminta uang pelicin sebesar Rp20 juta sampai dengan 50 juta per orang untuk diterima jadi karyawan.

Karyawan PD PAUS, saat membacakan pernyataan sikap (bataktoday/em)
Karyawan PD PAUS, saat membacakan pernyataan sikap (bataktoday/em)

Kemudian, tindakan Direksi PD PAUS yang tidak membayar gaji selama 15 bulan, selain disebutkan sebagai kejahatan kemanusiaan, juga sangat bertentangan dengan UU. No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan sesuai ketentuan pasal 90 jo pasal 185 ayat (1) dan (2).

“Ini merupakan tindakan keji dan biadab, karena memeras orang-orang lemah. Sudah diperas, kerja tak digaji pula selama 15 bulan. Mau makan apalah kami pak Pj Walikota,” ucap  Dewi dengan nada tinggi.

Karyawan lainnya, Hasi Yandri Sinaga mengatakan bahwa karyawan bersama GEBRAK PD PAUS mengutuk keras walikota sebelumnya beserta dan konsultannya. Mantan walikota, yang juga menjadi calon dalam Pilkada Siantar yang tertunda, dinilai gagal dan manusia tak bertanggungjawab, ketika dia membidani lahirnya PD PAUS, tetapi tidak berupaya menunjukkan tanggungjawabnya atas kebobrokan yang terjadi dalam perusahaan itu.

“Demi ambisi memenangkan Pilkada Siantar, mantan walikota yang sekarang juga menjadi calon petahana, tega mengorbankan karyawan sebagai sapi perah untuk meraup uang dan suara. Pemimpin apa seperti itu?” seru Hasi.

Berorasi sekitar 30 menit, tanpa ada yang menemui mereka dari pihak pemerintah kota, massa GEBRAK PD PAUS beranjak menuju kantor Kejaksaan Negeri Siantar untuk melanjutkan aksinya. (EM)

  • Bagikan