oleh

Akhyar Nasution: Keberagaman adalah Modal Sosial untuk Membangun Kota Medan

Medan, BatakToday –

Medan sebagai kota multikultural dengan keberagaman suku, struktur budaya, agama, adat Istiadat, serta kesenian. Keberagaman tersebut menjadi modal sosial yang begitu besar harus dimanfaatkan dalam proses pembangunan kota, sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh pihak manapun yang bertujuan negatif.

Hal itu diungkapkan Wakil Walikota Medan, Akhyar Nasution, saat membuka Focused Group Discussion (FGD) yang mengusung tema “Revitalisasi Keberagaman dan Kearifan Lokal dalam Mencegah Radikalisme di Kota Medan” di Hotel Dharma Deli Medan, Senin (24/10/2016).

Wakil Walikota menegaskan, Pemko Medan akan terus berupaya mendorong dan memperluas pengembangan pembangunan yang berdimensi sosial kebhinekaan. Artinya, bersama kelembagaan yang ada seperti Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), organisasi pemuda, organisasi masyarakat maupun lembaga adat. Pihaknya juga akan terus berupaya menjaga dan memperkokoh sikap toleransi, saling menghargai dan tertib sosial.

“Dalam program kerja yang telah disusun lima tahun ke depan, telah dirancang bagaimana menjadikan Medan menjadi kota masa depan yang multikultural, berdaya saing, humanis, sejahtera dan religius,” ujar Akhyar.

Akhyar berharap, pada diskusi tersebut muncul ide maupun masukan guna penyusunan rencana pembangunan Kota Medan yang multikultural yang lebih baik lagi pada masa mendatang.

“Untuk mewujudkan hal ini, tentunya butuh dukungan dari semua pihak untuk bersama-sama bergandengan tangan menjaga kerukunan, keharmonisan, menumbuhkembangkan solidaritas, persatuan dan kesatuan sehingga stabilitas kota dapat terjaga dan pembangunan dapat dilaksanakan,” katanya.

Politisi Partai PDI Perjuangan itu mengungkapkan, masih ada pihak-pihak yang terus saja berusaha untuk memeceah belah persatuan dan kesatuan di negara ini. Berbagai provokasi dan paham radikan coba ditanamkan pada generasi muda. Sebagai contoh, paparnya, upaya pembomam gereja oleh pemuda yang baru saja tamat SMA di sebuah gereja Jalan Dr Mansyur Medan. Lalu, penyerangan seorang pemuda umur 22 tahun terhadap aparat kepolisian beberapa waktu lalu.

“Mereka terprovokasi paham radikal yang dipelajari bukan langsung dari sumber primer maupun sekunder, tetapi melalui media sosial atau internet. Tentunya ini harus menjadi perhatian bersama. Kita tidak mungkin membendung kemajuan teknologi informasi. Kita bisa memberikan pemahaman dan pengajaran kepada generasi muda tentang ajaran agama yang benar, termasuk mengembangkan kepribadian masyarakat berdasarkan etika dan moralitas keberagaman agama dalam bingkai kebhinekaan,” ungkapnya.

Atas dasar itulah Akhyar mengapresiasi inisiatif Dewan Kota Medan yang menyelenggarakan FGD tersebut.

“Hasil dari diskusi ini nantinya akan diserahkan kepada Pemko Medan. Selanjutnya hasil diskusi ini akan kita jadikan sebagai masukan dalam menjalankan pembangunan di Kota Medan. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih. Apalagi Dewan Kota terus mendukung dan mengawal pembangunan di Kota Medan,” ujarnya.

Sementara itu Prof DR M Hatta selaku penyelenggara FGD dari Dewan Kota menjelaskan, FGD digelar untuk mengkaji berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah agar peristiwa-peristiwa radikalisme tidak terulang di Kota Medan.

“Hasil dari FGD ini selanjutnya akan kita teruskan kepada Pemko Medan,” jelas Hatta.

FGD yang dipandu Afifuddin Lubis menghadirkan Prof Dr Syahrin Harahap MA sebagai pemakalah, dan dua nara sumber utama, yakni Khairul Ghazali (aktivis) Zulkarnain Nasution (Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme Sumut).

FGD dihadiri perwakilan dari Polrestabes Medan, Kodim 0201/BS, sejumlah pimpinan SKPD, FKUB, pimpinan organisasi keagamaan, pimpinan organisasi pemuda, tokoh agama dan tokoh masyarakat. (Swan)

News Feed