Panglima Perang Yapen “Layangkan” Anak Panah untuk Jokowi

  • Bagikan
Alex Sanggenafa mengangkat busur dan anak panah, menuntut ikatan janji untuk mempercepat pengesahan UU PPHMA, Kampong Tanjung Gusta, Jumat 17/03/2017 (bataktoday/ajvg)

Kampong Tanjung Gusta, BatakToday

Dari Kongres Masyarakat Adat Nusantara Ke-V (KMANV) yang berlangsung di Kampong Tanjung Gusta, Deli Serdang, Panglima Perang Yapen, Alex Sanggenafa, yang berbicara mewakili Masyarakat Adat Papua, menyempaikan tuntutan kepada Presiden Jokowi agar segera mengambil langkah percepatan untuk pengesahan Undang-Undang Pengakuan dan Perlindungan Hak Masyarakat Adat (UU PPHMA), Jumat petang (17/03/2017).

Dialog antara peserta KMANV dengan Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, suasana sedikit memanas ketika Alex Sanggenafa dengan membawa nama Masyarakat Adat Papua, menyampaikan tuntutan agar proses pengesahan RUU PPHMA menjadi UU yang menurutnya sudah sangat panjang, segera dituntaskan.

Dalam dialog ini, Alex Sanggenafa, yang mengenakan atribut bulu-bulu burung dikenakan di kepala, sedari awal acara dialog telah berupaya untuk mendapat kesempatan berbicara. Alex akhirnya mendapat kesempatan juga, karena satu ‘jatah’ bicara untuk Pemuda Masyarakat Adat tidak ada yang menggunakan.

Maju ke depan untuk menyampaikan aspirasi, dengan membawa seperangkat busur beserta anak-anak panah, yang tak pernah lepas dari tangannya sejak acara pembukaan, mengatakan Masyarakat Adat di Papua dalam Pemilu Presiden 2014 lalu memberi dukungan ‘penuh’ kepada Joko Widodo.

Panglima Perang Yapen, Alex Sanggenava, saat menyampaikan aspirasi (bataktoday/ajvg)
Panglima Perang Yapen, Alex Sanggenafa, saat menyampaikan aspirasi (bataktoday/ajvg)

“Bapak Presiden yang kami cintai, Kepala Staf Kepresidenan yang mewakili Bapak Presiden Republik Indonesia pada pertemuan yang menyenangkan ini, ketika kami di Papua mendengar mendengar ada pemilihan presiden, tidak ada yang berkampanye. Kami dari hutan-hutan keluar, tidak ada yang mengenal Joko Widodo, tapi kami yakin bahwa beliau berasal dari orang-orang yang rendah hati. Yang mau melihat penderitaan rakyatnya. Itulah yang membuat kami memilih,” terang Alex Sanggenafa mengawali perkataannya.

Namun kemudian, dia menunjukkan kekecewaannya tentang UU PPHMA yang hingga saat ini belum disahkan dan diundangkan.

“Kami terbuka, Undang-Undang (PPHMA,-red.) sampai hari ini sudah terlalu lama sampai. Hari ini juga kami memilih Joko Widodo sebagai Presiden, kami berdoa supaya beliau itu dilindungi Tuhan. Tapi Undang-Undang sudah terlalu lama sampai,” sebutnya mulai menunjukkan kekecewaannya.

Keadaan semakin riuh ketika sang Panglima Perang ini mulai mencecar Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki, dengan menyebut adanya ketidakjelasan tentang jadwal rencana pengesahan UU PPHMA.

Alex Sanggenava serahkan busur dan anak panah kepada Teten Masduki, untuk disampaikan kepada Presiden Jokowi (bataktoday/ajvg)
Alex Sanggenafa serahkan busur dan anak panah kepada Teten Masduki, untuk disampaikan kepada Presiden Jokowi (bataktoday/ajvg)

“Istimewa ini, seperti tidak ada suatu kekuatan yang menggigit. Kami dengar dari tadi, mau main-main baku tunggu. Bapak Kepala Staf Kepresidenan masih mau tunggu-tunggu DPR lagi kah? Itu sampai kapan? Kalau Bapak Presiden yang hari ini diwakili Kepala Staf Kepresidenan, di depan Kongres Masyarakat Adat, mari kita ikat janji…! Hari ini kita ikat janji…!!! Sahkan Undang Undang Perlindungan Masyarakat Adat…!!! Kita ikat dengan tanda anak panah…” seru Alex dengan suara menggelegar sambil berjalan menuju panggung, mengangkat busur dan anak panah dengan kedua tangannya tinggi-tinggi.

“Mari kita ikat janji…! Saya serahkan busur dan anak panah ini, sebagai tanda kita ikat janji…! Delapan anak panah…, delapan bulan kemudian…boleh! Mari sekarang juga kita ikat janji, sahkan Undang-Undang Perlindungan Masyarakat Adat…!” demikian teriakan Alex Sanggenafa dari bawah panggung, mengarah kepada Teten Masduki.

Di antara riuh rendah teriakan dukungan peserta kongres, Alex Sanggenafa menolak, ketika moderator dalam dialog, yaitu Anggota Komnas HAM, Sandra Moniaga, mencoba ‘menenangkan’ dengan menyebut bukan kapasitas Teten Masduki untuk melakukan suatu ikatan janji sehubungan pengesahan UU PPHMA.

Menanggapi tuntutan Alex Sanggenafa ini, Teten Masduki menolak memenuhi permintaan untuk mengikat janji. Dia menyebutkan, kapasitasnya hadir dalam kongres bukan untuk membuat janji. Oleh penjelasan itu, dari antara peserta kongres meneriakkan agar Teten pulang. Menanggapi teriakan itu, Teten Masduki terlihat sedikit emosional.

“Saya sebentar lagi pulang,” sahut Teten, dilanjutkan dengan penjelasan tentang batasan wewenangnya dalam penugasan untuk menghadiri KMANV saat itu.

Noer FaAlex Sanggenava serahkan busur dan anak panah kepada Teten Masduki, untuk disampaikan kepada Presiden Jokowi (bataktoday/ajvg)
Alex Sanggenafa terlihat bersitegang dengan Noer Fauzi Rahman, Staf Khusus dari Kantor Staf Kepresidenan (bataktoday/ajvg)

“Saya akan sampaikan kepada Presiden, tetapi saya tidak akan membuat keputusan di sini,” tegas Teten dalam tanggapannya.

Akhirnya Alex Sanggenafa menyerahkan busur dan anak panah kepada Teten Masduki untuk selanjutnya disampaikan kepada Presiden Joko Widodo.

“Saya titip salam lewat anak panah ini kepada Bapak Presiden. Sampaikan salam kami Masyarakat Adat, dengan delapan anak panah, dan dengan tuntutan,” pungkas Alex Sanggenafa seraya menyerahkan busur dan anak panah kepada Teten Masduki.

Seusai penyerahan anak panah dan busur, terlihat Noer Fauzi Rahman, Staf Khusus Bidang Pertanahan dari Kantor Staf Kepresidenan, menjumpai Alex Sanggenafa di tempat duduknya. Terjadi sedikit ketegangan, ketika Noer Fauzi menuding Alex Sanggenafa melakukan ‘aksi drama’ dalam dialog tersebut. Namun Alex menolak tudingan tersebut, dan mengatakan hal itu bukan sebuah drama, karena bukan sesuatu yang direncanakan, melainkan terjadi secara spontan. (ajvg)

#KMANV

#KongresMasyarakatAdatNusantaraV

  • Bagikan