Antisipasi Banjir, Kementerian PUPR Gandeng Komunitas Peduli Sungai

  • Bagikan
Direktur Jenderal SDA Kementerian PUPR, Imam Santoso, saat memberikan penjelasan dalam jumpa pers Langkah-langkah dalam Antisipasi Bencana Banjir di Indonesia, Jumat (04/11/2016) di Jakarta. (foto: humas pupr)

Jakarta, BatakToday –

Direktorat Jenderal (Ditjen) Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi ancaman bencana banjir dan longsor akibat cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini. Selain upaya struktural berupa pemeliharan sungai dan prasarana sungai, Ditjen SDA juga melakukan upaya non struktura, diantaranya dengan melibatkan komunitas peduli sungai.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal (Dirjen) SDA Kementerian PUPR, Imam Santoso, dalam jumpa pers Langkah-langkah Kementerian PUPR dalam Antisipasi Bencana Banjir di Indonesia, Jumat (04/11/2016) di Jakarta.

“Upaya antisipasi tersebut kami lakukan dengan sejumlah langkah. Pertama, melakukan pemetaan daerah rawan banjir dan bencana di seluruh Indonesia, selanjutnya kita melakukan upaya non struktural seperti Pemberdayaan Pengelola dan Komunitas Peduli Sungai, Pengaktifan Posko Banjir, Kesiapan Bahan Banjiran dan Peralatan serta Early Warning System. Sementara untuk langkah struktural dilakukan Pemeliharaan Sungai dan Prasarana Sungai. Pada saat terjadi bencana kami lakukan Quick Respon dilanjutkan kegiatan Tanggap Darurat dan Penanganan Pasca Banjir,” papar Imam Santoso.

Imam mengungkapkan, sesuai data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan Nopember 2016-Februari 2017 di sejumlah daerah diprediksi mencapai 400 milimeter.

Ia mengatakan, upaya antisipasi bencana banjir tidak dapat dilakukan sendiri oleh pemerintah, tetapi harus melibatkan masyarakat terutama dalam pemeliharaan sungai dan danau. Untuk itu pihaknya tengah melakukan peningkatan kapasitas pemberdayaan pengelola dan komunitas peduli sungai melalui Gerakan Cinta OP (Operasi dan Pemeliharaan) sungai sebagai salah satu upaya non struktural.

“Gerakan Cinta OP ini terdiri dari Edukasi dan Aksi. Dari segi edukasi kita membuat Sekolah sungai dan penataan lingkungan bekerjasama dengan perguruan tinggi, Ditjen Cipta Karya, Dinas Perijinan Daerah, mahasiswa, dan komunitas peduli sungai,” ujar Imam.

Selain Sekolah Sungai, imbuh Imam, pihaknya juga menggelar gerakan turun ke sungai untuk pemeliharaan sungai dan danau bersama TNI, pemda, masyarakat, mahasiswa, dan komunitas peduli sungai. Selain itu, Kementerian PUPR juga telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) Pembuatan Peta Rawan Banjir dengan Badan Informasi Geospasial (BIG)-BMKG.

“Kita juga melakukan Pelatihan Basin Water Resources Management Modul dan aplikasi dalam pengendalian banjir serta penyegaran Petunjuk Operasi Lapangan (POL) Banjir kepada petugas lapangan,” ucapnya.

Lebih lanjut dijelaskan, pihaknya juga telah mengaktifkan posko banjir yang tersebar di seluruh Balai Wilayah Sungai seluruh Indonesia.

“Di semua balai kami instruksikan piket posko banjir untuk siap siaga 24 jam, dan segera melaporkan setiap ada potensi peristiwa banjir ke kami dan ke pemerintah daerah setempat sebagai Early Warning System,” ujar Imam.

Imam memastikan telah memerintahkan kepada semua Balai Wilayah Sungai untuk melakukan pembukaan pintu bendung selama terjadi hujan deras untuk memperlancar jalannya aliran sungai sampai ke hilir.

Sementara untuk kesiapan peralatan, Imam mengaku telah menyebarkan sejumlah peralatan untuk menghadapi bencana banjir yang tersebar di 33 Balai Besar Wilayah Sungai (BWS) dan Balai Wilayah Sungai (BWS).

“Di antaranya Excavator sebanyak 101 unit, Amphibious Excavator sebanyak 46 unit, Dump Truck 93 unit, Mobile Pump sebanyak 44 unit, Perahu Karet 195 unit, Trailer Truck 22 unit dan Mobile Lighting Tower sebanyak 13 unit,” terang Imam.

Untuk antisipasi tanggap darurat jika terjadi luapan air sungai dan jebolnya tanggul yang ada, Imam mengaku telah menyiapkan persediaan bahan banjiran yang terdiri dari Bronjong sebanyak 5.500 buah, Jumbo Bag Woven 7250 buah, Geobag ukuran 1,45 x 2,35 m sebanyak 780 buah dan Geobag ukuran 1,00 x 1,35 m sebanyak 6000 buah yang tersebar di Gudang Bekasi, Kalimalang dan Porong.

“Di Balai semua daerah juga sudah ada stocknya,” ujarnya.

Imam menambahkan, untuk upaya struktural pihaknya melakukan penelusuran sungai, dengan prioritas pada ruas sungai perkotaan dan lahan irigasi. Upaya itu dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik dan non fisik, diantaranya kondisi fisik prasarana sungai berupa tanggul, bendung pengendali banjir, pintu-pintu air, dan prasarana lainnya.

“Penelusuran sungai dilakukan oleh teman-teman di balai, mengecek mana yang rawan terhadap longsoran dan mana yang masih kuat. Juga kondisi lingkungan masyarakatnya apa bisa dilibatkan untuk perbaikan tanggul atau sebagainya,” katanya.

Sementara untuk pemeliharaan sungai dan prasarana sungai, terang Imam, pihaknya melakukan tindakan yang bersifat preventif, korektif, dan rehabilitatif.  Implementasi yang dilakukan diantaranya pemeliharaan ruang sungai dan pengendalian pemanfaatan ruang sungai, pemeliharaan dataran banjir dan pengendalian pemanfaatan dataran banjir, pemeliharaan bangunan sungai, pemeliharaan pos dan alat pemantau kondisi hidrologi, hidroklimatologi, dan kualitas air.(Marc/jay)

  • Bagikan