#KMANV: Haram bagi Masyarakat Adat Mengakui yang Bukan Haknya

  • Bagikan

Kampong Tanjung Gusta, BatakToday-

“Adalah haram bagi kami untuk mengakui yang bukan hak kami. Kalau lah memang itu hak kami, wajib hukumnya untuk mempertahankannya, walaupun darah dan nyawa taruhannya…”

Kalimat di atas diujarkan Afnawi Nuh, Tokoh Pejuang Penjaga Kampong Tanjung Gusta, menjadi panduan bagi gerakan AMAN.

Demikian disampaikan Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Abdon Nababan, dalam sambutannya pada Acara Pembukaan Kongres Masyarakat Adat Nusantara V (KMAN V).

Abdon menyebut Kampong Tanjung Gusta sebagai tempat pelaksanaan KMAN V, didedikasukan untuk mengingat sejarah perjuangan Masyarakat Adat di Negeri ini, yang dimulai sebelum gerakan lain yang sejenis di Nusantara.

“Saya tergugah pertama kali untuk turut berjuang bersama Masyarakat Adat Penunggu Kampong Tanjung Gusta. Dan sebelum mengakhiri keterlibatan sebagai Sekjen AMAN, saya mendedikasikan pelaksanaan Kongres Masyarakat Adat Nusantara V di tempat penuh perjuangan ini untuk sejarah dan Gerakan Masyarakat Adat di Nusantara,” ujar Abdon.

Dalam acara pembukaan ini, sebelumnya Ketua Panitia Kongres, Arifin Nuh, menyampaikan laporan pelaksanaan kongres. Disisipkannya juga kritik, bahwa kondisi lokasi pelaksanaan kongres adalah gambaran perhatian pemerintah untuk eksistensi Masyarakat Adat di Negeri ini selama ini.

“Kondisi jalan di Kampong Tanjung Gusta, lokasi kongres ini berada, adalah gambaran perhatian pemerintah terhadap keberadaan Masyarakat Adat di Negeri Ini,” sebutnya, dengan menggambarkan kondisi jalan-jalan berlumpur di Kampong Tanjung Gusta.

Hadir dalam acara Pembukaan KMANV, menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi, dan sejumlah perwakilan kedutaan besar, Komnas HAM, Komnas Perempuan, dan sejumlah undangan lainnya. (ajvg)

#KMANV

#KongresMasyarakatAdatNusantaraV

 

  • Bagikan