Menteri Basuki: Infrastruktur Membuat Orang Desa Tetap di Desa

  • Bagikan
Jalan Sumbawa Besar-Dompu menghubungkan sentra produksi pertanian di Kabupaten Sumbawa Besar, Dompu dan Bima dengan Pelabuhan Badas, Sumbawa Besar. Pada Januari 2018 lalu, melalui pelabuhan ini dilakukan ekspor Jagung sebanyak 14.000 ton. Ruas ini juga memiliki spot pemandangan yang laut yang indah terutama pada saat melewati Desa Labuhan Jambu yang bersebelahan dengan indahnya Laut Flores. Untuk mendukung kelancaran transportasi untuk pemasaran hasil pertanian di Pulau Sumbawa, Kementerian PUPR terus melakukan peningkatan dan pemeliharaan ruas jalan nasional sepanjang 190 km tersebut yang saat ini kondisinya mantap 96,4%. Pembangunan ruas ini ditargetkan mantap 100% pada akhir tahun 2018 melalui kegiatan preservasi pemeliharaan rutin jalan dan jembatan dengan anggaran Rp.43 miliar. (Foto: Dok Kemen PUPR)

Jakarta, BatakToday –

Untuk meningkatkan daya saing nasional dan pemerataan hasil pembangunan sekaligus mengurangi disparitas antar wilayah, pemerintah memprioritaskan pembangunan infrastruktur, di antaranya dengan pembangunan dan pemeliharaan jalan dan jembatan.

Pembangunan dan pemeliharaan jalan dan jembatan yang menjadi kewenanganan Kementerian PUPR dilakukan di seluruh Indonesia untuk meningkatkan konektivitas dan membuka daerah terisolir.

Demikian diungkapkan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono, baru-baru ini.

“Menurut saya infrastruktur membuat orang desa tetap di desa. Misalnya dengan adanya tol Salatiga-Semarang, orang Salatiga tidak perlu lagi kos di Semarang, karena bisa pulang pergi, hanya perlu 20 menit,” jelas Menteri Basuki.

Lebih lanjut dijelaskan, pembangunan jalan di daerah yang sudah berkembang, pembiayaannya didorong melalui kerjasama dengan badan usaha (KPBU) melalui investasi jalan tol. Dengan demikian anggaran pemerintah melalui APBN dapat difokuskan pada pemeliharaan kemantapan kondisi jalan nasional dan pembangunan jalan pada daerah belum berkembang, seperti kawasan perbatasan dan Kawasan Timur Indonesia.  

Ditambahkannya, kelancaran mobilitas dengan semakin baiknya infrastruktur jalan juga mengurangi biaya logistik sehingga meningkatkan daya saing produk Indonesia.

Disamping disparitas, urai Basuki, tantangan lain yang harus diatasi melalui pembangunan infrastruktur adalah rendahnya daya saing nasional akibat salah satunya lemahnya konektivitas antar wilayah, pemanfaatan sumber daya belum optimal dalam mendukung kedaulatan pangan dan energi, serta urbanisasi yang masih tinggi.

Target dan Capaian Infrastruktur PUPR

Menteri Basuki merinci, terkait konektivitas, Kementerian PUPR setiap tahunnya melakukan pemeliharaan rutin dan rehabilitasi jalan nasional sepanjang 40 ribu Km. Untuk pembangunan jalan baru tahun 2015-2017 sepanjang 2.621 Km, akan bertambah tahun 2018 sepanjang 811 Km dan 2019 sepanjang 556 Km. Jumlah ini melampaui target Renstra Kementerian PUPR 2015-2019 sepanjang 2.650 Km.

Pembangunan Jalan tol 2015 – Juli 2018, tambahan panjang tol yang telah dioperasikan adalah 443 km, dengan rincian pada akhir tahun 2015 sepanjang 132 Km, tahun 2016  sepanjang 44 Km, tahun 2017 sepanjang 156 Km dan hingga 15 Juli 2018 telah mencapai 110 Km. (Jay/SG)

  • Bagikan