oleh

Aktivis Kontroversial George Aditjondro Meninggal Dunia

Palu, BatakToday –

Aktivis, peneliti, cendekiawan dan mantan wartawan majalah Tempo, George Junus Aditjondro meninggal dunia di Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (10/12/2016) pukul 5:45 waktu setempat. Meninggal di usia 70 tahun, George menghembuskan nafas terakhirnya di depan istrinya Erna Tenge, dan anak dari pernikahan sebelumnya, Enrico Suryo Aditjondro.

George yang sejak mengalami stroke pada 2012 memiliki kesulitan berbicara, meninggal di Rumah Sakit Bala Keselamatan Palu.

George dikenal sangat kritis terhadap kekuasaan yang korup. Selama rezim Soeharto ia meneliti kerajaan bisnis “Keluarga Cendana”, sebutan populer untuk keluarga Soeharto yang tinggal di Jl Cendana Jakarta Pusat. Ia juga menulis tentang bisnis militer di Indonesia.

Sebagai peneliti dan penulis yang produktif, George, yang mendapatkan gelar PhD dari Cornell University, telah menulis puluhan buku dan ratusan makalah.  Karya dan keberaniannya untuk berbicara telah beberapakali menempatkannya dalam kesulitan. George harus meninggalkan Indonesia di penghujung era Soeharto dan pergi ke Australia dari tahun 1995 sampai 2002. Di negeri kanguru itu ia mengajar sosiologi di Newcastle University di Australia dan menjadi dosen tamu di Murdoch University.

Sebelumnya saat mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga, Jawa Tengah, ia adalah bagian dari trio kritikus yang sangat aktif pada era itu: Ariel Heryanto, Arief Budiman dan George sendiri.

Setelah kembali dari ‘pengungsiannya’ di Australia, ia menulis buku kontroversial ‘Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century’. Buku ini mengungkapkan hasil investigasinya terhadap kiprah politik SBY, dan bagaimana empat yayasan diduga membantu mengumpulkan uang untuk kampanye SBY pada Pemilu 2009.

Dalam peluncuran buku ini pada tahun 2009, ia dituduh melakukan kekerasan terhadap Ramadhan Pohan, politisi Partai Demokrat. Ramadhan mengatakan George memukulnya dengan buku.

Kritik kontroversial terakhirnya adalah pada tahun 2011, ketika ia tinggal di Yogyakarta mendampingi istrinya untuk menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam sebuah diskusi di UGM tentang kontroversi Grant Sultan, di mana Kesultanan Yogyakarta menetapkan beberapa bidang tanah di provinsi tersebut sebagai ‘Tanah Sultan’. Ia mengkritik kesultanan. Beberapa warga menuduh ia menghina sultan dan ia dilarang menempati rumahnya sendiri di Yogyakarta. Kemudian ia mencoba untuk meminta maaf secara pribadi kepada Sultan Hamengkubuwono X, namun tidak berhasil.

Pada September 2014 George pindah ke Palu setelah istrinya Erna yang kelahiran Poso menyelesaikan gelar doktor di UGM. Di Palu ia meneliti dan menulis tentang operasi militer dan polisi pada konflik yang melanda Poso. Dia bergabung dengan Yayasan Tanah Merdeka di Palu dan melakukan penelitian sebagai aktivis yayasan.

George lahir pada 27 Mei 1946 di Pekalongan, dari seorang ayah Jawa dan ibu Belanda. Sebelum Erna, ia menikah dengan Bernadetta Esti, dan pasangan ini dianugerahi seorang putra, Enrico Suryo Aditjondro. Setelah berpisah dengan Bernadetta, George, yang selalu memelihara rambut panjang ini, menikahi Erna, 60, seorang dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako, Palu. (Phil/evi)

News Feed