Abdon Nababan: Kembalikan Fungsi ‘Onan’ sebagai Media Transformasi Sosial

Abdon Nababan: Kembalikan Fungsi ‘Onan’ sebagai Media Transformasi Sosial

1088
Abdon Nababan (paling kanan) saat mendengarkan penjelasan salah satu pedagang tradisional di Onan Balige, Balige, Toba Samosir 13/9/2017 (Foto: Boy M Marpaung)

Balige, BatakToday

Dalam kunjungannya ke Onan Balige, Kabupaten Toba Samosir, Abdon Nababan yang baru-baru ini menerima penghargaan Ramon Magsaysay Award 2017, menyebutkan betapa penting arti onan atau pasar dalam kehidupan masyarakat adat di Tanah Batak, Rabu pagi (14/9/2017).

“Onan atau pasar sangat penting dalam kehidupan masyarakat adat di Tano Batak. Bukan hanya untuk pertukaran dan jual beli beragam kebutuhan sehari-hari, tapi juga merawat kebersamaan dan menyelesaikan berbagai masalah di tengah masyarakat adat,” sebut Abdon dalam perbincangan dengan para pedagang dan warga di Onan Balige.

Ditambahkannya lagi, perlunya membangkitkan kembali fungsi onan sebagai media transformasi sosial.

“Fungsi sosial budaya pasar ini sudah lama tidak terawat dan menghilang. Saatnya kita membangkitkan kembali fungsi sosial pasar tradisional ini sebagai media transformasi sosial di Tano Batak. Pasar tradisional harus kita tata baik ruang dan fasilitasnya sehingga bukan hanya nyaman untuk penjual dan pembeli tapi juga untuk beragam aktifitas sosial budaya yang bisa merawat kebersamaan di tengah masyarakat, bertukar inspirasi dan aspirasi dan menstimulasi kerjasama antar pelaku pasar, produsen, pedagang dan pembeli,” terang Abdon.

Abdon Nababan yang ditugasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) untuk turut bertarung dalam Pilkada Sumut 2018 melalui jalur independen, dalam bincang-bincang dengan pedagang Onan Balige, menegaskan, akan maju dalam pilkada hanya jika mendapat dukungan yang cukup dari masyarakat Sumatera Utara.

“Bagi saya, penugasan dari teman-teman yang dimulai dari aspirasi Masyarakat Adat Nusantara, khususnya Sumatera Utara, adalah sebuah amanat. Tentu kawan-kawan melihat ada sesuatu yang selama ini tidak dilakukan oleh pemimpin pemerintah di daerah ini, Sumatera Utara, yang menurut mereka akan dapat saya lakukan jika menjadi gubernur. Namun semua ini akan dapat berlangsung hanya dengan dukungan luas dari masyarakat Sumatera Utara,” ujar Abdon dengan nada merendah.

Diterangkannya, dia menerima penugasan tersebut terutama untuk dapat memberikan andil dalam mengatasi berbagai masalah di Sumatera Utara saat ini.

“Saya katakan ini lebih kepada perjuangan masyarakat melalui jalur independen, dari luar partai politik, yang berhubungan dengan penanganan masalah-masalah agraria, pendidikan, lingkungan hidup, perlindungan hak-hak masyarakat adat dan petani di pedesaan, dan tentu banyak masalah berbagai sektor lainnya yang sedang dialami masyarakat Sumatera Utara, termasuk seperti yang saya jumpai di Onan Balige, masalah-masalah yang dialami pedagang tradisional saat ini,” tuturnya.

“Di sektor perdagangan, kita melihat adanya ancaman sekaligus tantangan bagi pedagang tradisional saat ini. Bagaimana perdagangan tradisional tetap menjadi pilihan utama sehari-hari bagi masyarakat luas, di tengah ancaman pedagang modern. Kita tak dapat begitu saja menghentikan pedagang modern, tetapi bagaimana meningkatkan daya tarik oleh pedagang tradisional, harus dilakukan. Seperti di Tano Batak, onan sebutan untuk pasar, juga harus dikembalikan fungsinya, bukan hanya tempat jual beli, tetapi kembali menjadi media transformasi sosial. Kita juga sedang menghadapi masalah akses masyarakat petani terhadap ketersediaan lahan. Juga ada masalah lingkungan, bagaimana dunia usaha, terutama yang bernafaskan ekonomi kerakyatan, dapat tumbuh dan berkembang tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan hidup,” terangnya panjang lebar.

Kunjungan pada pagi hingga siang hari itu berlangsung santai. Sambil berkeliling Onan Balige, Abdon menyapa para pedagang pasar dan berhenti di beberapa kios untuk berbincang sejenak dengan pedagang.

Sebelum mengakhiri kunjungannya di Onan Balige, sehubungan dengan langkahnya untuk turut dalam Pilkada Sumut 2018, Abdon menyebutnya sebagai lanjutan dari perjuangannya selama 24 tahun terakhir bersama Masyarakat Adat Nusantara.

“Sebenarnya penugasan ini tak jauh dari kehidupan yang saya jalani 24 tahun terakhir ini, untuk memperjuangkan hak-hak Masyarakat Adat Nusantara. Menjadi seorang gubernur bukan semata-mata tentang kekuasaan, melainkan bagaimana bekerja melalui jabatan seorang gubernur demi masyarakat yang berdaulat dalam arti luas, di negerinya sendiri, di kampungnya sendiri,” pungkas Abdon Nababan. (rel/ajvg)